Fall [Oneshot]

Standard

Fall

Danke”* ucapnya sambil menghidupkan api dan menyulutkannya kepada sebatang rokok yang telah ia tahan dengan bibirnya.

“Kau masih menggunakan rokok lamamu?” tanyanya padaku. Aku merogoh saku depan jeansku dan

“Tada!” kutunjukkan kotak biru berisi dua puluh batang rokok yang sama persis dengan rokok miliknya.

“I’ve told you this blue box is magical” ucapnya sambil merapihkan rambut lurusnya yang selalu terlihat berantakan. Sederhana saja, itu memang gayanya.

Tidak ada siapa-siapa disini, kami duduk di atas teras panjang dari jajaran puluhan toko yang sudah tutup. Letak jajaran toko ini berada di belakang sebuah Mall yang juga sudah tutup. Persis di depan jajaran toko ini terdapat pula jajaran pohon Oak tua yang telah mulai menggugurkan daun-daunnya.

Dia menangkat kepalanya, menahan tetesan darah yang keluar sedikit demi sedikit dari lubang hidungnya. Kutelan ludahku, dengan cepat rasa dingin menyelimuti tubuhku.

Kusodorkan air putih yang kutahu tak akan ia minum. Ia terbatuk dan mulai menarik napas dalam melalui mulutnya. Rasa dinginnya semakin menjalar di tubuhku trutama di punggungku. Apa yang harus kulakukan?

“Kita ke Rumah Sakit?” tanyaku sambil bangkit dari dudukku namun belum sempat aku berdiri ia menarik tanganku dan mengisyaratkan agar aku kembali duduk.

Es geht mir gut”* ia melepas pandangannya ke ujung jalan di sebelan kanan, memerhatikan sebuah mobil patroli yang berjalan perlahan tanpa menyalakan sirinenya.

Seperti biasa, kami menyembunyikan botol minuman kami. Bersiap menyapa para petugas keamanan yang akan segera berhenti di depan kami.

Sesaat setelah mereka tiba, ia mengacungkan jempolnya kepada para petugas keamanan sedangkan aku hanya tersenyum seperlunya. Setelah para petugas tersebut pergi dari hadapan kami, aku segera meraih botol vodka milikku, meneguknya dan kembali menatap gadis berambut panjang di hadapanku.

Berbicaralah, aku senang mendengarkanmu berbicara. Namun aku tak cukup beruntung, dia malah meraih ponselnya, mengetik sesuatu disana dan aku berusaha untuk melihat apa yang sedang ia buka.

Biru muda

Akupun segera bersandar pada tiang penyangga bangunan yang berada di sampingku. Kubuka twitterku dan mengetik namanya pada kolom search aplikasi ini.

Fallen

Hanya kata itu yang menjadi tweet terakhirnya, aku yakin sebelum kata itu yang ia tulis, ia mengetik sesuatu yang lebih panjang.

Menulislah, aku senang membaca tulisanmu.

Matanya masih tertuju pada layar ponselnya

“Amber, kembalikan novelku, itu adalah novel pertama yang kubaca saat aku masuk junior high school” aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum usil padanya.

“Kau tahu? Kau adalah orang yang amat menyebalkan, tapi entah kenapa aku tak bisa marah padamu. Novel yang ada padamu adalah benda yang amat berharga untukku” ya aku tahu, bagaimana benda itu tidak berharga jika hingga saat ini, saat usianya sudah dua puluh satu tahun novel tersebut masih ia simpan di dalam mobilnya—ya tentu saja sebelum kupinjam dua bulan lalu dan belum juga kukembalikan karena ceritanya buruk sekali.

“Karena aku lebih berharga dari novel itu” ucapku sambil mengambil sebatang rokok dari kotak biru yang sama persis dengan miliknya, Esse Change.

“Katakan padaku Amber, kita pernah bertemu sebelumnya” ucapnya sambil mengancingkan trench coatnya.

“Tidak pernah, Krystal. Tidak pernah dalam sekalipun di hidupmu kau bertemu denganku sebelum dua bulan lalu, saat aku menjadi muridmu” ucapku tegas, menatap matanya yang memancarkan keraguan yang besar. Ya Tuhan… kedua mata itu…

“Tapi aku.. aku bisa melukis dirimu. Maksudku um.. A-aku tak seaneh itu, Amber..” Berbelit-belit.

“Aku tak menanggapmu aneh, aku hanya ingin kau menjelaskan apa maksud dari kalimat ‘aku bisa melukis dirimu’ tentu saja kau bisa, kau bisa melukis Emma, kau bisa melukis Luna, kau bisa melukis semua orang lalu apa istimewanya dengan kau yang bisa melukis diriku?”

“Sulit untuk menjelaskannya, Amber. Tapi..”

“Biar kulihat lukisanmu itu” ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Kau tak pernah gagap seperti ini sebelumnya, ayolah kau tahu aku orang yang terbuka, tidak judgmental

“Aku tidak membawa sketch bookku, lain kali” dia berbohong, sketch booknya pasti ada di dalam mobilnya. Sudahlah, aku tak perlu mendesaknya.

“Boleh kulihat punggungmu?” Deg! Satu kalimat singkat darinya membuat jantungku berdegup kencang.

“Hei kau lihat aku menggunakan turtle neck seperti ini. Apa aku harus membuka pakaianku di hadapanmu?” ucapku dengan napas berat, berpura-pura terbatuk karena asap yang dia hembuskan ke arahku. Aku bangkit dari dudukku. Gerakanku membuat Krystal sedikit bertanya-tanya.

“Krystal, aku lupa besok pagi-pagi sekali aku harus keluar kota dan belum menyiapkan apapun” get up, please. Syukurlah dengan mudah Krystal berdiri dan tanpa sepatah katapun ia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya dan memacunya dengan cepat.

Kini aku berdiri gemetar di tempat yang terasa semakin tak bernyawa, menyebut satu nama tanpa suara.

Are you here?” ucapku, lantang.

Wir sehen uns morgen”* Ucap guru les Bahasa Jermanku yang sama sekali tak menatap mataku sepanjang kelas hari ini. Ia berjalan cepat keluar kelas, aku menyusulnya. Tak disangka-sangka ia langsung masuk ke dalam mobilnya. What’s wrong with you, Krystal? Aku berlari ke arah mobilnya kemudian mengetuk kaca pintu mobilnya.

Hey, what’s wrong?” aku membuka pintu mobilnya, syukurlah belum terkunci.

“Krystal, you okay?” dan dia menatapku tajam, napasnya tak berirama. Aku membungkuk di hadapannya, menyentuh wajahnya dan menatap matanya.

“Katakan padaku, kau kenapa?” Ia menunduk, kuangkat dagunya dan menunggu ia menjelaskan sesuatu padaku. Kuputuskan untuk menariknya keluar dari dalam mobilnya.

“Aku takut padamu” ucapnya cepat.

“Kau takut padaku? Apa yang kulakukan padamu?” kupegang pergelangan tangannya, kemudian turun ke telapak tangannya, memegangnya lembut. Meyakinkan bahwa aku tak pernah memiliki pikiran buruk apapun terhadap dirinya.

“Kau.. kau ini apa?” Apa? Aku?

“Apa maksudmu?” Kurasakan setitik air hujan jatuh di ujung hidungku. Kudongakkan kepalaku, langit malamnya penuh awan hitam.

“Sebelum aku bertemu denganmu, Amber.. Hidupku baik-baik saja” gerimisnya semakin besar. Anginnya menggugurkan daun-daun pohon Oak yang berjajar di sepanjang pengelihatan kami.

“Tenanglah, Krystal. Jelaskan apa yang terjadi padamu” Hujannya semakin deras, aku menariknya masuk ke dalam mobilku yang terparkir persis di samping mobilnya. Kami duduk di kursi belakang.

Ia duduk bersandar dengan kepala sedikit menengadah ke belakang, menarik napas dalam. Menenenangkan dirinya. Aku menggenggam tangannya, namun ia masih menatap kosong.

“Aku tak yakin apa aku takut padamu atau takut pada diriku sendiri.. Kau, Amber.. Kau selalu ada di dalam pikiranku..” Oh..

“Lalu, apa yang salah dari itu?” ucapku setenang mungkin. “Kau juga selalu ada di dalam pikiranku, Krystal..” Kulanjutkan kalimatku.

“Tapi ini berbeda, aku.. kumohon jangan menanggapku aneh. Kau seperti seseorang dimasa laluku, di dalam pikiranku kau muncul sebagai.. kekasihku” ya Tuhan..

So, that’s a good term. Aku juga sering membayangkanmu menjadi kekasihku..” Mungkin ini waktunya untuk aku lepas dari… dari masa laluku.

Kulihat raut wajahnya menjadi tenang, kuselipkan rambutnya di balik telinganya. “Sudah lebih baik?” Tanyaku padanya.

Aku mendekatinya, membiarkan bahuku menjadi sandarannya. Disatu sisi aku senang sekali mendapati kenyataan bahwa Krystal yang kukagumi juga menyukai diriku. Tapi di sisi lain, ada rasa berat yang membebaniku. Sejujurnya, aku masih belum terlalu paham akan maksud Krystal yang selalu yakin bahwa aku ada di masa lalunya. Um.. kurasakan hembusan hangat dari napas Krystal di leherku. Ia sedang menatapku..

Aku balik menatapnya dalam, kuangkat tubuhnya agar sejajar dengan diriku. Kulihat arah matanya yang dengan jelas sedang menatap bibirku, kusentuh pipinya yang lebut dan mulai memejamkan mataku. Mebiarkan bibirku menyentuh bibirnya yang hangat dan lembab, kutekan lembut leher belakangnya agar ciuman kami menjadi lebih dalam. Krystal melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, tangannya menerobos masuk ke dalam sweatshirtku. Aku sedikit terkejut dengan gerakannya dan membuka kedua mataku namun ia masih memejamkan matanya. Ia melepas ciuman kami dan mulai turun kesudut leherku, kurasakan lidah dan bibirnya menghisap pelan sudut leherku. Tangannya terus menerobos masuk ke dalam punggungku. Dia mengingatkanku akan seseorang.

Kurasakan tiba-tiba ia berhenti sejenak dan mulai kembali meraba punggungku. Dengan gerakan kaku ia menjauhi tubuhku perlahan-lahan.

What’s wrong?” tanyaku sambil mengancingkan kemejanya.

“Kau memiliki tattoo di punggungmu?” matanya membulat, rahang bawahnya menggantung.

“Y-ya..”

“Boleh aku melihatnya?” pintanya masih dengan mata yang terlihat ketakutan.

“Lain kali aku akan menunjukkannya” tidak saat ini.

Ia meraih tas selempangnya dan mengambil sesuatu di dalamnya, sketch book berukuran A4. Ia mulai membuka halaman demi halaman dan dengan sedikit gemetar ia membalikkan bukunya dan menujukkan salah satu gambar buatannya. Kunyalakan ponselku untuk menerangi gambar tersebut, dan.. Deg! Ya Tuhan. Disana terdapat gambar diriku yang sedang duduk di ujung tempat tidur, gambar punggungku yang sedang tidak berbusana, dan bagaimana ia bisa dengan jelas menggambar tanda lahir bahkan tattooku…

“Inilah yang selalu kutakukatkan, katakana padaku bukan tattoo ini yang ada di punggungmu, Amber..”

“Dann kam die natch mit deinem traum”*

Kalimat itulah yang tertulis jelas pada gambarnya. Kulitku merinding, kurasakan hembusan dingin menerpa tubuhku, kau.. kau benar-benar disini? Kuputuskan untuk melepas bajuku dan menunjukkan punggungku kepada Krystal.


Dann kam die natch mit deinem traum

Im stillen Sternebrennen

Und er tag zig lächelnd an mir vorbei

Und die wilden rosen atmeten kaum

 

Nun sehn’ ich mich narch traumesmai

Nach deinem liebesoffenbaren

Möchte an deinem munde Brennen

Eine traumzeit von tausend jahren

– Meine Victoria-*

Bait pertama berada di bagian atas punggung sebelah kiriku, sedangkan bait kedua berada di bagian atas punggung sebelah kananku. Krystal membacanya perlahan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Meine Vic.. Ya Tuhan kau kenal Victoria?!”

Flashback

Victoria POV

“Aaaa ayolah makan..” kusuapi wanita menawan yang sudah mulai kehabisan daging di tubuhnya.

“Hei, Amber! Aku yang sedang sakit kenapa malah aku yang menyuapimu?” aku memukul bahunya, berusaha membuatnya fokus pada diriku. Kami duduk berhadapan, aku duduk di atas ranjang rumah sakit yang sudah menjadi rumahku sejak enam bulan lalu, sedangkan ia duduk di atas kursinya. Ia tak menggubrisku dan malah menenggelamkan kepalanya di atas kedua pahaku. Aku mengusap pelan rambut pendeknya yang halus dan menggelitik kedua pahaku. Karena dia masih saja mengabaikanku, akhirnya kumakan makanannya.

“Lihatlah, Amber. Banyak sekali aku makan” dan aku mulai menyanyikan lagu-lagu ceria yang sama sekali tak ia suka. Kukecup puncak kepalanya, mengangkat wajahnya dan menciumi seluruh wajahnya. Namun  cairan berbau karat ini mulai kembali menerobos keluar dari hidungku, tubuhku kembali terasa tak berdaya dan hal terakhir yang kulihat adalah Amber yang berlari keluar dari kamarku. Kuraih sebuah amplop di bawah bantalku dan menyimpannya di atas dadaku.

Berilah masing-masing ginjalku untuk Luci dan Daniel. Berilah Jantungku untuk Mrs. Schüler, dan kedua kornea mataku untuk Krystal. Aku juga melampirkan surat izin dari orang tuaku. Kumohon jangan beritahukan ini kepada siapapun. Terimakasih sudah merawatku.

Dengan penuh rasa cinta

-Victoria-

*Danke: Thank you

*Es geht mir gut: I’m fine

* Wir sehen uns morgen: See you tomorrow

* Dann kam die natch mit deinem traum

Im stillen Sternebrennen

Und er tag zig lächelnd an mir vorbei

Und die wilden rosen atmeten kaum

Nun sehn’ ich mich narch traumesmai

Nach deinem liebesoffenbaren

Möchte an deinem munde Brennen

Eine traumzeit von tausend jahren

-Axel Junker Verlag, 1902-

.. Then came the night with your dreams

In the silent burning stars

And smiling day moved past me

And wild roses breathed hardly at all.

Now I see myself after the dream of May

After revelations of your love

I would burn upon your mouth

In a dream of a thousand years.

*Meine Victoria: My Victoria

How was it?

It’s never as good as when I still in the college right? Haha yagitulah, orang kerja bukan jadi pinter, jadi bego. So guys, how are you doing? Doing good? Awww

Hmmm mungkin disini ada yang baca novel dengan judul ‘Fallen’ dan saat baca ini sempet kepikir kalau gue rada jiplak judul dan temanya. Haha iya untuk judul tersebut gue emang terinspirasi dari sana, tapi untuk jalan cerita it’s strictly a no.

Beberapa scene disini terinspirasi dari kejadian nyata, guru les muda, duduk dan ngobrol di depan tempat les sampe tengah malem, esse change, dipenjemin novel sama dia dll itu dari kejadian yang belum lama ini terjadi sama gue, and yes it’s a past karena baru ngajar gue empat kali, dia udah pindah. Haha.

Dihari yang sama temen deket gue di kantor kontraknya gak diperpanjang sama atasan gue, dua hari kemudian OB gue dipindahin juga sama Spv gue. Padahal biasanya setiap istirahat kita makan bertiga di pantry. Yap, hal itu bikin gue makin males bersosialisasi. Di kantor diem, di tempat les pulang ya langsung pulang. Mau travelling kyk biasa mendadak jadi susah cari waktu. And everything’s so flat now, so boring.

Gue harap kalian mau taro komen disini karena gue udah makin jarang interaksi sama orang, please help me to be less zombie. Im so zombie like these days. Duh pingin banget deh ngelanjutin Tuesday Blues, tapi apa daya, lemah banget gue hahaha. So I will see yah! Thank you for reading this oneshot!

[!!!] NOTE PENTING: KALAU KALIAN GAK NGERTI SAMA ENDINGNYA, SILAHKAN BACA KOMEN-KOMEN DI BAWAH, THANKS!

Sincerelly Yours

-S-

Advertisements

27 responses »

  1. hai thor jgan jadi zombie thor g berguna hahahahahahah plak dtabox athor dh hehehehe oke thor kalo mnrt aku ga ush lah yg terlalu kya gitu hdup kan juga perlu dnikmati kan lest wake up thor come one gooi..goo…ggoooo 🙂 krana masih bnyak orang2 sprti saya yg mengggu karya2 athir orait

  2. Agak bingung sama ceritanya thor kekkeke. Bagus sih suka sama kata katanya gitu aeh bagus nget. Emh jangan jadi zombie thor, temen gue ada yang kek zombie, cuma dia karena sakit sih dan tiap pagi pas liat muka dia waktu kuliah itu serem serius wkwkwwk. Tapi dia hebat Thor semangat kuliah gitu lagi sakit sakit juga (malahcurcol) wkwkwwkkw. Jadi lu harus berbaur lagi sama orang thor, biar keliatan lu orang beneran hehehe. (Abaikan).

    • Yah bingung yah ama ceritanya? Itu intinya krystal bisa liat amber dimasa lalu krn kornea mata dia skrng adl kornea mata victoria (victoria pacar amber jaman dulu), begicu. Aaah bagus berartituh orang, sakit2 tapi semangat. Iyanih, gue jalan aja nunduk mulu kek babi hutan hahaa. Thanks ya udah komen!

  3. I miss this author so much hahaha
    Apa kabar kak?
    Sejujurnya saya blm baca crita ini dan memutuskan buat g baca dulu karna sesuatu hal
    Baru buka lagi ni wepe br kemaren ini kak karna beberapa bulan terakhir agak sibuk buat skripsi
    U know lah kak perjuangannya hahaha
    Jd maap kl selama ini menghilang
    Do u still remember me?
    Im so sorry kak blm bisa nepatin janji buat ngemail ff
    Karna emang blm nemu scene penghubung awal dan akhirnya
    Juga karna emang sibuk nugas akhir
    So sorry kak T.T
    I’ll read later kak 🙂
    Thanks udah terus bertahan nulis ff 🙂

    • I do still remember you, hahaa. Its okay skripsi jangan didistrak sama apapun yah sekali kedistrak, bisa melar waktunya kyk gue :/
      Selamat mengerjakan skripsi! Oke latter lah dibaca, kalau kurang paham ama ceritanya bisa baca komen2nya. I’ll see yah!

      • Skrg udah selese kak skripsinyaaa 😀 alhamdulilah eggk molor makannya skrg bisa main2 lg kesini hehe
        Oke kak nanti kl udah d baca bakal komen kok kak 😀

  4. Alhamdulillah wasyukurilah akhirnya lu update mbak..!
    Awalnya sih bingung diawal gue kira ini semacam reinkarnasi gitu tapi setelah baca vic pov yang nyumbangin kornea matanya buat krystal gue baru ngeh trnyata selama ini seperti itu to..
    Gue juga mau koment ttg curhatan kehidupan loe di wp ini,dan ternyata cerita hidup loe gak kalah ‘bersaing’ sma fanfic2 bikinan lo thor..!!bener bener daebakk
    Dan dari semua author kryber,cuma kamu yang tulisannya sangat elegan 🙂
    Terimakasih

    • Terimakasih krn sudah paham akan cerita ini, sebenernya logikanya mudah sih asal gak males nyambungin ceritanya. Wahaha ff guekan kebanyakan serem2 kalau mirip2 ama gue, serem dong gue haha
      Thank you, Dengga udah komen I’ll see yaah :))

  5. thor jujur nih
    aku masih rada bingung ama ceritanya
    hub.kryber ama victoria apa?
    tapi nggak papa lah
    oke aku tunggu kelanjutan cerita yg lain

  6. Kok ffnya excellent bngt ya thor? Ahhhh♥ tp gak ngerti sm bahasa jermannya, ya ampun;v yaahhh thor jgn seperti itu, semangat!’-‘)9

  7. sbnrnya gw penasaran ama isi otak lo kak hahaha
    Isi otak lo gmn sh kak sbnrnya?
    Mksdnya apa yg lo pikirin kl lg nulis?
    Mksdnya kok bisa lo ada ide buat nulis ff genre macem gini kak?
    D indo baru ada 2 kn ya author yg nulis ff genre macem gini yg mnurt gw keren
    Seriusan keren kak
    Bukan karna pgn cari muka ama lo -gw bukan tipe org yg pgn cari muka sama author biar di kasi pewe atau semacemnya- tp bnr2 keren kak gw suka bgt ff2 lo tu
    Kl ff lo jelek y gw blg jelek tp ini bnrn keren kak
    Baru ff roti yg melodi mimpi ama -hampir- semua ff lo yg bikin gw speechless sekali kak 😀
    Knapa g nulis novel aja kak?
    Jangan brenti nulis peliiiiiiissssss
    Hahaha
    Keren kak 🙂

  8. Suka sm ceritanya,,simple ada sweetnya n yg jls bikin reader mikir,sbnrnya ni crta apa? Tp bru bikin ngeh pas d ending 👍
    Genrenya mirip sm ff author Laylashindu,,, mnrt gw 😸

  9. Masih bingung soal part di awal disitu siapa y thor yg mimisan gitu amber or krystal?
    Klo flashback victoria si vic kan yg sakit dan mimisan gtu?? Apa diantara kryber sakit ke vic juga?? Aduhh ngaco deh sy jadinya haha

  10. karna aku reader yg baik, jd aku baca seluruh komen dr awal sampai akhir, and.. so thats the reason why krystal feels like she ever saw Amber somewhere >.<
    I finally got it!! *wiped invisible tears*

    well author, don't be a zombie.. unless its a cute one ^^
    zombie's phase only happened to the fragile student who tried to finish her thesis than reading a bunch of kryber fanfics and shipping them like a mad woman. for example like me.

    btw. U're doing a good job. see u around~

  11. Pas bagian Tertentu gw aga keringet dingin bacanya,..nanggung kenpa ga di lanjutin hahahaha

    Semangat terus author kesayangan gw ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s