An Envoy to the Open Field (Oneshot)

Standard

fx-amber-768x450

k_08

red-light-teaser-sulli-9

An Envoy to the Open Field

 

Krystal POV

“Sulli ah..” kupanggil nama orang di sebelahku dengan suara lemah.

“Hum?” ia sedang berbaring dengan kedua tangan di atas dadanya, memandang ke arahku.

“Kau ini fansku, kan?” ucapku dengan wajah serius.

“Haha tentu saja, wae?” jawabnya, aku terus membuka puluhan halaman materi kuliahku, besok adalah ujian terakhir masa kuliahku. Sedangkan Sulli, ia baru saja menyelesaikan tugas akhirnya.

“Tak apa, aku hanya merasa tak ada lagi yang menyayangiku, Sull.” Aku menarik napas dalam kemudian menghembuskannya.

“Aku menyayangimu..” ucap Sulli. Aku bangkit dan membenahi seluruh barang-barangku yang berserakan.

“Kau mau pulang, Jung Soojung?” aku mengangguk, terlalu berat untukku mengeluarkan kata-kata pada saat ini. Aku benci duniaku.

Aku berjalan cepat ke arah halte bus, Sulli berjalan di belakangku. Entahlah kenapa dia hampir selalu berjalan di belakangku, langkahnya lambat sekali.

“Itu Busmu, Sulli. Naiklah” Aku tahu dia tak akan naik bus sebelum aku naik bus, padahal busnya hanya datang tiga puluh menit sekali.

“Kau hari ini terlihat bad mood sekali, ada apa Jung?” ia menggigit bibir bawahnya dan menatapku, menunggu jawabanku.

“Sudah kubilang, aku tak suka duniaku. Bahkan.. Amber..” Amber..

“Kenapa, Amber?” tanyanya tanpa ekspresi.

“Dia.. Dia selalu, ahhhh entahlah. Bisku datang, apa besok kau ke kampus?” Sulli menarik tanganku, dan menaruh sesuatu di dalam genggamanku. Sulli mengangguk, sedangkan aku berlari naik ke dalam bis.

Syukurlah bisnya tidak terlalu penuh, aku dapat duduk nyaman di sisi jendela bus. Kubuka genggaman tanganku dan melihat apa yang diberikan Sulli barusan, oh beberapa bungkus cokelat matcha. Aku menyimpannya di dalam ranselku.

Amber.. aku kembali teringat padanya.. haruskah kau memiliki teman sebanyak itu? Kau pandai sekali membuatku cemburu. Kutahan air mataku, aku marah sekali padanya.

Sulli POV

Kuhempaskan tubuhku di atas kasur, kenapa Amber itu lagi? Aku selalu ingin tahu apa yang dirasakan Soojung terhadap Amber, tapi aku tak siap dengan jawabannya. Tak akan pernah siap. Delapan belas September.. aku merogoh kantung celanaku dan menatap pada selembar kertas kecil berisi saldo tabunganku. Aku tersenyum getir, hampir tak bersisa. Kuraih ponselku.

Kau sudah sampai rumah? Tanyaku melalui wassap, tak akan terlalu cepat dia menjawab.

Sudah, kau? Oh cepat juga dia menjawab pesanku.

Aku sedang tiduran saja jawabku, aku menunggu apa dia akan membahas cokelat matcha pemberian dariku? Dia diam.. kemudian hilang. Kenapa.. kenapa aku harus mencintai orang semacam ini? Ingin rasanya kulempar ponselku.

Tak lama ponselku bergetar, Krystal membalas pesanku.

Aku juga, mari tidur. Goodnight, Sull napasku kembali terasa ringan, aku tersenyum dan membalas pesannya semanis mungkin. Aku bangkit dan meraih handukku, sebelum aku keluar dari kamarku, kutatap wajahku di cermin. Kulihat wajahku yang sedikit tersenyum padahal beberapa menit yang lalu hampir saja kulempar ponselku, hebat sekali Sulli, hebat sekali.

***

Hari sabtu, hari dimana seharusnya aku menikmati kasurku lebih lama dibanding biasanya. Tapi tidak sabtu ini. Ini pukul enam dan aku sudah menggunakan kemeja putih dan celana hitamku. Kuraih ranselku yang terasa sangat berat.

“Aku belum membuat sarapan, Sull. Mau kemana kau pagi-pagi begini?” tanya Ibuku. Aku meraih roti tawar di atas meja makan dan mulai mengunyahnya. Ibuku seharusnya sudah tahu apa yang kukerjakan pada sabtu pagi ini. Aku hanya memberikannya senyum dan berpamitan dengannya. Aku berjalan di atas trotoar yang sepi, kenapa tak ada yang olah raga? Setelah kusadari ternyata pagi ini dingin sekali, daun-daun berguguran di atas kepalaku, tentu saja ini pagi di musim gugur.

GUK GUK GUK dua ekor anjing menggonggong ke arahku, wajar karena hanya aku yang melintas di depan rumah mereka, kulempar sisa roti di tanganku ke arah dua anjing itu, nah kini mereka berebut makanan. Ah busku! Aku berlari sebelum bus tersebut meninggalkanku, pintunya masih terbuka aku langsung lompat ke dalam bus.

“Terimakasih” ucapku kepada supir bus ini. Tak lebih dari sepuluh penumpang di bus ini tapi hampir kukenal semua wajah-wajah mereka, mereka satu kampus denganku namun aku tak peduli, kusumpal telingaku dengan earphone dan mulai mendengarkan lagu-lagu kesukaanku.

Di halte berikutnya bus ini berhenti dan menaikkan penumpang. BUK. Seseorang duduk di sampingku, fuk! Masih banyak bangku yang kosong kenapa malah duduk di sampingku? Aku melirik ke arahnya, A-Amber? Sejak kapan dia tinggal di daerah ini? Dan untuk apa dia duduk disini? Aku masih menatapnya sinis namun ia malah membuang mukanya ke arah lain. Kupasang hoodieku dan memejamkan mataku…..

“Kampus Dongguk!” aku terbangun dan segera bangkit, baru kusadari kalau Amber sudah tak di sampingku, cepat sekali dia turun. Aku berjalan cepat ke dalam gerbang kampus, sudah terlihat beberapa orang disini, tak jauh dari taman kampus sudah berjajar 200 booth berwarna putih, hari ini kampusku membuka job fair yang cukup meriah. Kulewati satu persatu booth di kanan dan kiriku, nah itu boothku, nomor 29. Aku masuk ke dalam boothku dan mulai merapihkannya, memasang taplak meja, menyiapkan ratusan pulpen souvenir pendaftar di boothku dan mengeluarkan 1000 lembar flyer berukuran A6 dari dalam tasku. Kemana Kangji? Sampai aku selesai merapihkan booth ini dia belum juga datang.

“Maaf aku telat. Sudah rapih sekali, ada yang bisa kubantu?” aku hanya membukakan kursi lipat di sampingku dan menggeser ke arahnya. Sekarang pukul delapan pagi, dan pengunjung akan mulai berdatangan pada pukul sembilan pagi.

“Kau sudah sarapan, Sull?” tanyanya sambil membuka kotak makannya. Aku menangguk. Namun ia tetap menyodorkan kotak makannya ke arahku, aku menggelengkan kepalaku.

“Sudah lama kita tidak bertemu, kau masih marah padaku?” tanya Kangji sambil menaruh susu kotak rasa cokelat di atas pangkuanku. Aku meraihnya dan membuka kartonnya.

“Kalau aku masih marah, itu artinya aku masih menanggapmu” Ucapku.

“Lalu kau sudah tak menanggapku?” mata besar Kangji terlihat sedikit sayu.

“Memang apa lagi yang kau harapkan dariku?” tanyaku.

“Tak ada kecuali kita tetap bisa dekat, meski tidak seperti dulu. Ohya bagaimana Chrystal-mu?”

“Dia akan mundar-mandir di sekitar sini”

“Akhirnya aku bisa juga melihat orang yang membuatmu gila”

“Kau yang membuatku gila lebih dulu, Kangji” lalu kami tertawa.

Booth yang kami jaga merupakan perwakilan dari perusahaan franchise restoran sushi yang sudah memiliki lebih dari lima puluh cabang di seluruh Korea. Aku pernah bekerja menjadi admin di kantor pusatnya yang berada di Apgujeong. Selama aku bekerja disana sering sekali aku diminta bekerja di luar untuk menjaga booth dan membagikan flyer lowongan kerja seperti yang kulakukan saat ini. Meski aku sudah tak bekerja tetap disana, aku masih sering dipanggil untuk bekerja paruh waktu. Disanalah aku bertemu Kangji, perempuan pertama yang menyadarkan bahwa ‘straight’ is bullshit. Dia berkata, selama hidup pasti kita pernah mengagumi, menyayangi, merindukan, atau sangat menginginkan seorang wanita, tapi hanya sedikit yang mau mengakui mungkin saja itu cinta.

“Cepat sekali habisnya, ternyata kau masih sangat suka susu cokelat itu, ya?” yang kutahu susu ini hanya ada di Supermarket –dengan produk dari—Australia yang hanya ada di dekat rumahnya.

“Kau hanya membawakanku satu?” dia menyodorkanku satu buah plastik putih berukuran sedang berisi satu, dua, tiga. Delapan kotak susu?

“Ya! 10 kotak susu ini setara dengan seperempat gaji kita hari ini. Jangan buang-buang uang!” ucapku sambil membuka satu kotak susu yang baru.

“Huuum, hanya seperlima gaji kita. Gaji freelancer naik.” Oh dengan senang hati aku akan sering menjadi seorang freelancer untuk perusahaan ini.

“Hai kau peserta Job Fair ini? Kukira kau hanya akan jadi pengunjung. Boothmu Sudah siap?” Soojung dengan polo shirt panitia berwarna merah berdiri di depan boothku. Aku berjalan menghampirinya.

“Apa?” tanyanya.

“Ini” kuberikan satu kotak susu cokelatku kepadanya.

“Terimakasih, tapi boleh kutitip dulu disini?” jawabnya sambil menaruhnya di atas mejaku dan segera bergegas ke booth sebelah. Selalu, selalu mengecewakan!

“Kau mencintai orang seperti itu?” tanya Kangji, shit dari mana dia tahu kalau dia adalah Soojung. Aku bahkan tak memberitahunya kalau Soojung adalah panitia acara ini.

“Sejak kapan aku mencintai orang dengan mudahnya mau mencintaiku, Kangji?” rasionalisasi, padahal jika sejak awal Soojung membalas perasaanku, aku yakin itulah masa paling membahagiakan sepanjang hidupku.

Peserta sudah mulai berdatangan, aku meraih setumpuk flyer dan mulai membagikannya kepada para pengunjung. Kangji ini cantik sekali, hal itu memudahkan kami untuk tak diabaikan saat membagikan flyer.

“Seperti biasa, flyer di tanganmu pasti laku keras, Sull” ucap Kangji sambil mengedipkan sebelah matanya, ternyata kita berpikir hal yang sama.

***

Pesertanya sangat ramai, acara selesai pukul lima sore, namun aku baru sampai di rumah pukul tujuh malam. Melelahkan tapi setidaknya isi tabunganku bisa bertambah. Aku melihat ponselku, ada pesan dari tempat kerjaku

Terimakasih bantuannya, Sull. Bisakah besok kau membantu kami mensortir CV para pelamar hari ini?

Sebenarnya aku lelah, namun dengan senang hati aku menerima pekerjaan tersebut. Sebelum aku tidur kubuka display picture Soojung, ehm…

Kau sudah sampai rumah? Ada chat dari Soojung, aku langsung tengkurap dan membalas cepat pesannya.

Sudah, Kau?

Baru saja, apa hari senin kau ke kampus, Sull?

Jadi dua minggu ini aku benar-benar tak memiliki istirahat, aku tak tahu bagaimana mengatakan ‘tidak’ kepada gadis ini.

Sepertinya ya, kau belum tidur?

Dia tak menjawab pertanyaanku, pasti sudah tertidur. Kubuka google chrome dari ponselku dan membuka beberapa web yang sudah kubookmark. Hari senin aku akan menerima 50.000 won dari hasil kerjaku pada akhir pekan, dan aku memiliki sekitar 20.000 won ditabunganku. Aku masih butuh sekitar 20.000-30.000 won lagi. Sial dari mana lagi aku bisa mendapatkan uang? Apa sebaiknya aku hubungi, mmm ayahku? Sepertinya, mau tak mau, meski istrinya—bukan ibuku—yang akan mengangkat telfon dariku, kurasa aku akan tetap menghubungi ayahku. Dia selalu memberikan uang setelah aku hubungi. Kumatikan lampu tidurku dan mulai mendengarkan musik-musik pengantar tidurku, selamat malam Soojung.

A Month Latter

“Aku berangkat dulu” Ucapku pada Ibu sambil masuk ke dalam mobil sedan hitam buatan tahun 1996 ini. Hari ini adalah hari lahir Soojung, kini aku menuju rumahnya. Aku akan sampai ke rumahnya sekitar pukul sembilan pagi, kulajukan mobilmu dengan cukup cepat. Daun-daun berwarna kuning, cokelat, dan merah berterbangan di sepanjang jalan yang kulalui, aku suka udara pagi ini. Dingin, menusuk namun terasa bersih dan menenangkan.

Hari ini aku akan mengajak Chrystal-ku pergi ke tempat yang selama ini ingin dia datangi. Perjalanan yang akan kami tempuh akan menghabiskan waktu sekitar lima jam dari Seoul. Banyak sekali yang ingin kukatakan dan kulakukan hari ini, entahlah apa aku siap untuk melaksanakan semua niatku, sudah kurencanakan ini sejak tiga bulan lalu, sejak kuketahui bahwa Soojung ternyata…

Ini belokkan terakhir ke rumahnya, Woa! Dia sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Ia mengenakan jeans biru muda dan sweater berwarna broken white. Tumben sekali, biasanya dia selalu menggunakan pakaian berwarna gelap. Chrystal-ku benar-benar cantik hari ini, kubukakan pintu mobilku dari dalam, ia masuk dengan senyum canggungnya.

Sangeil chukha hamnida! Sangeil chukha hamnida! Sarang haneun Soojungie.. Sangeil chukha hamnida! Yeeey..” aku bernyanyi dengan suara yang masih terdengar berat.

“Terimakasih..” Ucapnya sambil segera memasang seat belt.

“Akan kuberikan kado ulang tahunmu nanti, setelah kita sampai disana..” ucapku, wajahnya terlihat semangat, Soojung mengangkat dua ibu jarinya.

“Aku kurang tidur semalam, bolehkan aku meninggalkanmu tidur? Jika kau bosan, bangunkan saja aku” aku menangguk. Ya memang sebaiknya dia tidur saja, akhir-akhir ini kami sedang kehabisa topik pembicaran. Aku memandanginya berkali-kali, dia memang bukan yang tercantik namun dialah yang memakan hatiku, juga memenuhi isi kepalaku. Kulajukan mobilku dengan lebih cepat, 120km/jam.

***

Kami sudah sampai, Soojung bahkan menolak turun ketika aku berhenti di rest area. Dia terlihat benar-benar kelelahan. Aku keluar dari mobilku, menarik napas dalam, sejuk sekali. Tempat ini adalah tempat yang selalu Soojung sebut-sebut, Boseong Green Tea Field. Provinsi penghasil utama green tea di Korea Selatan, tempat ini benar-benar indah, bukit-bukit kebun teh hijau yang di kelilingi oleh hutan pinus, jalan-jalan meliku yang tak banyak dilewati oleh kendaraan bermotor, dan anjing-anjing liar yang berlarian di sekitar perkebunan ini, kulihat juga beberapa kali penjaga kebun mengusir anjing-anjing tersebut. Aku suka sekali berada disini, aku duduk disisi bukit tertinggi disini, kupandangi pedesaan di bawah sana. Sepertinya menyenangkan tinggal di daerah ini.

Aku berharap Soojung menikmati tempat ini sampai senja nanti, aku harap aku bisa melakukan rencana A-ku, karena aku juga memiliki rencana B. Kurasakan detak jantungku dengan telapak tanganku, kenapa detaknya masih saja terasa normal. Kuingat-ingat lagi rencana B-ku, kemudian kuingat apa-apa saja yang membuatku berani merancang rencana tersebut. S-sial kurasakan kedutan di sudut bibirku, kenapa aku malah tersenyum? Ya, jika sekali saja Chrystal-ku menyebut nama Amber, aku tak akan memiliki sedikit keraguan untuk menjalankan rencana B-ku.

“Sulli..” Soojung memanggilku, aku berdiri dan menghampirinya.

“Sejuk sekali disini, Sull..” aku tersenyum dan mengikutinya berjalan mengitari kebun teh hijau ini.

“Ewww, ada ulat! Ternyata kebun teh hanya indah dilihat dari jauh ya, kalau dari dekat penuh akar dan batang yang tak rapih, jalan setapaknyapun lincin dan lembab..” DEG, lagi-lagi. Dia berhenti berjalan dan berbalik arah.

“Kau mau kembali?” tanyaku.

“Ya, kita duduk saja di tempat kau duduk tadi, egh..” kami berjalan kembali ke tempat semula, aku duduk di sampingnya. Mungkinkah dia berterimakasih padaku?

“Kenapa napasku malah terasa sesak, aku lemas sekali hari ini. Maafkan aku, Sulli.. Sungguh aku suka tempat ini tapi bolehkah aku tidur lagi?”

“Apa kau merasa kurang sehat, Soojung?” dia hanya mengangguk dan membaringkan tubuhnya di atas rumput dan.. ia tidur begitu saja. Aku berlari menuju mobilku, aku segera masuk melalui pintu belakang, BAK BAK BAK!

Kutinju jok mobilku berkali-kali. Apa yang kau mau dariku, Soojung? Kau benar-benar tak berguna! Tanganku gemetar lalu kutinju sekali lagi jok mobilku dengan lebih keras. Krak. Penyangganya patah. Aku berbaring dan menahan air mataku. Apa? Air mata? Sejak kapan air mataku bisa mengalir keluar seperti ini? Kutenangkan diriku dan meraih dua pil tidur dari dalam tasku. Kupasang alarm dua jam dari sekarang…

“Sulli, Sulli bangunlah! Hari sudah senja” hm?

“Sudah pukul lima, Sull..” Oh, hanya empat menit sebelum alarmku berbunyi.

“Kau mau pulang sekarang, Jung?” tanyaku.

“Yaaa.. mau pulang jam berapa lagi kita? Syukurlah tadi Amber menghubungiku jadi kita bisa bangun, aku senang sekali dia menghubungiku, Sull.”

Am-ber………………..

Akhirnya dia menyebut nama itu juga.

“Tapi Soojungie, aku belum memberikanmu hadiah. Bisakah kau menungguku di tempat tadi? Aku mau menyiapkan hadiahku terlebih dahulu”

“Banyak anjing liar di luar sana, kau tega sekali meninggalkanku” ia terlihat sangat kesal.

“Ambil peluit ini, suaranya kecil sekali namun suara peluit ini dapat tertangkap oleh telinga anjing-anjing itu, mereka akan pergi meninggalkanmu. Tiup saja sekuat mungkin.” Akhirnya dia setuju dan setengah berlari kembali ke puncak bukit tersebut.

Aku pindah ke kursi kemudi, ininah saatnya, ini saat yang kutunggu-tunggu. Sesungguhnya bisa dibilang tak ada rencana A, rencana A hanya datar seperti itu, aku mengajaknya kesini, lalu pulang. Tapi inilah rencanaku yang sesungguhnya, rencana B. Kunyalakan mobilku dan meniup peluit yang sama seperti yang kuberikan kepada Soojung. Dan ta da! Kawanan anjing mulai berdatangan, satu dua tiga.. lima belas.. ya, peluit ini adalah peluit untuk memanggil kawanan anjing, bukan peluit pengusir anjing. Kupandangi untuk terakhir kalinya siluet Soojung yang berdiri membelakangiku. Matahari tepat di hadapannya, membuat sinar keemasannya menerobos pada setiap sisi tubuh Soojung. Nikmatilah matahari tenggelam terakhirmu, sayang.

Kualihkan perhatianku pada belasan anjing yang mengelilingi mobilku, mereka mulai menggonggong.

“Hai anjing-anjing tampan, kalian terlihat kelaparan sekali.. selamat makan malam!” lalu kulajukan mobilku secepat mungkin.

Sangeil chukha hamnida! Sangeil chukha hamnida! Sarang haneun Soojungie.. Sangeil chukha hamnida!”

Selamat ulang tahun, Jung Soojung.

 

extention

Amber POV

Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday Krystal Jung, happy birthday to you…” aku membawakan kue ulang tahun untuknya.

“Haha, terimakasih Amber. Apa rencana kita berjalan lancar?” tanya Krystal sambil memegangi tanganku.

“Ya, mudah sekali bagiku untuk memutus rem mobilnya, tak benar-benar putus namun semakin dia menginjak rem dalam-dalam, maka kemungkinan putusnya semakin besar. Nah, setelah jalan menurun disana, persis di depannya adalah jurang. Tak terlalu dalam, mungkin dua puluh meter.” Ucapku pada Krystal sambil sesekali mengelus pipinya. Hmmm..

“Dua puluh meter? Kau bercanda dia pasti langsung mati!” ia kelihatannya marah sekali.

“Kau masih peduli pada orang yang akan membunuhmu dengan keji, Jung?” Alisku berkerut.

“Tidak, maksudku. Dibagian mana dia merasakan kesakitan? Shit. Kau terlalu cepat mengantarkannya ke surga!”

“Aku memang orang baik…” ucapku sambil meraih dagunya dan menciumi bibirnya berkali-kali.

“Uh.. Amber, aku…” Ups dia jatuh di atas tanah kebun teh hijauku. Mulutnya sedikit terbuka kemudian kuhirup aroma mulutnya, kubiarkan racun sianidanya menguap melalui mulut kecilnya.

“What a bad romance.. Hai anjing-anjingku, kalian mau?”

FIN

Hai readers.. liatlah siapa yang nulis setahun sekali. Ya saya. Kenapa? Haha. Masih ingat saya? Tidak? Tak apa. Ceritanya biasa saja? Ya anggap saja ini pemanasan sebelum saya melakukan comeback yang sebenarnya, silahkan kasih masukkan. Boleh saya minta maaf? Pasti bolehkan? Baiklah saya minta maaf.

Ini fanfic gue tulis, sebagai birthday present orang yang tepat pada tanggal 29 November ini berulang tahun yang ke 20. Selamat ulang tahun, Pretty. Sorry kalau fanficnya psiko begini, emang aneh untuk dijadiin hadiah ulang tahun, awkward banget. Awalnya gue mau bikin yang sweet, jujur aja ini pembelokan jalan cerita juga baru kepikir. Am I freakin you out? I hope no. Entahlah gue harus ngomong apa, pokoknya, live your life ya young lady, muse. God Bless you.

Baik, untuk readers lain, I miss you (krik krik gada yang nanggepin ) sering-sering ya main kesini! Karena dalam waktu dekat gue akan balik nulis fanfic chaptered lagi. Thank you, all see you soon guys 🙂

Sincerely yours,

Sofi

Advertisements

34 responses »

  1. sakit jiwa emang si kakak nih.

    gue suka deh endingnya kayak gini. btw, ga ada yang mau gue komentarin banyak, tp gue suka cara lo deskripsiin settingnya, itu tau darimana sih ada kebun teh di korea selatan mahahahahahaha.

    gue beneran kagak kepikiran, si sulli kok akhirnya kepikiran juga bunuh krystal, ah., luna maya kaget,

    dan, gue tunggu multi chapter lo yg selanjutnya!

  2. psycho ah takut mau komen apa jg, balik2 malah gila, lg ngerayain ultah orang malah kasih hadiah cerita yg begini
    kurang suka genre yg kaya gini sebenernya, tapi ak mau komen ff nya bukan genrenya
    tapi bingung mau komentar apa
    kamu ttp sih sama gaya nulis kamu biasanya, ada ciri khas tulisannya, ciri2 tulisan seorang psikopat nya hahah
    bagus udah beneran, ga perlu deskripsi yg panjang banget buat kamu ngenalin kepribadian masing2 karakter tapi yg baca otaknya jg harus rada2 lah biar ngerti. Kamu jagoan. Kapan kita duet?

  3. Unpredictable, unbelievable,kerenable #halah.
    Hai, aku pengunjung baru.
    Baca oneshoot ini berasa diajak naik ke bukit. Nyampe di puncak pemandangannya bagus banget. Tapi pas mau turun,dijorokin langsung. Siapa sangka ketiga tokoh karakternya
    seperti itu. Dan untuk endingnya bikin pertanyaan ‘how could’ muncul terus, bikin susah lupa ama alurnya. Karena emang ff ini keren! Semangat terus berkarya….

  4. annyeong
    New reader i mhon izin bca FF nya,,,,
    woowwwww knpa jd psiko gni crta nya,,,seru bngt ada kryber dan jungli,,hufffttt mnegangkan sklgus bkin pnsran,,,
    Ok dech
    Next kryber atwpn jungli nya d tunggu,,,
    Ttp smngaaattttt,,,
    Gomawo,,,,

  5. Mksd yg g dtulis it termasuk yg ini jg g kak?
    “kuhirup racun sianida blablabla”
    ma yg
    “hei anjing anjingku kalian mau?”
    it kah?
    Cz dr awal baca yg jd pertanyaan cm 2 it kak karna gw ngehnya yg ngebunuh it ya amber
    hehe
    kl bukan brarti gw yg rada2 kak 😛

  6. Kyknya otak gw rada2 kak -,- gw kira komen gw g masuk gegara yg gw liat komen pertama komen si roti
    gw lupa kl komen gw harusnya ada d paling bawah
    haha
    tp jujur saja diantara 4 point yg lo jelasin gw cm ngeh yg bagian sulli psycho, bagian sulli bipolar doang kak
    Yg bagian dy antisosial gw kira dy bkn antisosial tp dy emg cuek dan g peduli m keadaan sekitar
    haha
    gw g nyangka ternyata judul it jg bagian dr crita y?
    Hehe karna slama ini gw g pernah mementingkan judul
    hehe maafkan saya 😛
    lanjut komen yg atunya y kak 😀

    • Hahahahh santaiii! Iya emang gue cmn skelibat2 aja critanya cmn krn di ujungnya ktauan dia psiko jadi yg dia cuek2 gtu bisa jadi ciri ssuatu jugakan.. Iyaaa judul gue yg thematic apperception night jugakan.. Bahkan yg oneshoot shadow juga. Lihat aja nanti maksud dari tuesday blues itu apa 😉

  7. Wahh author comeback 😄,amber disini jahat bgt thor #gakrela. hehee
    Tpi ceritanya gue suka bgt thor ,gak nyangka ternyata amber juga ngebunuh krystal…

  8. Wahh bingung mau komen apa.. gila pas awal bca kirain sulli cma cmburu dan mrasa d abaikan.. ehh smkin mndekati ending sulli trnyta psiko.. pling ngeri pas sulli jdi niat ngebnuh krys, ehh trnyta amber dan krys mlah jg niat ngebnuh.. hdeuhh good job lah thor..

  9. I’ve read two titles of your fanfic tonight, and its driving me crazy. omg! i’m pretty sure i cant sleep tonight. Definitely.

    oh author ssi, what we call it, your genre? thriller? psychology?
    Because i like both of them.

    • Hallo denisha~ i dont have any specific genre bc if i say its a thriller the pace is kinda slow, if i say this is psychology it doesn’t involve any specific disorder, haha
      You have to read another oneshot titled ‘shadow’, thank you denisha~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s