Thematic Apperception Night Chapter IV

Standard

A Man From Nowhere

 

“Oh God” kami berdua terperanjat kanget, kaca dari jendela besar yang tak jauh dari tempat kami berdiri tiba-tiba pecah. Dan tak lama setelah itu mulai terdengar teriakan histeris dari dalam restoran. Amber menarikku ke pojok beranda dan tetap memelukku, sambil segera memperhatikan sekitar..

Amber POV

Aku memfokuskan pandanganku ke halaman belakang yang merupakan taman kota yang tidak terlalu luas, ada seseorang yang berdiri di samping pohon. Dia berlari. Pagar beranda ini masih terkunci, kuputuskan untuk melompati pagar yang tingginya tak lebih dari pinggangku.

Aku tak ingin terlihat seperti mengejarnya, dan orang itupun berhenti di samping salah satu deretan pohon yang ada di taman ini, sepertinya ia sedang serius mengamati sesuatu. Aku hampiri dia, jangan tanya kenapa aku ingin sekali menghampiri orang itu, jika dibilang kesal, tentu, memang kurang ngajar sekali apa yang baru saja dia lakukan, tapi aku bukanlah tipe orang yang harus banyak berkomunikasi dengan orang yang tak kukenal meski ia membuat masalah denganku. Aku, entahlah, kubilang tak tahu kenapa harus ku kejar.

Seorang anak laki-laki, badannya cukup tinggi, mungkin 175 cm, berambut kemerahan, mata biru, kulit putih pucat, bayangkan saja Ron sahabatnya Harry Potter, hanya saja rambut anak ini lebih mekar dan bergelombang. Kurasa usianya tak lebih dari lima belas tahun, kemudian kutepuk bahunya.

Excusme

Krystal POV

“Am! Tidak perlu..” Haaaah percuma, dia tak bisa dilarang. Aku mendekati suara teriakan histeris di dalam restoran, lubang hasil pecahan ini cukup besar, bahkan kurasa aku bisa masuk melalui lubang ini.

Seorang wanita paruh baya sedang berteriak histeris. Ia membalikan laptopnya yang tertumpah minuman dari gelas yang cukup besar, ia mengumpat kasar dan menubrukku yang ada di ambang pintu, berlari ke arah belakang restoran.

“Hei gadis muda, tidakkah kau lihat siapa yang melemparkan bola sialan ini?” wanita itu bertanya kepadaku dengan mata melotot, sambil menjejalkan bola—bola baseball kah?— ke telapak tangannku seperti  akulah tersangkanya.

“Aku tidak yakin” jawabku singkat.

“Apa maksudmu tidak yakin, Assian?” aku mulai malas dengan orang ini, ia menekankan kata Assian sambil melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Yang kulakukan adalah mengabaikannya, mengambil barang-barangku dan barang-barang kekasihku yang ada di atas meja kami dan segera pergi menjauhi nenek sihir itu, aku berjalan ke arah kasir yang tak jauh dari pintu depan restoran ini. penjaga kasirnya beberapa kali memohon maaf kepadaku tapi aku hanya berkata “It’s Alright” dan menyelesaikan pembayaranku di kasir.

Aku segera keluar dari restoran, sedikit berlari dan memutari restoran ini untuk sampai ke belakang restoran tanpa harus berpapasan dengan orang yang tak menyenangkan itu. Mencari Amberku.

Ah, coat amber jatuh. Aku memungutnya, hmmm, apa ini? coatnya made in Korea. Selama dia tinggal di Korea sepertinya satu-satunya merek coat Korea yang ia gunakan adalah SPAO, kenapa ia menggunakan merk lain?

Kumasukan iphone dan dompetnya ke dalam saku coat bagian dalam. Eh apa ini? ada secarik kertas, hanya daftar nama dan nomer telfon juga sebuah alamat, entah alamat apa.

“Krys” suara Amber cukup mengagetkanku. Aku tak bertanya apa-apa, jika ia ingin bercerita dia akan bercerita tanpa harus ku minta. Aku hanya memberikan gesture ‘siap mendengarkan ceritamu’.

“Mmmm, hanya anak SMP, mmm, biasa, semacam anak nakal yang tak tahan untuk berbuat jahil.” Entahlah kenapa banyak ‘mmmm’ dan gerak bola bata yang kesana kemari.

“Apa coat  ini hadiah?”

“Mmm, yes, why?”

“Baiklah, by the way kusimpan iphone dan dompetmu di saku dalam coatmu”

Thank you, dear

Sebenarnya kejadian ini cukup membuat moodku buruk, tapi kuabaikan saja, pengabaian yang kulakukan untuk diriku sendiri bukan kali ini saja kulakukan, yang kuharap ini bisa jadi proses pendewasaan untukku.

Aku berjalan ke sebelah kanan restoran yang tadi kami singgahi, langkahku cukup cepat kulihat dari balik bahuku Amber berjalan cukup jauh di belakang, matanya jauh memandang ke sebelah kanan, sepertinya dia tak terlalu memperhatikan langkahnya dan juga tak memperhatikan langkahku. Kuputuskan untuk membalikan badanku. Ia menyadari aku telah berdiri terpaku di hadapannya, kemudian ia memperlambat langkahnya dan berhenti pada jarak yang cukup jauh dari biasanya.

“Kembalilah ke hotelmu, aku telah mempersiapkan perjalanan kita berikutnya”

Really??” ia maju selangkah sambil sedikit memiringkan kepalanya.

“Sebenernya bukan mempersiapkan, aku hanya ingin kau menuruti kemana aku akan pergi”

“Aku sudah melakukannya semenjak kita di Paris”

“Tapi kau tak cukup menurutiku ketika di London, kenapa tidak menginap di salah satu hotel di sepanjang jalan ini saja?”

“Hah? Bagaimana kau tahu aku tidak menginap disini”

“Untuk menginap di King’s road, tubuhmu terlalu panas dan berbau asap kendaraan, unnie. Dan sejak kapan kau menggunakan merek dalam negeri selain SPAO?” Kurasa aku gagal menahan diriku untuk menjadi orang yang lebih pasif. Kulihat Amber berusaha menjelaskan.

“Kurasa kau perlu berfikir sepuluh hingga lima belas menit untuk mendapatkan jawaban yang tidak terlalu darurat, un, kutunggu jam satu siang di London Easton” kulanjutkan kata-kataku, ia tak berkata apa-apa, hanya menatapku dengan dagu yang sedikit terangkat dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku coat, dan aku tak pernah suka dengan gesturenya yang seperti itu.

Aku setengah berlari meninggalkannya yang masih berdiri di sisi trotoar yang cukup sepi ini. aku tahu dia tak akan mengejarku dan akupun berharap hal yang sama. Hanya berjarak empat gedung aku telah sampai di hotel tempatku menginap, aku menoleh ke arahnya. Pada jarak yang tak seberapa jauh ini seharusnya aku masih bisa melihatnya dengan jelas, tapi ternyata ia sudah tak terlihat. Aku segera masuk ke dalam hotel yang berukuran tak terlalu besar ini, menikmati penghangat ruangannya, membuka coat sambil berjalan menunduk ke arah elevator.

Amber POV

Kenapa disaat-saat seperti ini otaknya masih berjalan dengan putaran yang melebihi seharusnya? Dia terlalu pandai untuk dibohongi, hal itu membuatku hampir selalu berkata jujur meski kejujuranku membuatnya tak nyaman. Kurasa Krys tahu kalau ada yang tidak beres, dia memang cukup emosional tapi dia tahu waktu kapan harus berperilaku tidak menyenangkan seperti tadi, ‘Unnie’ dia hanya akan menyebutku unnie jika sedang di depan kamera—itupun tidak selalu—atau dalam keadaan sedang marah padaku. Entahlah kenapa aku merasa kesal padanya saat dia bilang aku butuh waktu untuk tak mengatakan jawaban yang terlalu darurat, kata-katanya membuatku merasa bahwa aku sudah sering melakukan ini. Haaaaah.. tapi, kurasa memang wajar, aku telah tidur dengan Suzy, dengan jarak yang cukup jauh dari King’s road, dan coat ini.. jika ia tahu yang sebenarnya dia akan jauh lebih marah dibanding tadi.  By the way, Sorry Krys kali ini aku bersyukur kau pergi meninggalkanku, karena aku butuh waktu untuk, ini..

Kertas yang menyerupai post card ini apa? Hanya seperti percikan tinta yang ditekan oleh kertas yang terlipat secara simetris. bahkan mana bagian atas dan bawahnyapun aku tak mengerti. Pengelihatan pertamaku bentuk bagian atas (bagian atas menurutku) yang ada di sini seperti menara Eiffel, tapi terlalu abstrak.

Ada seorang pria yang memberikan kartu ini kepada anak laki-laki yang tadi aku hampiri, anak itu mengatakan bahwa wajahnya tak terlihat jelas karena orang yang memberikan kartu ini menggunakan coat berkerah tinggi hingga menutupi setengah hidungnya dan menggunakan kaca mata berwarna gelap. Dia juga mengatakan memang kartu ini dipinta oleh pria itu untuk diberikan padaku. Aku kembali ke tempat semula aku menemui anak itu, tepat di belakang restoran Galant Endeavour, duduk di salah satu pohon oak besar yang hampir kehilangan seluruh daun-daunnya. Huffffhh… aku sedang malas berfikir, aku hanya bersila di bawah pohon ini sambil memandang sekitar. Para pegawai restoran Galant Endeavour masih sibuk merapihkan dan membersihkan serpihan-serpihan kaca yang hancur berantakan.

Aku memperhatikan King’s road dari taman ini, dari sela-sela bangunan yang tidak rapat antara satu dan lainnya ini aku bisa melihat luas ke jalan raya. Ada sedan hitam yang berhenti, tak lama keluar seseorang berbadan cukup tinggi dari sedan mewah itu, sepertinya BMW. Ia berjalan beberapa langkah ke arah taman ini dan berhenti tak jauh dari pagar belakang beranda restoran kemudian menundukkan tubuhnya, aku segera melihat sekitar, dan hanya ada aku, juga pria itu. Apa maksudnya? Dia merogoh saku dalam coatnya dan memperlihatkan sesuatu kepadaku. Oh Gosh!

            “Wait, please!” aku berteriak ke arahnya, segera berdiri dan mengejarnya secepat mungkin tapi ia segera menjauhiku, tapi ia berlari ke arah mobilnya dan segera menancap gas.

What the hell are you doing?!” Percuma, kakinya jauh lebih panjang dan cepat dibanding kakiku. Shit.

Apa maksudnya orang itu melakukan semua ini terhadapku? Adakah yang mengenaliku di sini? Dia menunjukan bola baseball kepadaku dan menjatuhkan sebuah amplop di tempat ia berdiri menyapaku. Siapa dia? Jika dia jahat kenapa hanya melemparkan bola, bukan bom, atau pisau, atau menembakku? Effin’, tempat macam apa ini? bodohnya aku merasa sedikit ketakutan. Kuputuskan untuk memberhentikan taxi untuk mencapai  hotelku, ke Westbridge road. Jalanan sudah tak terlalu padat, tak sampai lima menit aku telah sampai di depan hotel. Akhirnya aku merasakan udara hangat, sambil seperti biasa memperhatikan sekitar, berjalan pelan menuju tangga naik.

Author POV

Krystal duduk di sisi kanan kasurnya, memandang kosong ke arah jendela hotel yang cukup besar, yang ada hanyalah gedung di seberangnya, tapi bukan itu yang dia lihat.

“Hufff.. Apa yang kulakukan, kenapa sulit sekali untukku menahan diri agar tak berkata-kata tak penting seperti tadi. Apa Amber marah kepadaku hingga ia pergi secepat itu? haaah..” Krystal menghempaskan tubuhnya ke kasur, perasaan menyesal dan kesal bercampur jadi satu.

“Apa sebaiknya aku menghubunginya?” Krystal meraih handphonenya mencari nomer Amber yang ia ganti sementara sesampainya ia di Eropa.

“Haaaah.. aku bahkan tak menyimpan nomornya” Krys menekan tombol hijau, setelah cukup lama, terdengar nada sambung, Krystal tersenyum, tanpa sadar hadir perasaan sejuk menyerebak di dalam dadanya, tak sabar segera tersambung oleh orang yang ia hubungi.

“Krystaaaaaal..” suara diseberang sana terdengar sangat semangat.

“Neeeee sulli, sedang apa?”

“Sedang, sebentar” Sulli berlari jauh dari orang-orang di sekitarnya. “Sedang merindukanmu, wifeyku” lanjutnya dengan manja.

“Hahahaa.. aku serius sedang apa kau, sweetheart?”

“Latihan, hey dua hari lagi kau harus segera kembali ke sini, princess, waktu liburanmu sudah hampir habis! Aku akan mengganggu hidupmu lagi, ngomong-ngomong kenapa menelponku, jam berapa di sana?”

“Iya aku akan kembali dua hari lagi, mungkin tiga hari, hehehe.. sekarang jam mmm, jam sebelas siang. Jujur saja tadinya aku mau menelpon unpa mu si Amber itu tapi sayangnya aku tak menyimpan nomernya”

“Menelpon? memang dia sedang dimana, kenapa harus di telpon? Berarti aku lagi-lagi hanya cadangan, ya! Aku sebal.”

“Intinya dia sedang tak bersamaku, sudahlah lupakan, tidak, kau tidak akan pernah jadi cadangan kau tahu dimana kau berada di hatiku”

“Aku tahu, di lantai dua, dan kau malas naik tangga untuk ke lantai dua karena di lantai satu sudah ada Ambermu”

“Sulli, kenapa kau harus seperti ini hah? Kau sering sangat malas jika Amber unnie kusebut namanya”

“Tidak kok, biasa saja, aku hanya lelah dengan pekerjaanku, apalagi ketika sedang lelah-lelahnya dan aku kembali ke dorm dalam keadaan Soo Jung yang tak bisa ku lihat membuatku.. Aaaaah aku mengantuk, good baaaam”

“Akukan memang jarang di dorm, iya aku..” tut tut.. lagi-lagi ia memutuskan sambungan telepon, dia mau tidur? Di practice room? Ada-ada saja anak itu. Tapi kasihan dia, lagi-lagi merengek hal yang tak jauh berbeda, pasti ia kelelahan, semoga Jiyoung ada untuknya.

Krystal memastikan alarmnya disetting pada pukul 12.30 PM waktu setempat, seluruh barang-barang telah ia kemasi. Ia akan berada tepat pukul satu di London Easton train station sambil berharap agar kekasihnya tak terlambat. Ia memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan, tanpa menggunakan selimut Krystal mulai tertidur sambil memeluk erat amplop yang ia temukan di depan pintu kamar hotelnya, pagi tadi.

***

Amber POV  

Aku merogoh saku dalam coatku, meraih iphone dan segera kunyalakan karena selama aku bertemu dengan Krys kumatikan iphoneku.  Hmmm, ada beberapa panggilan masuk, dua panggilan masuk dari nomer lokal, pasti Suzy, dua panggilan masuk dari Jia, juga beberapa pesan singkat dari keluarga dan teman-temanku. Pesan pertama yang ku baca adalah pesan dari Sulli, di sini hanya bertuliskan.

Segera bawa SooJung pulang, unnie, jangan apa-apakan dia selama di sana, aku tak mau SooJungku terlalu banyak kau sentuh karena kemungkinanku merebut hatinya darimu masih besar

Aku hanya membalas pesannya dengan

Hahahaa, rebut saja jika kau bisa, little bun!

Anak itu senang sekali menjahiliku setelah dia mengetahui bahwa aku benar-benar mencintai sahabatnya, Sulli bahkan tahu lebih dulu dibanding Krystal mengenai perasaanku.

Setelah aku sampai pada ujung tangga aku berbelok ke kiri, kamarku tak jauh dari situ. Ya Tuhan, tadi pagi saking terburu-burunya aku tak membawa kunci. Semoga Suzy ada di dalam kamar. Aku segera mengetuk pintu kamar.

“Suuuuz..” tok tok tok, tak ada jawaban. Aku mengetuknya lagi dan memanggil namanya beberapa kali, masih tak ada jawaban, hmmm, semoga saja nomer lokal yang tadi menghubungiku benar-benar nomer Suzy, kuputuskan untuk segera menghubungi nomer itu. Tak lama terdengar nada sambung.

Ne, unnie..”

“Kau sedang dimana, Suz, aku sudah sampai di depan kamar”

Jinjja? Cepat sekali kencanmu..”

“Hehehe, aku akan segera pergi ke tempat lain, Suz?”

“Maksudmu kau akan segera meninggalkanku? Hmmm aku kesepian lagi berarti. Aku sedang di Battersea Park, kesinilah, un, tempat ini sangat indah”

“Jauhkah? Sebaiknya aku naik kendaraan atau berjalan kaki?”

“Terserah kau, sekitar lima ratus meter, untuk jarak segitu biasanya kau berjalan kaki atau naik kendaraan?”

“Baiklah, akan ku pikirkan apa aku berjalan atau naik taxi, sampai bertemu”

“Iyaa..”

Hanya lima ratus meter, jika berjalan kaki hanya butuh waktu sepuluh hingga lima belas menit. Aku berjalan cukup cepat saat menuruni tangga dan melalui lobby hotel yang luas ini. Sambil berjalan seperti biasa aku mengaktifkan GPSku, hah? Apa-apaan ini? besar sekali Battersea park, luasnya mencapai delapan puluh tiga hektar. Untuk sampai ke sisi taman ini dari Westbridge road memang hanya lima ratus meter tapi bagaimana jika aku harus menemui Suzy di tengah-tengan taman ini, kakiku bisa patah. Iphone ku bergetar, ada pesan masuk dari Suzy

Aku tunggu di depan Pump House Gallery.

 

Aku tak membalas pesannya, tapi segera menghentikan taxi di depanku.

“I want to go to Pump House Gallery in Battersea Park, sir”

            “Absolutely, do you want me to take you right in front of the Gallery? If yes you have to pay some cost about 2 euros”

            “No need sir, just take me to the nearest way, I’ll walk to the gallery”

            “My pleasure, Son” Son? Baiklah ini bukan pertama kalinya aku disebut Son, bahkan orangtuaku sudah lelah menjelaskan bahwa kedua anaknya adalah perempuan, yang membuat kakaku terlihat perempuanpun hanya rambutnya yang cukup panjang. Bukan salah mereka juga, aku dapat mengerti dan tak mempermasalahkan hal itu.

Di perempatan jalan kami lurus, melewati Parkgate road, di sini cukup ramai, sepertinya daerah perkantoran, tapi tetap tertata dengan indah. Tak jauh dari situ kami menemui perempatan jalan lagi, lurus dan tak jauh dari situ langsung belok ke arah kanan, disini tertulis Carriage Dr W, hahaa entah kenapa dinamakan seperti itu. Waaaah.. sepanjang jalan ini benar-benar hanya pepohonan-pepohonan besar, meski daunnya sudah banyak yang gugur dan berwarna kuning kemerahan, tapi pesona dari tempat ini tidak luntur sama sekali, aku segera membuka jendela taxi ini, membiarkan angin menerpa wajahku, sudah lama aku tak datang ke taman seperti ini, tempat umum lebih tepatnya.

“Son, we’ve arrived” -______- baru saja aku bernorak-norak ria ternyata aku sudah sampai di tempat.

“Follow the avenue about 200 meters and you will find the gallery in the right side. have a good day, Son”

            “Okay, thanks, Sir” aku memberikan uang senilai dengan argo yang terpampang dan segera berjalan cepat menuju gallery, Oh God, menyenangkan sekali! Benar-benar menyenangkan, taman ini luasnya bukan main, aku bersyukur menggunakan soft lensku hari ini. Di sebelah kiriku terdapat lapangan rerumputan luas menyerupai padang golf yang indah, di sebelah kananku terlihat sports center, I really want to do sprint! Hahaha..

Aku kembali di hadapkan pada deretan pepohonan di kanan dan kiriku. Banyak anak-anak dan ibunya yang sedang asik bermain di lapangan yang berada di sebelah kiriku, aaaah menyenangkan sekali di sini, mmm ngomong-ngomong dimana gallery itu, aku menoleh ke sebelah kanan dan terlihat bangunan yang tak terlalu besar tapi, waaaah.. semacam puri tua..

Aku berlari kecil ke arah gallery itu, memandangi bentuknya dan entahlah aku merasa aura yang cukup gloomy, dengan cuaca yang terhitung cloudy dan udara dingin yang membuat tempat ini menjadi terasa berbeda. OMO! Si empat dimensi Suzy sudah berdiri bersandar disamping kiri Gallery, dia menggunakan coat hitam sebawah lutut, tapi booth suede dan kerah coatnya berarna senada, merah darah, dengan rambut panjangnya yang terurai, dan kulit putih pucatnya, dia benar-benar seratus persen vampire.

Aku segera menghampirinya yang sedang berdiri bersandar dan dengan wajah tertunduk.

“Jangan coba-coba menakutiku, Suz”

“Hahahahaa, apakah aku terlihat seperti vampire?”

“Sangat!” aku berjalan ke balik punggungnya, menggulung rambut indahnya dan memasukannya ke dalam coat.

“Hei apa yang kau lakukan?” Protesnya sambil memegang kedua belah tanganku.

“Kau benar-benar menyeramkan!”

“Kau penakut sekali, un, hahaha” ia menggandengku ke belakang gallery ini, aku pasrah mengikuti langkahnya yang cukup cepat, melalui pepohonan-pepohonan tua yang sangat besar-besar ini hingga aku sampai ke tempat yang terang.

Ohh my..” indah sekali, kemana saja aku selama berjalan ke sini, di balik gallery ini ternyata terdapat danau yang sangat jernih, banyak burung-burung yang terbang lalu lalang di atas danau ini, pepohonan yang mengililingi danau ini tercermin dengan jelas di atas permukaannya, benar-benar indah.

“Kemarilah, aku sudah memesan perahu untuk kita” Hwaaaah, really, this is.. awesome!

“Ayo naik!” saking terpesonanya aku dengan tempat ini hingga tak menyadari bahwa Suzy sudah di atas perahu kayu dayung berukuran kecil sambil mengulurkan tangan kepadaku untuk segera menghampirinya.

“Kau yakin kita akan mendayung mengelelilingi danau luas ini?”

“Tak perlu mengelilingi ini, un, kita dayung saja semampu kita, jangan bilang kau takut air, hehehe” Suzy terkekeh geli.

“Kau tahu aku bisa berenang dengan baikkan? Satu satunya yang perlu kau khawatirkan adalah dirimu, kau tak bisa berenang” dengan sedikit ragu, tapi mau tak mau aku menaiki perahu itu, duduk berhadapan dengan Suzy, dan mulai mendayung tak tentu arah. Tapi aku mulai menikmatinya. Ia berkali-kali berusaha agar aku mau menceritakan kencanku degan Krystal, tapi apa yang bisa kuceritakan? Ciuman bodoh yang kulakukan dengan Krys? Bola baseball yang menghancurkan jendela? Keributan kecil yang terjadi antara aku dan Krys atau pria misterius yang memberiku kartu tak jelas itu? Tak ada satupun yang layak ku ceritakan, haaahhh..

Sebagai gantinya Suzylah yang banyak bercerita aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, cerita yang dia ceritakanpun lumayan menjadi hiburan untukku di senggang waktu yang bisa ku habiskan di tengah-tengah ibu kota ini.

“Mmm, un..”

Yes

Suzy terlihat membalikan badannya.

Coatku basah”

“Tercipratkah?”

“Entahlah” aku menarik tubuhnya ke arahku untuk memeriksa apa yang terjadi. Blub blub blub.. shit shit shit!

“Kurasa kita dalam masalah, Suz” tepat dibawah tempat suzy duduk terdapat lubang yang membuat air masuk dengan cepatnya, dan tak ada kabar baik yang bisa kusampaikan, karena kita tepat di tengah danau, dan tak ada satupun perahu berpenumpang disekitar kita.

Unnie aku takut, kenapa banyak sekali kesialan yang ku dapatkan selama di sini?”

“Ini bukan yang pertama kali??” sempat-sempatnya aku bertanya.

“Bukan.” Ia menjawab dengan pasti sambil menatap dalam ke arah mataku. Ada yang tidak beres di sini.

TBC

Advertisements

11 responses »

  1. annyeong.. sebelumnya aku kurang tertarik sama ff ini coz jujur aja aku tuh JungLi shipper hehe :),
    Tapi setelah baca aku jd suka.. gaya bahasanya bikin aku berasa lagi baca novel ^^.. Lebih suka lagi krn ada jungli yg sesekali nyempil 🙂
    Oke deh ditunggu chap berikutnya.. Hwaiting 🙂

    • oooooh tenang sajaaah, jungli gak sekedar nyempil di beberapa chapter kedepan, kekekek.. kamu bakalan terpuaskan oleh jungli hahaa. happy reading 😀

  2. yaah apa mksdnya? Ksialan apa? Kasian suzy. Siapa laki2 yg ngasi surat ama amber? Apa isinya? Krystal juga dpt ya? Siapa yg beri samanya? Hubungan kryber pasif, amber trlalu pasif utk mengungkapkan prasaannya. Lbi ekspresif sulli. Tp kekny sulli sukak deh ama krystal bukan hnya skedar sahabat. Pnasaran gw ama klanjutannya. Nice story. Smangat thor.

  3. “jgn tanya knp aku melakukan ini, hny pengen aja” kalimat kesukaan amber( or author). Paling suka sama kalimat “Aku tahu, di lantai dua, dan kau
    malas naik tangga untuk ke lantai dua
    karena di lantai satu sudah ada
    Ambermu”.oya maksud ‘si empat dimensi’ maksudnya gmn karakternya?

  4. Kesialan??!! Mang suzy dpet sial apa slma di eropa?? Bkin pnsran ja
    Krystal emang posesif ya ampek tau klau amber nyembunyiin sesuatu bisa berabe nih lok dia tau amber skmar sma suzy jdi isi kimbab dah si amber –”
    Ah knpa amber pasif gtu sih ntar lok krystal kelain hati gmn coba smoga aja enggak kkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s