Shadow (One Shoot)

Standard

Hallo semua, gue cuap-cuap di awal cerita gakpapa ya. Semoga gak ngerusak mood kalian, hehe. Seperti yang kalian tahu kalau sebenernya gue lagi hiatus (break nulis) sampai beberapa bulan ke depan. Tapi ini Desember, dan karena gue suka banget sama Desember jadi let me write a little thing for you. One shoot, dan warning! Ini bukan cerita romance! Ini.. something strange. Jadi ada kemungkinan kalian bosen saat baca ini, apa gausah dibaca aja? Ahahaha..

Mmmmh.. sejujurnya ini cerita yang gue tulis ulang, cerita aslinya gue tulis pas gue SMA, buset berapa ratus tahun yang lalu itu, hehe.

Ohya, tahu lagu Shadow nya f(x) di album pink tape? Kalau udah tahu itu lagu cocok banget sama cerita ini. Kalau ada yang belum tahu, weits diragukan nih fans f(x) atau bukan, ahaha canda.. kalau ada yang belum tahu coba didengerinlah, kece banget lagunya, ‘sakit’ sih sebenernya itu lagu tapi keren banget. So begitu saja, selamat menikmati ya…

27f48cd4143911e390e422000aeb0b4d_7

SHADOW

Psychologically lunacy, emptiness, panic, delussion that the moment will last forever. -Krystal Jung, 2013-

“Mpppphhh.. Amh.. berh..” ia meremas pinggulku dengan lembut, sedangkan wajahnya tenggelam di sudut leherku, menghisapnya pelan.. membuat salivanya membasahi kulitku. Damn it.. tangan kirinya mulai meremas perutku sedangkan tangan kanannya meremas paha bagian dalamku.

Bukk!! Terdengar suara pintu dibanting dengan keras. Oh no! dia lagi! Dengan mata besarnya ia memelototi kami.

“Kalian ini sangat, sangat, sangat menyusahkanku!!!” ia menarik rambutku dan kerah Amber. Kami tetap diperlakukan seperti itu hingga bertemu dengan wali kelas kami. Please, this is too much.

“Kutemukan lagi mereka berdua di rooftop, Mr. Yang. Kurasa percuma kau memisahkan kamar mereka, masih terlalu banyak tempat untuk mereka berbuat mesum!”

“Terimakasih Kang Jiyoung, silahkan kembali ke kelasmu” ucap wali kelasku. Kang Jiyoung tersebut menabrak bahuku, asshole!

“Kancingkan bajumu, Krystal Jung, orang tuamu sedang menuju kemari”

WHAT? You going to kill me?” aku berteriak di hadapannya. He’s an idiot or something.

I’m leaving” ucap Amber sambil berjalan keluar.

“Ya! Amber! Amber Liu!”

“Diam!” bentak Mr. Yang sambil menggebrak mejanya. Who the hell you are old man? Ku sunggingkan senyumku untuknya.

“Sampaikan salam untuk orang tuaku, jika kau sudah tidak sanggup mendidikku, keluarkan saja aku dari sekolah ini.” Aku berjalan cepat, mencari Amber si bajingan itu. Kulihat jam tanganku, lima belas menit sebelum bel pulang sekolah. Kuputuskan untuk masuk ke dalam toilet.

Hey, rascal! Kenapa kau meninggalkanku begitu saja huh?”

“Kau ingin aku berkenalan dengan orang tuamu? Kau bilang orang tuamu tidak menyenangkan.”

DUK! Kutendang tempat sampah yang berada tak jauh dariku. Seluruh sampah tersebut berhamburan keluar.

“Fuck you, Chinese!”

“So fuck you too, Korean”

W-what? Dia berani-beraninya mengatakan hal tersebut padaku? I hate her! Aku keluar dari toilet. Beruntung sekali, tak jauh dari sana aku bertemu seorang petugas cleaning service.

“Hey hey, seseorang di dalam toilet menendang tempat sampah dan membuatnya sangat berantakan, lebih baik kau menyuruhnya merapihkan sendiri” hahaha, beruntung sekali aku ini. Tak lama terdengar suara bel pulang sekolah, shit! Aku lupa kalau guru kimiaku ini cukup tegas padaku, ah whatever, kuputuskan untuk meninggalkan kelas tanpa mengambil tasku terlebih dahulu.

Aku berlari keluar gedung sekolah, sekolahku merupakan boarding school khusus wanita. Hhh aku benci semua orang! Ku sebrangi jalan besar di depan sekolahku dan masuk ke dalam coffee shop yang biasa kusinggahi.

Huh? Pegawai baru?

“Buatkan aku mocha hangat” ini bukan coffee shop modern dimana petugasnya hanya menuangkan kopi dari dalam mesin. Tapi mereka meraciknya sendiri.

“Satu lagi, tak usah terlalu manis” aku duduk di salah satu kursi sederhana yang terdapat di dekat jendela, aku ingin memastikan orang tuaku keluar dari dalam sekolah sehingga aku bisa kembali masuk ke dalam dorm dengan tenang.

“Ini mochanya, adalagi yang bisa ku bantu?” aku tak menjawabnya dan segera meraih cangkir putih di depanku dan menyeruput mochanya.

“SHIT!” fuck fuck fuck, bibirku melepuh, ku bawa cangkir tersebut dan berjalan ke arah pelayan baru itu.

“Aku bilang hangat, dan kau bilang ini hangat?? Bibirku melepuh karenamu!”

“Ma-maafkan aku. Aku sudah mencampurnya dengan air dingin..”

“Habiskan, habiskan mocha ini!” bentakku kepada pelayan tersebut, ia menggelengkan kepalanya.

“Kubilang habiskan atau kusiram ke wajahmu!” orang bodoh tersebut meraihnya dan meminumnya perlahan.

“Habiskan cepat!” setelah melihat orang bodoh tersebut meneguknya, aku berjalan keluar. Oh, aku lupa bayar. And who’s care?

Aku berjalan ke arah bus stop dan menunggu bus untuk pergi ke suatu tempat. Kuharap kedua orang tuaku tak dapat menemukanku disini. Kupasang earphone ku dan memutar musik, guns and roses, all songs. Good for me, the bus comes in perfect time, ketika mobil orang tuaku keluar dari gerbang sekolah. Bye mom, dad semoga selamat sampai tujuan. Aku masuk melalui pintu belakang dan duduk tak jauh dari sana. Hmmm? Si Amber itu menghubungiku? Apa yang ingin ia katakan? Meminta maaf dan mengajakku melanjutkan aktivitas kami di atas rooftop? You wish! Aku mereject panggilannya. Bus stop ketiga dan, turun..

Berjalan menuju gedung teater besar di hadapanku, membuka pintu kaca besar di hadapanku, dan berjalan cepat menaiki tangga memutar dengan karpet tebal berwarna maroon sebagai alasnya.

“Miau.. miauu..” kucing gemuk berwarna kelabu tersebut selalu mengeong jika aku menaiki tangga ini.

“Peaches, aku benci kucing kelabu itu” ucapku pada temanku yang sudah sampai terlebih dahulu di ruang latihan ini.

“Billy?” tanyanya.

What? Do you think I know it’s name?”

“Kau benci semua hal, Krystal. Hewan yang sudah mati saja masih kau benci”

“Siapa yang mati? Look! Dia masih menatapku dari ujung sana”

You better find a doctor, Jung. Tak ada apa-apa di sana.” what is she talking about? Aku berjalan ke arah ruang ganti, melepas seluruh pakaianku dan mengenakan stocking, baju ballet ku yang berwarna cian kemudian kukenakan sepatu balletku.

“Cepat lakukan pemanasan, Krystal.”

You talk too much” aku segera melakukan pemanasan.

-Seven Hours Letter-

Petit jete! Lima belas menit.” perintah guru balletku, dan ini sudah pukul sebelas malam.

“Turunkan bahumu, Krys, pointe!” bentaknya hingga bergema di ruangan besar ini. Hanya ada aku, Peaches dan dia.

“Aku lelah” ucapku sambil meraih tas tanganku dan pergi begitu saja meninggalkan mereka. Mereka tak menahanku, mereka tahu kapasitasku. Sembari berjalan keluar, kuambil coatku dari dalam tas dan mengenakannya, melepas sepatu balletku dan menggunakan convers classic ku yang sudah mulai kusam. Aku berjalan cepat, menuju tempat favoritku, taman kota.

Aku berlari kecil untuk mencapai bangku yang biasa kududuki, aish! Kakiku pegal sekali, kulemaskan tubuhku di atas bangku tembaga ini, memandangi air mancur yang masih saja hidup meski malam sudah sangat larut.

“Nanananana nananaa..” aku mulai bersenandung tak menentu dan memejamkan mataku, membaringkan tubuh di bangku panjang ini dengan tas tangan sebagai alas kepalaku. Eugh.. kuluruskan tulang punggungku, sambil sedikit memijat leherku.

“Ding.. Ding.. Ding..” Hhhh.. Suara apa itu? Aku enggan membuka mataku, namun suara itu tak berhenti sama sekali. Aku bangkit dan menoleh ke arah suara tersebut, ada seseorang di bangku taman yang tak jauh dariku.

Aaaah shit! Kenapa harus ada orang lain di tempat ini? Aku tak ingin mengambil resiko, ku rogoh tasku dan segera mengambil semprotan merica kalau-kalau orang ini tiba-tiba saja menyerangku. Suara dentingan yang ia buat sangat mengganguku, aku butuh ketenangan! Kumohon.

Ding.. ding.. ding.. Hm? He just stopped it? Oh my gosh, dia menoleh ke arahku. Oh no! aku melompat dari bangku dan berdiri tegak.

Wh-who the hell are you?” aku tertegun dengan pemandangan di depanku, oh a girl. Rambutnya halus berwarna hijau tembaga, matanya biru terang, kulitnya? K-kulitnya bercaya.

“Ewh, disgusting, I mean is that glowing skin vampire is real? You are v-vampire?” tanyaku padanya.

Stupid, I hate that ‘Edward Cullen’ too” jawabnya dengan suara yang sangat sempurna.

So what are you?” tanyaku sambil mundur beberapa langkah.

“Aku sedang berakting menjadi manusia, apa aktingku buruk?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya, oh gosh, she’s so freaking cute.

“Ti-tidak juga, kecuali mata dan kulitmu yang terang itu” jawabku sambil menunjuk dirinya, ia perlahan maju berjalan ke arahku.

Forget it, I’m just a human like you. Tubuhku hanya memiliki kadar fosfor yang berlebihan.” Ucapnya tenang, kuhentikan langkah mundurku.

“Fosfor? Hahahaa.. sounds strage, semacam satu keluarga di China yang ditubuhnya mengandung magnet?” tanyaku penasaran.

Yea, something like that” ucapnya yang kini duduk di atas kursi kesayanganku.

“Fyuuuuh. Kukira aku bisa melihat hal-hal yang tak perlu terlihat. Okay, I’m leaving” am I too nice to her? It’s because she looks so beautiful, no.. she’s fffffreaking awesome! Oh, feels like I want her. Kuraih ponselku, Amber memberikan pesan singkat untukku.

I want break up

What? Dia berani-beraninya memutuskan hubungan kami? Itu adalah tugasku, bukan dia. Kuketik pesan balasan untuknya

Go fuck yourself!

Lagi pula, wanita fosfor itu terlihat menarik. Aku menoleh ke belakang. Shit! Dia di belakangku.

“Kau juga.. akan pulang?” tanyaku padanya.

“Yeah, by the way I’m Sulli” I always get what I want!

“Krystal. Anyway.. Datanglah ke gedung theater kota sabtu malam ini. Aku akan tampil disana.”

“Ballerina?” tanyanya, kami berjalan di bawah jajaran lampu sehingga kulit dan matanya tidak terlalu terlihat bercaya.

“Mmm yeah. Bagaimana kau tahu sabtu malam nanti adalah jadwal pertunjukan ballet?”

“Aku sudah membeli tiketnya” No! Dia sudah memiliki kekasih, I don’t care anyway. I’ll do the show perfectly, dan siapa yang tak ingin menjadi kekasih bintang ballerina yang ia nikmati penampilannya? But she’s a girl, she must be.. hetero.

“With boyfriend?” tanyaku.

“Auhm.. girlfriend acctually” a-ha!

“Lesbian?” tanyaku kembali.

Not so that lesbian, just want to try something new, khekhe” hahaa.. what-a-per-fect-night-!!!

“That must be fun. I’ll see you..” aku tak perlu banyak berbicara, aku hanya memberikan senyum terbaikku untuknya. Kenapa keberutungan senang sekali menghampiriku? Aku kembali berdiri di bus stop dan menunggu bis yang pasti akan datang, dalam hitungan satu.. dua.. tiga.. see? Let’s go to the dorm!

**

Errr kenapa pagi ini dingin sekali? Kutarik selimutku hingga menutupi wajah.

DOK DOK DOK!!

“Krystal Jung, cepat keluar! Dua menit lagi upacara bulanan akan segera dimulai, turun atau bersihkan toilet seluruh asrama!” ucap ketua asrama tersebut, dasar gendut, selain tak enak dipandang kau juga tak enak didengar, mmmh kenapa kepalaku terasa sakit? Kuraih coatku, tanpa membersihkan diri sedikitpun aku turun dengan cepat menuju lapangan asrama. Entah apa yang orang-orang bodoh ini lakukan setiap bulan, berdiri di cuaca sedingin ini menghormati tiang besi dan kain lusuh yang berkibar tanpa keindahan sedikitpun.

Hhhh.. perutku masih perih sejak semalam, aku baru ingat kalau terakhir kali aku makan adalah sarapan 24 jam yang lalu. Aku juga pulang larut malam setelah latihan selama tujuh jam. Dan sepertinya tak ada yang mengenakan coat setebal yang kukenakan. Hw.. huek.. Oh come on! Lututku lemas sekali.. tubuhku mulai berkeringat namun aku semakin merasa kedinginan. Amber, some-someone please help me..

BUKK

**

“Hhhhhhhhhhhh.. hhhhh.. hhhhh.. hhhhh..” Gosh, ku kedip-kedipkan mataku. HAH? EFFIN’! A-aku masih di lapangan dorm hingga senja seperti ini? Aku pingsan? Namun tak ada yang membantuku? FUCK! Kemana si Amber itu??

Aku mulai berdiri, menatap langit yang berwarna jingga kemerahan, warna senja yang paling kubenci, terlalu menusuk mata. Aku berjalan ke arah tangga menuju kamarku. Tunggu.. aku pingsan selama hampir sepuluh jam? Kulihat jam tanganku.

Eugh.. it’s broken! Ketiga jarum jam tanganku lepas dari porosnya. What time is it? Aku kembali berlari kecil menaiki anak tangga, aku masuk ke dalam ruang tv lantai dua untuk melihat jam dinding di ruangan ini. Huh? Mereka tak memiliki jam dinding? Aku kembali menaiki tangga menuju lantai tiga.

Hollyshit.. kemana semua jam dinding di gedung ini? Okay just go to my room, aku berjalan cepat menuju kamarku. Kenapa dorm ini sepi sekali? Kubuka kunci pintu kamarku dan segera masuk ke dalam, dan.. jam dinding di kamarku juga rusak, persis seperti yang terjadi dengan jam tanganku. What is it? Aku diteror oleh seseorang? Hhhh? Ku kunci pintu kamarku, kemudian aku masuk ke dalam toilet. W-why? Kenapa cermin di toiletku penuh dengan debu? Kuputar keran wastafelku namun tak ada air yang mengalir.

Oh dear lord, ku buka pintu toiletku kemudian berjalan perlahan ke arah balcon kamarku

Wuuuuushh.. angin senja menerpa wajahku. Aku berputar berlahan, sedikit demi sedikit.

Senjanya jingga kemerahan

Pembatas balconnya berdebu

Kuraih segenggam daun kering dari sudut balcon dan semuanya hancur di tanganku

Gedung asrama yang besar ini terlihat hampa, tak bernyawa.

Tak ada siapapun, di sini.

Aku berlari keluar kamar, mengetuk pintu kamar sebelah.

Hallo, An-Annabelle.. Annabelle open the door please” aku beralih ke pintu di sebrangnya.

“Tracy, hallo.. Tracy are you there?” Aku menggedor semua pintu kamar di lantai ini, tak ada satupun yang membukakannya untukku. Detak jantungku berdegup kencang, aku berlari ke gedung B, menuju kamar Amber. Aku memiliki kunci kamarnya, ku buka pintu kamar Amber.

“Amber.. Am.. hhhhh.. Amber..” No Amber here, Amber.. please where are you? Where are everybody?

Kuberanikan diri untuk berlari keluar dorm ini.

Oooh Darn God!

Apa yang sedang terjadi? Ada, kerusuhan? Peringatan bencana? Atau..

Jesus Freaking Christ

Aku berdiri tepat di depan gerbang asramaku. Kemana seisi kota ini? Hhhh? Seluruh kulitku merindinding hebat. Mommy.. Daddy.. Please, come back here, pick me up, please..

What’s going on?

Aku harus kemana?

“Anybody’s here?”

“Anybody’s Here??”

“ANYBODY’S HERE???”

Suaraku bergema, tubuhku mulai gemetar.. aku berlari kembali ke kamarku, kurasa itu adalah satu-satu tempat yang aman untukku. Aku berlari dengan lutut yang semakin melemas. Segera kuraih gagang pintu kamarku dan menutupnya rapat. Aku naik ke atas ranjangku yang berdebu, menarik selimut hingga menutupi kepalaku. Aku tahu ini hanya mimpi buruk, aku tahu. Dengan tubuh yang masih gemetar, kupejamkan mataku, kupaksa diriku untuk segera tidur.

**

Mhhh.. tenggorokkan terasa sangat kering. Kubuka selimutku dan bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan ke arah balcon. Gosh why?.. nothing’s change. Langitnya tetap sama, dan daun-daun keringnya semakin banyak. Aku berlutut lemas. Really, what is it?

Apa aku telah meninggal dunia dan ini tempat baru untukku? Anyone please, anything please come to me, jika aku memang sudah mati, tidakkah Yesus menghampiriku? Tidakkah ada malaikat yang membawaku ke suatu tempat? Aku lebih baik di neraka, setidaknya aku tak sendiri dan aku tahu apa yang terjadi. Ini terlalu tidak masuk akal.

Aku berjalan perlahan ke arah kamar mandi, kembali membuka wastafelnya.. berharap aku dapat menemukan air disana. Tapi aku tidak beruntung, hanya serpihan karat yang jatuh berhamburan. Apakah orang mati kehausan dan kelaparan?

DOK DOK DOK DOK DOK DOK

Kuketuk kembali seluruh pintu di lorong dormku satu persatu, berjalan cepat menuruni tangga, kemudian berlari ke arah sekolah. Anginnya berhembus kencang namun tak terasa seperti angin musim gugur, suhunya normal. Kubuka pintu ruang musik, menghampiri piano dan memainkan satu buah lagu Beethoven.

Suara pianonya terdengar lebih keras dibanding biasanya, aku bangkit dan berjalan keluar, menghampiri satu persatu anak tangga menuju roof top.

Anybody’s here?” suaraku benar-benar terdengar serak. Aku telah tiba pada anak tangga terakhir. Mendorong pintu besi di hadapanku, here I am.. di atas roof top yang setiap hari kusinggahi untuk sekedar bersenang-senang dengan si bodoh itu, hhh bahkan kini aku sangat merindukannya. Angin disini berhembus lebih kencang, mengacak rambutku yang panjang, menerpa kulitku yang pucat.

Kini aku di sisi gedung, memandangi sekeliling gedung sekolahku yang hampa. Kulihat langit yang jauh lebih hampa, jingganya tak memudar, sama sekali. Sinar ultra violetnya memaksa menerobos masuk melalui pupilku, sayangnya aku tak tahu apakah pupilku telah kehilangan fungsinya atau masih dapat membesar dan mengecil sesuai dengan jumlah cahaya yang memasukinya.

Kutekan dadaku, berusaha merasakan sesuatu selain ketakukan yang mulai berubah menjadi kegilaan. Ya Tuhan, aku kebingungan. Tidakkah Kau dengan Halo di atas kepala Mu menghampiriku dan menjemputku ke suatu tempat? Tidakkah kau memberiku tangga putih ke atas langit dengan iringan lagu-lagu Enya?

Atau jika Kau tidak menyukaiku, tidakkah kau memberiku tempat di neraka? Setidaknya aku tahu sedang dimana, setidaknya aku tidak sendiri disana. Anyone, anything please come to me, please..

Untuk terakhir kalinya ku pandangi gedung sekolahku dan yang terlihat hanyalah keheningan yang amat nyata, keheningan yang sesekali dibubuhi oleh musik dari angin yang bahkan suhunya tak kukenali.

Aku kembali menuruni tangga, bahkan tak ada seekor seranggapun yang terlihat disini, atau rayap, atau apapun. Oh Lord, I’m thirsty..

Aku berjalan menyusuri 11th street menuju suatu tempat. This is the worst nightmare. Suara angin yang kudengar berubah menjadi halusinasi-halusinasi singkat yang membuat lunacy ku semakin menjadi. Awh shit! Sandalku putus. Aku melanjutkan perjalananku hanya dengan sebelah sandal di kaki kiriku. Debu pasir di sepanjang trotoar ini terasa lembut, lebih lembut dari pasir putih pesisir barat. Kulihat jajaran gedung yang rata-rata hanya berlantai tiga di sepanjang jalan ini, semuanya benar-benar terasa tak bernyawa. Hingga dari rongga-rongganya angin disini bisa menimbulkan nada, nada yang menegaskan kesendirianku.

Atau ini permainan Tuhan dimana aku harus berjalan hingga menemukan seseorang? Apa aku semacam Eva yang harus mencari Adam? Tidak lucu.

Here I am, di taman kota tempat favoritku. Yang kutahu pasti di sini ada kolam besar, ya.. ada air. Kupercepat langkahku untuk mencapai kolam tersebut, yet.. I found nothing. Tak ada air, bahkan ilmuan mengatakan mereka pernah menemukan air di planet mars, lalu aku sedang dimana?

Aku berjalan ke arah bangku taman kesayanganku, tak terasa rumput di telapak kakiku. Huh, setidaknya bangku ini masih berada di tempatnya, hanya saja jauh lebih berkarat dan warna hijaunya sudah memudar. Ku baringkan tubuhku di atas bangku kesayanganku, kuharap inilah permainannya, aku tak perlu berjalan selama bertahun-tahun. Untuk kedua kalinya, sebelum aku kehilangan kesadaran, kuyakini diriku bahwa ini.. hanyalah mimpi buruk.

Tenanglah Krystal Jung.. ini hanya mimpi buruk. Setelah ini kau akan bangun dan melanjutkan hari-harimu.

**

DING..

DING..

DING..

DING..

DING..

Haaaaaaah?

“Is anyone here?” aku langsung berdiri tegak. Aku berputar 360 derajat untuk mencari sumber suara tersebut.

DAMN IT! The sky is darker than before!

Langitnya

Gelap

Hollyshit, berarti benarkan? Aku hanya ketiduran di taman ini dan bermimpi buruk kemudian terbangun dengan sempurna! Oh Gosh.. really.. mimpi buruk tadi benar-benar hampir membunuhku. Krystal Jung, you are just the luckiest bastard! Sudah jam berapa sekarang, pasti sudah dini hari, kuangkat tangan kiriku dan memfokuskan pandangan pada jam tanganku.

DEG!

Ke-ketiga jarum jam tanganku, lepas dari porosnya? Effin’

Aku menoleh ke belakang dan air mancurnya tak menyala, ku hampiri kolamnya dan.. kering.

Hhhhhhh.. bruk!

Tubuhku lemas tak berdaya, aku berbaring di atas tanah retak ini kembali? Sss-sssh-shit. Aku mulai terisak, namun tak ada satu butirpun air yang keluar dari mataku…

DING..

DING..

DING..

DING..

DING..

WUUUUUUUUUSHHHH..

“Hai, Jung” Oh No! Hell NO! seseorang, se-sesuatu hinggap di atas tiang lampu taman.

“Bagaimana kabarmu, huh?” ia berjongkok di atas sana sambil memangku dagunya di atas tangan kanannya, sa-sayapnya sesekali mengepak. Sayapnya sangat lebar.

“K-kau siapa?” tanyaku gemetar, ku kuatkan diriku untuk merubah posisiku menjadi duduk tegak di atas tanah.

“Kau lupa aku?” ia lompat dari atas tiang lampu, namun sayapnya menahan laju kecepatannya, ia turun dengan ujung jari kakinya yang tak menyentuh tanah. Kulihat wajahnya.

“Sulli! Oh my God, is that you?” mataku membulat, mulutku menganga melihat, melihat Sulli dengan bentuk yang seperti ini.

“Yea itu nama panggianku, kau mau tahu nama asliku? I’m Jullien, nice right?” ucapnya sambil sedikit mengepakkan sayapnya yang besar. Ugh kepakan sayapnya membuat debu-debu dan pasir di sekitarku terbang berhamburan.

Yeah, it’s really nice, Jullien. Kau tak memiliki nama belakang?” tanyaku, berusaha santai.

“Oh pertanyaan bagus, Jung. Bagaimana jika Jullien Jung? JJ?” ucapnya sambil melipat tangan indahnya di depan dada.

Sounds great” aku tersenyum getir.

“Sayangnya aku tak memiliki orang tua, jadi aku tak memiliki nama belakang, hanya Jullien. Anyway, Jung.. aku sangat suka nama yang diberikan oleh Penciptaku. Indah sekali namaku ya, Jung? Jullien.. Jullien.. Julien..”

“Penciptamu? Jesus or something?”

Or.. Something..”

“Kau malaikat? Jadi aku sudah mati? Kau penjemputku? Kemana kau akan membawaku? Neraka? Apa neraka itu buruk?”

“Hahaha.. may I postpone all answers?” ia menapakkan kakinya yang bercahaya di atas tanah.

“Kuharap neraka tak lebih buruk dari sebuah loker penuh dengan kaos kaki berbau busuk dan aku harus masuk ke dalamnya, Jullien.”

“Ewh, itu neraka versi Flying Dutchman di animasi Spongebob Square Pants, right?”

“Uh huh, jadi malaikat juga menonton itu?”

“Aku tahu segalanya Jung, aku tahu segalanya. Bahkan aku tahu kau suka disentuh dibagian mana oleh Ambermu itu” ucapnya sambil mengedipkan matanya yang biru berlian.

“Kau tahu segalanya? Bukankah yang tahu segalanya adalah Tuhan? Kau Tuhan?”

“Tidak, tidak.. Tentu saja aku bukan Tuhan. Aku tahu atas izin-Nya. Dan pengetahuanku dapat hilang atas seizin-Nya pula, Jung” aku tak meresponnya.

“Jung, kau tahu kenapa aku kemari?” ia melanjutkan kata-katanya.

“Menjemputku dan memasukkanku ke dalam neraka. Tapi Jullien, aku mati karena apa?”

“Jung kau belum mati, aku hanya sedang merusak fungsi livermu. Kau hanya sedang ‘berjalan-jalan’ dan membuat penawaran denganku”

“Maksudmu di dunia nyata aku sedang sekarat?”

“Jung kau pandaaaai sekali. Mudahnya begini, anggap saja aku adalah guardian angelmu. Jung jika kau mati sekarang, maka kau akan diberikan tempat yang miliaran kuadrat kali lebih buruk dari keadaanmu saat ini. Tapi jika kau hidup kembali kau bisa memperbaiki hidupmu”

“Sudah kubilang kau malaikat kiriman Tuhan!”

“Pssst, tak perlu terlalu sok tahu, Jung” ucapnya sambil sedikit mengerucutkan bibirnya yang merah mawar.

“Apa yang harus kulakukan agar aku bisa kembali ke dunia nyata, Jullien?”

“Mudah sekali. Kau hanya perlu melakukan dua hal”

“Katakan, apa itu?” aku berusaha berdiri di hadapannya.

“Mudah sekali, Jung. Berjanjilah padaku untuk jadi gadis yang baik” ucapnya

I will” ucapku spontan.

You will?” ia menatapku ragu.

Yea I will! Apa satu lagi?”

“Uh sorry, aku dipanggil oleh Penciptaku. Sampai bertemu lagi, dilain waktu dan Jung.. sepertinya aku bosan disini. Pergilah ke tempat lain, aku akan menemuimu disana. Tidurlah malam ini.” Jullien mengepakkan sayapnya yang besar dan lebar. Eugh ku tutup mataku, menghindari debu pasir yang berhamburan akibat sayap mahluk indah itu.

Jullien sudah tak terlihat sama sekali. Aku bahkan sudah merindukannya. Langit perlahan kembali berwarna jingga, kuputuskan untuk kembali ke bangku tamanku, membaringkan tubuh disana. Aku akan tidur untuk ketiga kalinya di dunia yang aneh ini. Sampai bertemu lagi ya Jullien yang indah.

**

Jullien Bilang sampai berjumpa di tempat lain karena ia bosan di taman kota, dan ia tak pernah datang ketika aku di asrama atau di sekolah? Baiklah, kuturuti maunya. Aku berlari kecil sembari menunduk, masih belum terbiasa dengan dunia yang menyeramkan ini. Kubuka pintu kaca besar di hadapanku dan menaiki tangga memutar yang biasa kulewati.

“Miau.. Miauu”

“Haaaa? Kau selalu menyambutku disini ya, mmm.. Billy?” aku sedikit ketakutan mengingat ucapan Peaches yang mengatakan kalau Billy ini sudah mati. Maka aku berlari menjauhinya, menuju ruang latihan ballet terbesar di kota ini.

“Hallo Jullien, aku sudah di sini. Kemarilah” ucapku sambil berjalan ke arah ruang ganti. Kubuka loker milikku namun tak kutemukan tas pakaianku. Aku kembali ke ruang latihan.

“Gosh!” kulihat Jullien tersangkut di perapian.

“Ah, bulu-bulu sayapku yang cantik” keluhnya, kulihat bulu-bulu sayapnya berjatuhan. Aku hanya berdiri terpaku memandanginya membersihan diri.

“Tidakkah kau ingin membantuku, Jung?” tanyanya sambil merapihkan rambutnya yang berwarna hijau tembaga.

“Tidak” jawabku singkat.

“Kau lupa akan janjimu untuk menjadi anak baik?”

“Kau ini Santa Claus atau apa sih? Menyuruhku menjadi anak baik, masuk ke dalam ruangan melalui perapian..”

“Aku, hanya ingin mencoba apa yang Santa Claus lakukan” ucapnya dengan langkah ringan yang cantik, Lord kakinya indah sekali.

“Jadi Santa Claus memang ada?”

“Tidak, tidak ada” huh, dia ini membuatku bingung.

“Jullien, aku harus apa untuk kembali ke dunia nyata kembali?”

“Selain kau berjanji harus jadi anak baik, satu lagi.. buatlah dirimu kehabisan napas di dunia sementara ini, maka kau akan bernapas dengan baik di dunia nyatamu”

“Maksudmu aku harus bunuh diri? Menceburkan diri ke laut atau semacamnya?”

“Tak ada air disini” ucap Jullien sambil sedikit mencoba tarian ballet, tidak buruk, sama sekali tidak buruk.

“Lalu, aku harus menggantung leherku?” tanyaku sambil mengikuti gerakan ballet yang ia lakukan.

“Tak perlu begitu, kau akan melotot dan mulutmu akan menganga, jelek sekali” ucapnya sambil melakukan putaran lambat di udara.

“Lalu Jullien, aku harus bagaimana?” aku melakukan hal yang sama, berputar di udara.

“Berlarilah ke arah rumahmu, berlarilah hingga batas kemampuanmu, berlarilah hingga kau benar-benar kehabisan napasmu, okay?” ia memberikan saran yang cukup baik.

“Apa nanti di dunia nyata, aku masih bisa menemuimu?” tanyaku sambil berdiri tegak di hadapannya.

“Aku akan selalu di sampingmu” ucapnya dengan mata sedikit sendu.

“Kau akan menjadi Sulli di dunia nyata? Sulli yang kutemui di taman kota? Sulli yang akan datang ke pertunjukkan balletku?”

“Ups, aku terlalu banyak berbicara. Aku di panggil kembali oleh Penciptaku. Jung, tepati janjimu dan lakukan apa yang tadi kuperintahkan padamu, aku tak diperbolehkan menemuimu lagi disini. Jika kau nakal lagi, kau akan dikembalikan lagi kesini dan tanpa keberadaanku, sepanjang waktu yang sangaaaaat lama kau akan dibiarkan disini sendiri sampai akhirnya kau akan diberikan tempat baru yang jauh.. jauh lebih buruk.  Ingat itu Jung, jadilah anak baik, bye..” ia melompat ke jendela besar di depanku dan melucurkan tubuhnya ke atas langit, seketika ia tak terlihat lagi.

“Julli.. sampai bertemu lagi, okay?” aku melambaikan tanganku, aku merindukan Jullienku.

WUSSSSSSSSSHHH..

“Ah Jullien, kau kembali lagi?” aku berlari menghampirinya. Bukan, dia bukan Jullien. Rambutnya, pakaian dan sayapnya berwarna hitam legam sedangkan matanya berwarna kuning emas.

“Aku bukan Jullien” ucapnya dengan suara yang sedikit serak.

“Aku tahu” jawabku.

“Jullien menyampaikan pesan untukmu, jangan sampai ia datang menjemputmu untuk kedua kalinya di dunia nyata. Karena itu bukan pertanda baik”

“Tapi Jullien bilang dia akan selalu di sampingku”

“Tapi dia seharusnya tak terlihat olehmu, anak baik” hishhh mahluk hitam ini malah menyebutku anak baik.

“Baik, pergilah..” aku mengusirnya.

Setelah mahluk itu pergi aku berpikir sejenak. Jadi intinya Jullien tak akan kulihat lagi? Kalaupun aku melihatnya lagi itu bukan pertanda baik? Itu tandanya ia sedang dalam rangka menjemputku kembali untuk ke dunia ini?

Baiklah, Amber itu tak terlalu buruk, aku bisa memperbaiki hubungan dengannya, aku bisa bertemu orang tuaku, bermain bersama Peaches dan mencoba untuk menjadi.. orang baik? Okay.

“Waktunya hampir habis, Krystal Jung. Sekarang atau tidak sama sekali” What?! Aku langsung berdiri dan berlari cepat menuruni tangga, keluar ke arah utara, menghampiri rumah orang tuaku. Aku berlari secepat mungkin tanpa alas kaki.

Hhhhhh.. Ayolah Krystal, setidaknya kau harus sampai pada gedung pemerintahan di depan sana. Aku terus berlari, kakiku mulai terasa sangat pegal namun aku masih bisa meraih napasku. Entahlah sudah apa saja yang kuinjak, aku tak boleh berhenti berlari. Oh fine, aku mencapai gedung pemerintahan dan di depan sana jalan sedikit menanjak.

Kutapaki jalan menanjak ini dengan sekuat tenaga, mengangkat kakiku untuk terus mempertahankan irama lariku.

Eugh.. hhh.. hhh.. laju lariku sudah sangat melamban, come on Jung, teruslah berlari. Aku masih dapat sedikit demi sedikit berlari menanjak sampai akhirnya menyusuri jalan menurun, aku tak bisa mengendalikan kakiku lagi.

Bukk

Awh, kupegangi lututku namun kembali bangun dan berlari. Pandanganku sudah gelap dan tubuhku mulai terasa dingin, aku, harus, tetap, ber-la-ri..

**

“Hhhhhhhhhhhhhh” aku menarik napas dalam, apa ini? Ada masker oksigen di mulutku.

“Ya Tuhan kau bangun, anakku”

“Puji Tuhan dia telah bangun”

“Krystal kau bertahan..”

Semua menangis di hadapanku, ada apa sih?

**

Aku berjalan ke arah kelas sambil mengunyah permen karetku. Mengedipkan sebelah mataku kepada Amber yang berdiri di depan kelasnya. Amber menyunggingkan smirknya yang manis. Ah jika saja si Jullien itu nyata tak akan kukembalikan diriku pada Amber si culun itu, namun sejauh ini memang dialah yang terbaik. Kumasuki ruang kelasku, seperti biasanya aku datang setelah guru memasuki kelas.

“Buang permen karetmu, Jung” ucap guruku, maka aku melepehkannya keluar dari mulutku saat itu juga dan menempelkannya ke rambut salah seorang murid di kelas ini, bahkan aku tak tahu namanya, hanya saja rambutnya terlihat kering dan kusam, sekalian saja kutempeli permen karet. Dan entahlah kenapa guruku ini tidak marah padaku, selalu.. keberuntungan selalu menyertaiku.

Aku duduk di kursi kedua dari belakang dan melepas earphoneku, meski aku membenci guru ini, namun aku menyukai pelajaran yang ia bawakan, bahasa jepang. Aku cukup mendengarkan guru tersebut dengan mata tertutup dan semua pelajaran yang ia berikan bisa tercerna dengan baik olehku. Ku tenggelamkan wajahku di dalam tangan yang terlipat di atas meja.

“Sebelum kelas dimulai, saya akan mengenalkan murid baru terlebih dahulu ya anak-anak.” mmmh.. sasaran empuk. Aku senang dengan kata-kata ‘murid baru.’

“Masuklah nak” ucap guru tersebut.

“Whoaaa..” seluruh murid bersorak ramai, entah apa yang sebenarnya terjadi. Terdengar seperti mereka menyukai murid baru tersebut.

“Silahkan perkenalkan dirimu nak..” ucap guru berkacamata tebal tersebut.

“Terimakasih Mrs. Parker” Hmmm..?

“Selamat pagi semuanya” Eummm..

“Selamat pagiii…” jawab semua murid di kelas ini.

“Selamat pagi Krystal Jung” s-shit.

“Perkenalkan nama saya.. Julli, Jullien Jung”

Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

DEG!

Kuangkat wajahku dari atas meja. Ia tersenyum padaku, mata biru berlian itu. Aku berdiri tegak dan mundur beberapa langkah. Tubuhku gemetar hebat dan keringat dingin mengucur dipelipisku.

“Kau baik-baik saja saudariku? Krystal Jung?”

Hhh.. Holly crap!

 

 

FIN

Advertisements

34 responses »

  1. aduuh udah lama g mampir kesini apa kakak yg punya wepe masih ingat g ya /.\ . terakhir mampir pas YON chapter 2 atau 3 -__-itu jg udh smpat atau dibaca tuh chapter #plakk ._. , oneshootnya keren >..< kenapa pake hiastatus sh u.u lumutan dah nih wepe ama readernya 😐 udah ah bye ~~

  2. weeeh krystalnya luar biasa sekaliiii aku pacarin sini biar jadi anak baik haha :p aku jd keinget sama cerita2 komik jepang yg serial lepas dgn genre sci-fic.
    bagus sop, tetep gaya bahasanya kamu banget :))
    And as usual, ff mu selalu keren xD

  3. makanya jung berubahlah jadi anak baik, ini dikasi kesempatan malah berulah, hehehe jadi dijemput balik kan..
    kembalilah thor jangan kelamaan hiatus..
    d tnggu ff lain nya

  4. sukaaaaa
    suka bgt ma ni ff rapi critanya keren jg misterinya ngeri ngebayanginnya
    bisa bgt kak nulisnya secara gak sadar ngajak readers buat ikut ke dalem ceritanya *kayaknya aku doang sih yg lebai
    tapi beneran kak q bacanya mrinding seakan2 ada di dalem ceritanya *ini seriuuuuus pake bgt
    apa emg anak psi kalo nulis cerita pasti bagus ya kak??
    kak aish juga keren ffnya

    • hahaa kebeneran di kelas aku dan aish emang banyak yang suka nulis ampe bikin blog warung sastra gitu isinya sekitar 7 orang. ih asik ada yang bener-bener masuk ke dalam cerita seneng deh haha

  5. Krystal jung,,, wow asik, imajinasi gw melebar,, awal cerita bikin penasaran dan menjurus #favorit ….
    jgn lama2 fie mau lanjut ya,, request ya banyakin tuh cerita kaya di awal td,, ahahahaha

  6. Yaaah beneran fin ni?
    Aduhhh masih pengn lanjutin, krystal jung ama amber liu cocok jd lesbian ko,Hhhe gw dukung deh
    Tp sayangnya gw ga tau lagu shadow, Lgsng donlot deh,
    Makasih thor cerita lo asli bikin gw seakan2 ada di dunianya krystal,, ttp kreatip ya

  7. shodow genrenya apaan?mirip kaya chicklit ya. Buat w yg AWAM ama genre kaya ginian,bahasa slangnya itu t’kesan radikal. Tp w suka critanya,ada pesan moralnya: klo qta ga suka ama org,qta ga plu marah2,mencak2,or ngasih respon sama kaya dia. Qta b’doa aja smoga dia dpt mimpi buruk yg bs ngerubah karakter (-). Bahasa kerenya smoga dpt hidayah. Setuju???
    Genre psikologi dah di Tan,romance di Yon, horor (?) udah di shadow,ntar genre apa lg?angst, crack fic, supernatural,sci-fic or apa?ini yg namanya anak muda harapan bangsa,suka eksplorasi n tantangan…

  8. eh ini yang nulis kak sofi manis itu ya? wekekekekek
    anyway, gue udah komen ya di WA, tapi gue harus komen lagi di sini. FF lo… (Y). gue suka sama gaya bahasa yang bitchy dan sarkastis si Krystal. Penggambaran karakter lo juga gokil. hahaha…

    Mau buka yang lain lain akh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s