Releasing

Standard

release

Hallo, readers kali ini saya bukan akan memberikan fanfic seperti biasanya. Kali ini saya akan menceritakan tentang diri saya, apa yang saya rasakan saat ini. Saya bukan ingin diketahui seperti apa saya sebenarnya tapi ini adalah media yang baik untuk saya menumpahkan apa yang saya pikirkan. Sebelumnya saya sering curhat colongan via media social which is not good. Ini hitungannya media social juga ya bukannya? Ya gakpapa, setidaknya tidak banyak yang kenal saya secara personal disini, saya rasa bisa dihitung dengan jari (tangan dan kaki). Oke disini saya bukan mau memberikan karya jadi maaf kalau banyak typo atau disingkat-singkat, dan yang udah pasti bakalan sering muncul adalah Bahasa inggris yang setengah-setengah. Kenapa gak pake Bahasa Indonesia aja? Entahlah kadang Bahasa inggris terasa lebih representative bagi saya, lebih singkat, lebih indah, lebih mudah dipahami. Lihatlah siapa yang menulis pembukaan cukup panjang? Iya saya, dan saya rasa kali ini tulisan saya akan panjang sekali. Gak perlu dibaca, sungguh. Saya sedang berusaha curhat saja di ‘rumah’ saya yang ini.

Kira-kira tema besar apa yang bakal saya ceritain ya? Karena sebelumnya sepertinya saya gak pernah bikin post curhatan tersendiri, paling curcol dikit di ending tulisan. Oke tema kali ini adalah, Releasing yang menurut Bahasa berarti:

To set free from confinement or bondage; To cause or allow to move away or spread from a source or place of confinement

Dalam tulisan ini saya akan menceritakan banyak sekali orang, akan saya gunakan nama samaran untuk mereka yang mana sepertinya gak akan jauh dari nama asli mereka. Saya akan menuliskan dua pihak, kenapa saya sebut dua pihak? Karena bukan dua orang, Pihak A akan berisi cukup banyak orang yang masing-masing dari orang tersebut akan saya sebutkan namanya (dengan nama samaran tentunya) kemudian Pihak B berisi.. gak pasti 4-5 orang yang gak akan saya sebutkan nama samarannya 4-5 orang ini akan menjadi 1 pihak yang saya jabarkan secara general. Akan terdengar membingungkan tapi saya menghindari rasa tersinggung dari beberapa orang di pihak B yang mungkin saja membaca tulisan ini. Sekali lagi akan banyak sekali typo, grammar error dan sebagainya.

Kepikiran nulis ini pas hari Jumat, 31 Juli ketika saya sedang perjalanan pulang dari kantor saya namun saya akan memulai cerita dari hari Kamis, 30 Juli 2015. Hari itu biasa, saya duduk di depan komputer dengan menggunakan atasan berwarna broken white dan bawahan berwarna biru lumayan gelap. Saya ambil tab saya dimana gak ada satupun notifikasi yang muncul disana, akhirnya saya iseng buka aplikasi Line untuk buka chat group dengan notifikasi yang cukup banyak (notif gak muncul karena saya mute). Akhirnya saya buka grup chat tersebut dan mendapati puluhan chat berisi ucapan-ucapan duka, ternyata Ibu dari teman saya ada yang meninggal. Saya langsung berpikir, akankah saya kesana untuk datang ke rumah duka yang berlokasi di daerah Bekasi? Sekedar informasi kantor saya di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. Gak lama muncul dua orang teman yang menawarkan mobilnya untuk ditumpangi menuju rumah duka, suatu kemudahan bagi saya hanya saja mereka bilang jam 7 malam mobil baru akan sampai lokasi tempat kita janjian, di Cilandak Town Square (Citos). Kembali muncul keraguan karena jam 5 teng saya sudah keluar kantor lalu saya akan kemana dulu? Nunggu di Citos? Gak mungkin, saya benci tempat ramai. Untungnya teman sekantor saya yang dulunya teman sekelas saya selama kuliah mau menemani saya di mcD depan kantor, lumayan sampe jam 18.30. Dari sana saya menuju Citos dan sampai jam 18.45, janjian dengan Zea yang mana bekerja di gedung mewah Ferrari yang hanya berjarak beberapa meter dari Citos, dia bekerja sebagai Reporter dan Writer salah satu majalah terkemuka di Indonesia. Cukup lama nunggu Zea karena dia baru keluar kantor pukul 19.10, saya berdiri di sebrang Ropan karena disana area outdoor saya berdiri sambil terus memandangi langit, Bulan purnama, yang kebetulan merupakan Blue Moon (Kejadian langka dimana bulan purnama yang terjadi dua kali dalam satu bulan). Saya chat sama seseorang yang merupakan Muse saya saat ini, saya bingung mau kasih dia nama samaran apa haha yaudah sebut saja dia Amy. Gini percakapan saya dengan dia via chat

Saya:     Nih gue lagi lihat full moon

Bagus banget teraaang

Amy:     Nggak biru?

Amy nya lg sakit jd gabisa keluar rumah

Huf

Nantilah liat bentar

Saya:     Huahaha blue moon means the full moons than happen twice a month

Amy:     Oh gitu yaa tp kok heboh bgt blue moon

Saya:     iyaa kali sembuh lihat full moon

Hahaa iya tau, kejadiannya 3 tahun sekali, not so that rare juga

Amy:     aamiin

Setelah cukup lama selesai chat sama dia, Zea belum juga datang. And damn bukannya Zea yang datang ternyata malah seorang cowok (Kita sebut dia Kabi) yang saya kurang suka yang datang nyamperin saya, udah budaya grup kita kalau ketemuan kita gak salaman melainkan high five atau tos. Saya angkat tangan saya duluan utuk tos sama dia, dan tosnya lemah banget, kita akhirnya berdiri samping-sampingan dan hampir gak ngobrol sama sekali. Jadi ceritanya dulu dia pernah left grup karena saya sama beberapa anak yang lain becandanya rada vulgar, kalau gak salah waktu itu saya bilang “Aduh Mew mau kesini bentar lagi, Rahim gue udah siap untuk mereka” ( Mew adalah band favorite kami, yang mana grup kami berisi fans dari band tersebut).

Lalu respon Kabi adalah “Bisa gak gausa becandaan kayak gitu, rrrr” gak disangka-sangka admin grup tersebut bilang “Kenapa sih Kab? Kalau gak suka left aja” dan beneran dia left. Dari situ kita jadi canggung, ya emang baru satu kali ketemu juga cuman pas gathering kedua itu malah jadi bahan ceng-cengan sama anak-anak “Udah pada baikan belum lu anak Tangsel?”. Kebi ini saya gatau kerjaannya apa, secara fisik dia terlihat cukup menggemaskan, rambut cepak namun mukanya masih kayak anak-anak, dia angkuh, dia milih-milih temen namun dia amat berbakat dibidang photograph kameranya canggih-canggih dan tentunya dia terlihat smart. Setelah beberapa menit yang canggung akhirnya Zea datang, cewek padang yang mukanya cewek jepang banget, bener-bener jepang. Zea pakai sweater putih, tote bag hitam, skinny jeans hitam dan sepatu doc mart yang kalau gak salah hadiah dari seseorang. Kita pelukan dan cipika cipiki, itu kali kedua saya ketemu Zea, pertemuan pertama dia bener-bener ramah dan menyenangkan kita sering chat dan berulang kali Zea ajak saya ketemu, tapi belum saya respon. Zea juga sering saya ajak trip bareng namun dia sibuk, selalu sibuk. Setelah suasana cair karena kehadiran Zea yang merupakan teman akrab Kebi kitapun jalan ke lobby, nunggu dijemput oleh teman yang bawa mobil. Kebi juga bawa mobil tapi dia parkirkan karena ternyata mobil teman saya yang mau jemput ini cukup luas, tiga rows.

Gak lama nunggu, Jed si penjemput datang dengan sudah ada seorang teman bernama Lisa yang duduk di depan sana. Kebi duduk paling belakang, saya dan Zea di tengah. Jed ini pendiam sekali, wajahnya tak ada ekspresi selain ekspresi Grumpy Cat. Lisa ini perempuan topeng sekali, saya muak sama dia, dan Zea amat sibuk dengan ponselnya. Akhirnya kita jalan menuju gedung PKS untuk menjemput satu orang teman lagi bernama Tisa. Yap singkat cerita Tisa naik mobil dan dia adalah orang yang super ramah, suasana kembali cair karena ada dia, karena kalau suasana udah cair saya bisa dengan mudah menjadi orang yang cerewet, begitupun Zea, dia super cerewet. Some of us are the cat lovers akhirny kita ngobrolin kucing, ketawa-tawa. Di tengah obrolan Kebi bilang “Kita belum lebaran kayaknya” dan akhirnya di dalam mobil kita salam-salaman, saya paling terakhir kasih tangan ke Kebi dan lucunya Kebi salim ke saya, his head was on my hand haha lucu juga anak angkuh itu mau-maunya salim sama saya. Dari situ Kebi terdengar merespon bahkan bertanya banyak hal sama saya, oke I think we doing fine start from today. Blablabala kita sampai di lokasi, disana udah ada teman-teman yang lain, seperti biasa kita tos. Setelah selesai tos saya samperin Fredi, teman baik hati, fluffy, menyenangkan dan bersuara merdu. Fredi adalah teman kita yang kehilangan Ibunda tercintanya hari itu, dia terlihat menyambut dengan senyum lesunya, dia ini hobi sekali melawak. Saya peluk dia, besar sekali seperti Baymax. Dia terus berdiri, jalan kesana kemari, ambilin aqua dan kue untuk kami, bawain kursi huff.. Kita udah suruh dia berenti dan duduk tapi mungkin itulah cara coping dia, gak apa.

Kami duduk di jalan depan rumah dia, jalanan komplek bukan jalan raya. Kami duduk sama-sama sambil berbincang-bincang, saya samperin salah satu teman saya bernama Avic, dia baru buat tattoo di tangannya, saya sentuh tattoonya itu oh begitu rasanya haha. Sebetulnya saya betul-betul janjian disana sama dua orang yang cukup dekat dengan saya, Vindi dan Moi tapi mereka kesasar untuk sampai sini. Vindi datang lebih duluan, “Oi bang! Sampe juga lo haha” ucap saya, Dia cewek, cuman saya dan dia biasa disebut abang-ade karena menurut mereka kita memiliki sifat yang mirip, sama-sama saiko katanya hanya gara-gara saya bilang saya siapin jeruk nipis untuk dipuncratin ke mata para grupis yang mau nonton band fav kita, yang mana hanya omongan doang, gak beneran. Saya diri untuk meluk dia dan ambilin kursi untuk dia duduk, kita ngobrol dan langsung ngebahas si Moi yang gak sampe-sampe padahal udah berangkat dari tadi banget. Saya buka chat dan Moi bilang “pengen nangis gue, gojeknya nyasar-nyasar” I smiled realizing that shes complain over something, karena sebelumnya dia selalu terlihat kuat, amat kuat, wonder woman.. Akan saya ceritakan tentang dia nanti. Blabla dia sampe, jalan dengan pincang. Saya gak berdiri, gak juga ambilin kursi untuk dia karena dia sama sekali tidak suka dilayani. Dia duduk disamping ka Vindi, disana ada satu orang yang amat kita gak suka, si Lisa Lisa itu, yang berangkat sama saya. Pas Moi mau duduk dengan terpincang-pincang saya natap Mata Moi dan nanya “Kenapa lo, heh lo kenapa?” Moi cuman nyengir, Moi is one of the most brengsekest woman in the world, lucunya Lisa langsung berdiri, cipika cipiki Moi dan bilang “Yaampun Moi, kamu gak pake jaket? Kamu ada tolak angin gak? Aduh kamu nanti sakit” Dan saya tau Moi jijik banget tapi saya dan Moi sama sekali gak tatap-tatapan, kita professional.

Disitu kita lanjut berbincang-bincang, di bawah bulan purnama yang terang. “Kak Vin, tuh bulan penuh, kesukaan lo” ucap saya. Langitnya cukup cerah, di bawah bulan terlihat awan tipis yang bergerak cukup cepat. Anginnya sejuk, yap gak disangka-sangka anginnya sejuk sekali. Saya, Moi dan Kak Vindi berbincang seru mengenai rencana trip kami minggu depan. Gak gitu lama kita siap-siap pulang tapi Moi masih duduk, saya berdiri di samping dia. Moi pegang tangan saya dan bilang “Gua masih mau ngobrol sama kalian” ucap dia ke saya dan ka Vindi. saya bingung, saya nitipin motor di Citos sedangkan saat itu udah jam 11 malam. Tapi sulit untuk bilang gak ke dia, Ka Vindi bilang “Yaudah lo nginep di kosan gue aja” which is sama-sama di Bekasi. Sepakat, saya tos kesemua teman, Tisa cium kedua pipi saya dengan bibirnya yang lembab dan sekali lagi saya peluk Fredi yang sedang berduka dan langsung jalan keluar komplek untuk cari tempat makan. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit kita ketemu ke tempat yang sepertinya cukup asik, tempat makan mie aceh haha. Yap betul, temanya adalah Lisa. saya kenal Moi dan Vindi ini lima tahun yang lalu, kita ketemu karena mau berangkat ke Surabaya bareng untuk nonton konser band favorite kita itu. Vindi ini berhijab, usia 29 dan belum menikah, dia cewek asik tapi tipe yang gak nakal sama sekali, I mean dia gak ngerokok, gak minum, intinya bukan tipe orang yang suka merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Ketika yang lain lagi cerita tentang masalah percintaan, dia nanggepin dengan ringan dan kadang, gak nyambung haha. Tapi saya seneng main sama dia, baik dan asik. Berlawanan dengan ka Vindi, Moi ini cewek BBM, Batak-batak Manis haha dia cewek mungil, manis, menyenangkan, brengsek, tukang mabok, ngerokoknya kuat banget, kalau pacaran tinggal bareng sama cowoknya, begitulah berlawanan banget sama Vindi. Namun disisi lain dia ini memang wonder woman, tampilan luarnya memang wanita sekali, elegant dan kadang kelewat sexy. Namun jika melihat caranya berjalan yang amat cepat semuanya itu buyar, dia benar-benar wonder woman, tidak suka diantar-jemput, tidak suka ditunggu, tidak suka dilayani, suka sekali melayani, tidak suka diperhatikan, suka sekali memperhatikan, jika naik tangga atau masuk pintu ia selalu mempersilahkan orang lain maju terlebih dahulu. Cicil rumah, punya bisnis, weekend freelance, teges banget kalau membela kebenaran haha pokokny bagi saya dia adalah wanita yang ‘menyeramkan’.

Mundur sedikit sekitar dua bulan yang lalu, saya, Moi dan ka Vindi melakukan trip bareng bertiga, dimana itu pertama kalinya kita jalan bertiga. Saya sempat mikir, Moi dan Vindi ini bakal nyambung gak ya? Meski mereka sudah kenal lama, Moi ini punya geng kecilnya sendiri berisi cewek-cewek macam dia juga, saya putuskan untuk menjadi penengah di antara mereka berdua. Namun disana saya dibuat terpana, saya merasa amazing, Moi dan Vindi ngobrol begitu asiknya berdua, sama sekali gak canggung bahkan mereka berdua terlihat lebih menyenangkan dibandingkan ketika saya-Moi atau saya-ka Vindi yang ngobrol. Keren sekali Moi ini, dia bisa begitu nyamannya cerita panjang lebar dengan ka Vindi yang super baik-baik ini. Saya merasa tenang, bahkan saya sering sekali membiarkan mereka berduaan berbincang-bincang tanpa ingin tahu sama sekali perihal perbincangan mereka.

Pertemuan kali inipun mereka terlihat akrab sekali, kami tertawa terbahak-bahak, menghina orang lain tanpa ampun. Malamnya cukup singkat dan Moi pulang dengan menggunakan gojek sementara saya dan ka Vindi naik taxi untuk sampai ke kostannya. Untuk pertama kalinya kami.. cipika cipiki lol. Pagi harinya saya berangkat dari Bekasi menuju kantor saya, begitulah.. terlambat 45 menit.

Pulang kantor saya di anter teman saya sampai lampu merah fatmawati untuk kemudian jalan kaki menuju Citos, cukup hawatir karena saya menginapkan motor saya, bakal ditanya-tanyakah? Bakal bayar parkir puluhan ribukah? Helmet saya dicurikah? Atau kemungkinan-kemungkinan gak asik lainnya kemudian saya berdoa agak prosesnya mudah-mudah saja. Dan menyebalkan sekali parkir motor Citos ini, benar-benar tidak ramah bagi pengendara motor, saya heran masih banyak banget orang baik motor untuk kesana, kayak gak ada mall lain aja.

Setelah sampai disana saya tenang karena helmet saya masih ada di tempatnya. Ditanya-tanya? Tidak. Bayar parkir? Dua belas ribu saja. Saya pulang dengan keadaan langit sudah mulai gelap dan mendung. Setelah sebelumnya berjalan kaki cukup jauh dengan menggunakan sweater yang cukup tebal yang mana membuat saya kegerahan, ternyata angin petang ini kencang sekali, dan sulit dipercaya anginnya dingin, mungkin yang tinggal di daerah Jakarta dan Sekitarnya juga merasakan hal yang sama. Saat itu anginnya dingin dan berhembus kencang, anginnya bahkan terasa menerobos sweater cokelat yang sedang saya pakai. Terlihat banyak sekali daun kering yang rontok dan terbawa angin, seperti setting musim gugur di negara-negara subtropis, saya amat menikmatinya. Saat itulah saya terpikir untuk menulis hal ini.

Sekitar tujuh kilometer saya lalui dengan senang hati dan rasa lapang yang luar biasa hingga kemudian air hujan turun ke bumi. Masih rintik-rintik awalnya, air hujannya pun bertarung dengan angin yang masih terasa kencang. Saya gak berhenti karena air yang turun masih bisa saya toleransi, I kept driving and let the rain hitted my tropical skin. Airnya dingin, airnya menyapa bumi yang sudah lama sekali kering. Saya yang sebelumnya tidak terlalu mencintai aroma petrikor mendadak mencoba untuk memahami aromanya dan sedikit menikmatinya, saat itu saya lupa bersyukur namun saya tidak berhenti tersenyum.. sudah lima tahun saya mengendarai motor dengan jarak yang jauh, sudah ratusan hujan yang saya terjang namun hujan itu adalah yang terbaik. Biar saya bersyukur saat ini, terimakasih Tuhan, terimakasih banyak.

Sepanjang perjalanan saya teringat sesuatu, sebelumnya saya menyebutnya sebagai detachment yang menurut Bahasa berarti:

The act or process of disconnecting or detaching; separation.

Indifference to or remoteness from the concerns of others; aloofness

Hmmm.. bagaimana ya saya memulai ceritanya, karena mungkin saja beberapa dari mereka yang akan saya ceritakan disini membaca tulisan ini. Hallo kamu dan kamu, saya harap jangan terlalu diambil hati jika apa yang saya sampaikan disini tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.

Kembali ke setting sebelumnya dimana saya akhirnya berhenti di salah satu tempat makan untuk berteduh dari hujan yang mulai deras, saya membeli French fries dan beberapa potong fried chickens untuk orang rumah saya. Disana saya duduk dan kembali merasakan apa yang saya rasakan saat itu. Saya tak paham lagi dengan diri saya, kenapa akhir-akhir ini mudah sekali saya tersenyum, bahkan tertawa terbahak-bahak, saya mudah menyadari hal-hal kecil yang menyenangkan yang terjadi di sekitaran saya, saya bahkan ingat teman kantor baru saya yang bernama Adri, dia tampan, sylish (mantan teller bank), namun benar-benar sinting, tak ada isi apa-apa di otaknya selain ayam peliharannya, rokok, dan camilan. Dia mudah sekali membuat kami teman sekantor tertawa, karena dia duduk di sebelah saya kami sering bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Sayapun mensyukuri kehadirannya.

Saya kembali mengingat Moi dan Vindi, minggu depan saya akan pergi ke Bromo, pertama kalinya untuk mereka, kedua kalinya untuk saya. Saya tersenyum mengingat mereka, teman-teman dekat yang tidak bisa saya sebut sebagai sahabat. Bisa dikatakan sejak awal saya mengenal Moi dan Vindi, saya sudah merasakan that kind of ‘soft feeling’. I can easily smile just for watching them from the distance. Tapi kita jarang sekali ketemu, paling tiga bulan sekali, herannya bisa dikatakan saya sayang sama mereka dan saat ini saya semakin memaknai dan menikmati hubungan ini, dimana kami tidak pernah menceritakan sesuatu yang terlalu dalam ketika sedang tidak bertemu, namun kami bisa menikmati setiap detik moment saat sedang bersama sama. Saya menyayangi mereka namun saya tidak pernah sama sekali bilang sepatah katapun yang membuat mereka tahu apa yang saya rasakan kepada mereka, saya menikmati bagaimana saya tidak harus memikirkan mereka namun siap jika mereka membutuhkan sesuatu dari saya. Ringan sekali, gak seorangpun dari kita yang bicara manis, berjanji manis, atau berperilaku manis namun sekecil apapun moment yang kita habiskan bersama terasa amat penting bagi saya, Segala Puji Bagi Tuhan..  Saya benar-benar menikmatinya.

Tapi dibalik itu saya kembali teringat pada orang-orang terdekat saya. Orang yang demi Tuhan amat saya cintai. Saya mencintai mereka, saya dapat merasa tenang dan tertidur hanya dengan duduk di samping mereka, saya bisa benar-benar bahagia hanya karena saya mendengar percakap mereka dengan keluarga mereka via jaringan telefon, saya bisa bahagia hanya karena menyapa saya via chat terlebih dahulu, saya bisa bahagia hanya dengan membayangkan pertemuan kami.

Diantara mereka ada yang biasa tersenyum kepada saya setiap kali ia bangun tidur di samping saya, saya selalu tidur menghadap ke kiri dan dia selalu tidur menghadap ke kanan yang membuat kami tidur berhadapan. One of the prettiest woman that I ever met. Ada juga yang benar-benar menjadi favorite saya, my partner in crime, orang yang merupakan Kryptonite saya dimana sebesar apapun dia mengecewakan saya, sebesar apapun niat saya meninggalkan dia, saya selalu lemah jika dia kembali kepada saya. Ada pula yang memiliki rencana besar dengan saya, mendaki gunung, tidur berdua di padang terbuka sambil mendengar lagu-lagu favorite kami, yang bertanya maukah menjadi travelmate dia dimana kami akan melihat langit terbuka while we laugh, cuddle, and talkin shits, melakukan photo shoot dimana dia menggunakan suit dan saya menggunakan simple soft blue dress (I hope I wear suits too, lol) namun tetap menggunakan sneakers. Dan yang sudah tujuh tahun berpisah namun tetap berada di dalam mimpi saya, yang namanya terucap di mulut saya setiap kali saya hawatir akan sesuatu.

Hampir semuanya berucap manis, berjanji manis dan berperiku manis. Hingga akhirnya satu persatu dari mereka…

Saya lepaskan saja.

Disini saya sama sekali tak berniat menyalahkan mereka, justru saya sadar kesalahan saya. Semakin saya menyayangi seseorang, tanpa sadar semakin banyak juga hal yang saya harapkan dari mereka. Saya ingat ucapan mereka dimana mereka berkata saya adalah yang terdekat, saya adalah yang paling mereka sayangi, saya adalah yang paling mereka percayai, saya tak akan berubah jika saya punya kesibukan, saya akan menjaga kesehatan saya, saya akan pay more attention ketika kita bertemu, saya setuju dengan permintaan anda untuk tidak marah-marah pada anda karena marah-marah adalah tugas anda, saya  ingin melakukan ini dan itu dengan anda, dengan anda saja tanpa diganggu dengan siapa-siapa, atau lebih baik saya mati saja jika dalam wantu dekat anda menikah kemudian hamil.

Mudah sekali saya percaya.

Saya tersadar bahwa beberapa diantaranya menyudutkan perilaku saya dimana dalam waktu yang amat singkat ive found out that what they did is worse than what I did. Jika saja mereka tahu bagaimana kata-kata mereka amat berpengaruh terhadap isi pikiran dan tindakan saya, betapa saya ‘mendewakan’ dan mengagumi mereka, namun disaat saya sedang menikmati ‘kehebatan’ mereka, saya menemui bahwa mereka tidak lebih baik dari pada saya.

Saya terima jika alasannya ‘kita tak perlu terbang ke bulan untuk menceritakan tentang bulan’ tapi saya tak terima melihat mereka dengan bodohnya menyiksa diri mereka sendiri. Tentu itu keputusan mereka, saya tidak melarang. Hanya saja saya tidak suka menontoni kebodohan seseorang. Dan saya bukan dalam usia yang harus berbicara banyak namun didengarkan sedikit. Sekali lagi saya tidak melarang, saya mendoakan yang terbaik namun saya tidak hadir sebagai penonton drama hidup kalian.

Kamu yang menyembunyikan hal yang besar dalam hidupmu, dimana saya mati-matian menghawatirkan, mencari, hingga mengejar kamu dan yang saya dapati hanyalah kamu yang sedang tersenyum bahagia tanpa memberikan sepotong cerita kepada saya? Tahukan kamu bahkan salah seorang mengatakan ‘Lo detach dia? How come? Lo terlihat adore dia banget’ saya hancur, thank you.

Tapi ya, ini bukan salah mereka maka dari itu saya tidak dalam keadaan untuk complain perilaku mereka, tidak mencampuri urusan mereka, atau marah-marah kepada mereka. Saya berusaha melepaskan mereka, karena jika saya tetap di samping mereka yang ada saya bawel gak ketulungan, yang ada mereka benci banget sama saya.

So what I do now is not detachment, it’s releasing.. And sadly or happily what I get now is relief.. relief.

Seperti yang saya bilang tadi saya mudah sekali tersenyum, saya senang sekali melihat kucing-kucing di pinggir jalan, saya senang dilayani oleh pramusaji yang ramah, saya bahkan terkekeh geli ketika hujan kembali turun saat saya sudah siap-siap keluar restoran cepat saji untuk melanjutkan perjalanan pulang. Saya menikmati semburat air hujan hasil cipratan roda kendaraan yang terlihat di sepanjang perjalan pulang, saya menikmati udara yang semakin dingin dengan gerimis yang tidak berhenti hingga saya sampai di rumah. Saya menikmati rumah saya, kamar saya, kaktus baru saya yang menumbuhkan tunas barunya. Semuanya, saya menikmati semuanya.

Saya jadi teringat pada suatu malam dimana saya memutuskan untuk melepas seseorang, saya bangun di tengah malam dengan keadaan tubuh yang amat terasa ringan, I myself cant believe it. Dipagi harinya saya berangkat kerja dengan senang hati, menikmati apa yang bisa dinikmati di sekitar saya. Saya bahkan berpikir, jika saja mereka hadir untuk kedua kalinya sebagai seseorang yang baru mungkin saja mereka akan menjadi orang yang beruntung karena mengenal saya di dalam keadaan saya yang amat tenang ini. Tidak seperti sebelumnya yang hobi sekali complain atau hilang respect ke mereka.

Namun disisi lain saya berpikir, akankah ini hanya sementara? Akankah saat mereka sudah tak ingat dengan saya justru saya yang ‘haus’ akan mereka? Saya tahu kemungkinan tersebut bisa terjadi. Tapi saya harap semuanya baik-baik saja, saya masih sayang mereka, amat sangat sayang mereka namun maafkan jika menurut anda cara saya salah, karena menurut saja inilah yang paling benar. Jangan lupa jika saya saat ini masih ada di antara kalian mungkin saja saya saat ini sedang marah-marah ke kalian. Saya rasa hidup kalianpun bisa lebih tenang jika tanpa saya, toh buat apa memegang erat sesuatu dimana bisa saja semakin erat digenggam, semakin sakit yang dirasakan? Kita hidup mencari rasa damaikan?

Saya harap jika kita ada kesempatan untuk kita kembali bersama, saya sudah menjadi orang yang lebih bijak, begitupun dengan anda dan kita dapat kembali bersama dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya, dengan keselarasan, keseimbangan, yin dan yang hahaa..

Sekali lagi maafkan saya, sehat-sehatlah anda semua. Jangan makan yang manis-manis melulu, gigi rusak, diabetes, jantung coroner, jangan mabok-mabokan, sesedikit apapun alcohol yang dikonsumsi dapat mematikan sel otak dan tidak bisa diregenerasi lagi, jangan ngerokok mulu sayang duitnya, sayang paru-parunya ngerokoknya kayak saya aja sebelum berangkat dan pas pulang kerja *eh. Satu lagi, jangan clingy. Seriously its an unecesary things to do, focus! Focus on one goal! Hahaa..

Tuhkan bawel. Untuk para readers yang mungkin aja baca ini, cobalah melepas seseorang yang sekiranya selama ini merugikan kamu atau yang tanpa sadar kamu rugikan. Siapa tau ada rasa lapang yang sebelumnya gak pernah kalian rasain. Dan bayangin seseorang yang baru datang disaat kamu lagi damai-damainya (lol gausah mimpi, apa yang sudah ada di sekitar kita juga bisa banget kita nikmati).

Cukup sedih juga saya nulis ini, karena saya takut ada yang salah paham. Saya juga takut ketenangan yang saya rasakan hanya sebentar saja, setidaknya saya mau menikmati ini dulu.

Saya bahagia jika kamu bahagia, saya harap kamu juga bahagia jika saya bahagia. Di atas segalanya saya masih mengharapkan kita bisa bahagia bersama dengan cara yang lebih bijaksana. Terimakasih, kamu semua. Maafkan saya.

.

.

.

Sincerelly yours

Your Sofi

Advertisements

4 responses »

  1. how is it feel when u release smone author ssi? isn’t hard? Does it feel like u left them?
    i’m sorry, I know ur strory isn’t addressed to me, idk why i just wanted to comment on this. it just i never like being left.
    and please bear with my broken grammar anytime i write a comment >.< lol. like what u say, english is more representative.
    I enjoy ur writing.
    I adore it.

    • Its a long process actually. It just simply i was in the grief phase for a long time before and being tired and bored for being in that kind of phase anymore. I have some close friends (which are not on the level of best friends) but they always make me forget about everyone who makes me feeling sad (sometimes to the point i feel depressed, kkk). Yes i think i left them, but im sure their life would be much easier without me bc i was too clingy to them hahaha there’re too many things that i complained about them. And about the grammar lol, my grammar is even worse than you! Haha
      But I still love them, is it sounds bullshit that i left people for the goodness sake? 😐
      Thank you, Denisha for being a super nice reader for me
      Xoxo
      Sofi

  2. Yaa..melepaskan sesuatu emang agak berat karna kita pasti akan merasa kehilangan, tp bener deh kata author setelah kita lepas itu justru kita merasa plong bener2 free banget rasanya tanpa beban, Gue juga merasakan saat melepas seseorang karna gue ngerasa slama kita bersama gua cuma nyakitin dia aj. Gue ga mau terlalu lama nyakitin dia lebih baik melepaskan tp ga perlu dilupakan segala kebaikannya 😊😊 hehe jd curcol deh 😝😝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s