For the Time Being (Chapter One)

Standard

Hallo, readers! Bagaimana kabar kamu-kamu? Semoga baik ya, aameen. Oke gue kembali disini dengan fanfic berchapter yang akan gue post seminggu sekali, totalnyasih hanya akan ada dua chapters. Fanfic ini bukan fanfic Kryber atau Jungli seperti biasanya, fanfic ini merupakan fanfic dengan cast member Soshi. Pairingnya bakal terungkap setelah kalian baca.

Fanfic ini bukanlah karangan gue namun merupakan karangan salah seorang reader gue yang gak setia-setia amat. Dia buat fanfic inisih awalnya karena sempat ditantang oleh salah satu author yang biasa menulis fanfic dengan cast member Soshi dan f(x), tapi sepertinya tujuannya bukan itu lagi. Tujuan utamanya lebih ke dia udah terlanjur janji sama gue, gitu katanya.

Gue tau ini readersih udah setahun lebih tapi mulai ngobrol rada banyak memang baru satu bulan ini. Kalau mau tau dia kayak apa bisa dilihat komen-komen dia di beberapa post gue dengan username ‘Xx’. Oke, gue rasa pembukaannya udah cukup and Please anticipate and put a comment or simply a greeting to this author. Enjoy!

Tittle      : For the Time Being (Chapter One)

Author : AND (Xx)

Casts     : Soshi Members+ Jessica Jung

FOR THE TIME BEING

Aku melihat dirinya berjalan menjauh. Meninggalkanku tanpa mengucap sepatah katapun. Aku hanya dapat terdiam melihatnya pergi. Tanpa dapat kucegah, langkah kaki itu melangkah semakin menjauh, meninggalkanku bersama sepucuk surat yang beberapa saat lalu ia tinggalkan untukku.

“Aku mencintaimu Kwon Yuri :)”

 

xxx

Yuri POV

“Aku merindukanmu dear.” Kuusap potret sosoknya yang terbingkai rapih di atas meja kerjaku, sosoknya tersenyum begitu manis. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Gesture yang tanpa sadar selalu aku lakukan ketika aku sedang merasa tidak nyaman. Setidaknya itu membuatku merasa lebih lega. Seakan-akan beban itu hilang bersama helaan nafasku.

Mataku memanas, rasa sesak itu tiba-tiba datang, menyergap, membuatku kesulitan mengambil nafas… sakit itu kembali hadir. Kembali memaksaku mengeluarkan air mata tanpa dapat kucegah. Bodoh! Bukankah aku telah berjanji bahwa aku tak akan menangisinya lagi? Oh come on dude! Bukan saatnya lagi kau menangisinya. Bahkan aku berani bertaruh bahwa ia telah bahagia sekarang. Tanpaku.

Apa yang dapat kuperbuat sekarang? Tidak ada. Hanya dapat merindukannya, merindukannya dengan sangat. Memandangi sosoknya lewat potret yang kini tengah kugenggam. Selalu berhasil mengaktifkan saraf-saraf otakku untuk kembali mengenang seluruh kenangan tentangku bersama dirinya. Selalu berhasil membuat alam bawah sadarku kembali menghadirkan sosoknya dalam pandangan mataku.

“Terimakasih karena sudah mencintaiku Kwon Yuri.”

“Aku hanya ingin mencintaimu selamanya Jessica. Hanya itu, apa bisa?”

“Lihat aku, aku mencintaimu. Tak peduli apa yang akan terjadi. Aku akan tetap mencintaimu Yuri-ah”

                Kata-katanya saat itu bahkan masih dapat kuingat dengan sangat jelas. Aku merindukanmu Sooyeon-ah. Aku merindukan semuanya. Suaramu, belaianmu, kecupanmu, pelukanmu. Tak bisakah kau kembali padaku Jung Sooyeon? tak bisakah kita kembali bersama? Seperti dahulu?

Aku gila, ya mungkin aku sudah gila. Dia telah lama pergi meninggalkanku tanpa penjelasan, tanpa kata. Meninggalkanku seorang diri. Kini dia hanya memberiku kesempatan untuk sekedar bertatap muka dengan potretnya. Dengan sosoknya yang tak lebih dari selembar kertas foto. Berbicara dengan potretnya layaknya seorang pasien rumah sakit jiwa.

Maafkan aku. Sungguh maafkan aku, aku menyesal, maafkan aku. Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi saja untuk sekedar mengungkapkan betapa aku mencintaimu. Betapa aku takut kehilanganmu Sooyeon-ah.

Suaranya yang hingga kini masih begitu jelas kudengar saat berucap cinta dengan begitu mesra, sentuhan lembutnya yang selalu membuatku nyaman, kecupan manisnya yang sudah seperti candu bagiku, sungguh semuanya masih dapat kuingat dengan jelas. Selalu kuingat walau itu semua sudah lama berlalu.

Ahh… Aku bisa gila bila terus menerus menginginkannya untuk kembali kesisiku. Aku bisa gila hanya karena terlalu merindukannya. Lupakan dia Kwon Yuri! Come on kau bisa melanjutkan hidupmu tanpanya.

“Hey…” Aku merasakan tepukan lembut dibahuku. Refleks aku menengadahkan kepalaku.

“Oh hey,” Aku tersentak melihat siapa yang kini ada di hadapanku. Tergesa aku membereskan foto Jessica. Kembali memasukkannya kedalam laci meja kerjaku.

Kulihat dirinya menghela nafas berat. Ahh… aku tahu apa yang kini akan diucapkannya, apa yang ingin ia katakana karena memang selalu seperti itu. Aku sedang tak ingin mendengar sesuatu yang membuatku muak. Sedang tidak ingin mendengar ceramah panjangnya yang hanya membuat telingaku memanas. Tak tahukah mereka betapa kehilangannya diriku? Sudahlah tak akan pernah dapat memahaminya.

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini?” Gadis itu bertanya dengan tatapan yang seolah tengah mengasihaniku. Oh come on aku baik-baik saja.

“Apa yang sedang kau bicarakan Fany-ah?”

“Berhentilah, kumohon. Kau akan terus teluka bila tak juga merelakannya. Kau akan semakin sakit bila terus menerus mengingatnya.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak sedang dan tidak akan baik-baik saja bila kau terus mengingatnya. Menginginkannya kembali. Terimalah kenyataan bahwa dia takkan bisa kembali lagi bersamamu.”

I’m Okay Tiff! Mengapa kau sibuk sekali mengurusi semua urusanku?” Aku mulai terganggu dengan keberadaannya. Aku segera merapihkan file-file yang masih berserakan diatas meja kerjaku. Bergegas untuk segera bangkit dan menginggalkan gadis yang masih berdiri di depanku. Aku benci situasi ini, selalu saja mereka datang sesuka hatinya, memberiku ceramah panjang lebar yang hanya membuatku sakit kepala.

“Mau pergi kemana? Menghindar? Lagi?” Tiffany menahan pergelangan tanganku saat aku ingin pergi meninggalkannya. Membuat langkahku tertahan.

“Bukan urusanmu.” Aku menyentak tangannya hingga terlepas dari pergelangan tanganku. Segera meninggalkan Tiffany yang masih terdiam di ruang kerjaku.

Sial! Aku benci mereka. Tak mengertikah mereka bahwa aku merindukan Jessica? Sangat merindukannya?

xxx

Jessica POV

Baby…” Aku yang tengah membaca majalah di ruang tengah apartemennya sontak menengadahkan kepalaku begitu mendengar suara yang begitu familiar menyapaku. Kekasihku, Kwon Yuri.

Hey baby. Bagaimana harimu?” Aku mengulurkan tanganku. Menyambutnya dalam pelukanku. Menepuk-nepuk sofa di sebelahku yang kosong. Mengisyaratkannya untuk segera duduk di sampingku.

“Melelahkan namun menyenangkan Sica-ah.” Dia tersenyum. Aku mendekat dan mengecup bibirnya sekilas. Aku mengacak rambutnya. Membuatnya mengerucutkan bibirnya karena rambutnya menjadi berantakan.

“Apa yang membuatmu senang hmm? Kau dapat menceritakannya padaku.”

“Tenderku diterima baby. Proyek yang selama ini aku perjuangkan ternyata tidak sia-sia.” Dia kembali menyunggingkan senyumnya sembari memelukku. Mengecup kepalaku berkali-kali. Membuatku ikut tersenyum tanpa sadar. Sikapnya selalu dapat membuatku merasa berharga.

Jinjja?

Ne. Presentasiku tadi berjalan lancar.  Walau tadi sempat ada beberapa masalah teknis namun aku dan Yoona dapat mengatasinya.” Tangannya merapihkan poni yang menutupi sebagian wajahku.

“Lalu kapan proyekmu itu akan dimulai? Bukankah Sooyoung juga akan ikut serta dalam proyekmu itu?” Aku bertanya kepada Yuri karena tadi dia hanya menyebut Yoona yang ikut mendampinginya presentasi. Karena sepengetahuanku Yuri, Sooyoung dan juga Yoona terlibat dalam satu firma yang sama.

“Ahh.. ne aku lupa memberitahukannya padamu. Hari ini Sooyoung tak dapat menemaniku untuk presentasi kepada client. Jadi hanya Yoona saja yang dapat menemaniku.”

Arraseo. Apa kau lelah? Kau ingin aku membuatkan sesuatu untukmu? Susu hangat mungkin?” Aku mengusap lembut kepalanya. Lelah di wajahnya sangat terlihat. Maklum saja, semalam ia baru bisa memejamkan matanya saat waktu telah menunjuk di angka empat.

Aniyo. Kau tak perlu melakukan apa-apa padaku baby. Aku hanya butuh pelukanmu. Kemari, biarkan aku memelukmu.” Dia kembali memelukku. Melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Direbahkannya kepalanya di pundakku, ia memejamkan matanya.

“Kau sudah makan?” Aku bertanya sambil mengusap-usap kepalanya. Dia menggelengkan kepalanya. Membuatku langsung menegakkan badanku. Hal itu membuat Yuri kembali membuka matanya. Terlihat raut wajahnya yang merasa terganggu.

Wae? Aku lelah Sica-ah, biarkan aku beristirahat. Pinjamkan aku bahumu. Aku sangat lelah.” Dia mengerucutkan bibirnya. Membuatku spontan mencubit pipinya gemas. Dia meringis kesakitan akibat perbuatanku. Pipinya tampak memerah.

No. Kau harus memakan makan siangmu terlebih dahulu Yul. Setelah itu aku akan mengijinkanmu untuk beristirahat.” Aku bangkit dan bergegas menuju pantry. Meninggalkan Yuri yang menggerutu sendiri di ruang tengah karena permintaannya tidak kuturuti.

Aku membuka lemari pendingin yang berada di sudut ruang. Melongok, mencari-cari adakah makanan yang dapat kuberikan untuk Yuri. Namun nihil. Aku tak menemukan makanan atau bahan makanan sekalipun dalam lemari pendinginnya. Aku menepuk dahiku. Sejenak lupa bahwa aku dan Yuri belum belanja keperluan bulanan. Sehingga stok makanan di apartemen Yuri habis.

Aku kembali ke ruang tengah dan menemukan Yuri tengah bergelung di atas sofa sambil memeluk bantalan sofa. Aku duduk di samping tubuhnya. Merapihkan rambutnya yang menutup sebagian wajah tampannya.

Baby ireona…” Aku menunduk mencium pipinya.

“Nghh..” Dia menggeliat. Tampak enggan untuk membuka matanya.

Ireona…” Aku kembali menggoncang tubuhnya. Memaksanya untuk terbangun.

“Biarkan aku beistirahat Sica-ah. Aku lelah.” Dia kembali bergelung. Berbalik memunggungiku. Menghadapkan tubuhnya pada sandaran sofa. Dia juga menutup kepalanya dengan bantalan sofa yang tadi ia peluk.

“Jangan seperti anak kecil Kwon Yul. Kajja kita makan di luar. Kau tak memiliki bahan makanan apapun yang dapat kuolah untuk makan siangmu.”

Shireo… Aku tidak lapar.” Aku dapat mendengar gerutuannya dengan jelas walaupun ia menutup kepalanya dengan bantalan sofa. Tidak ada cara lain selain memaksanya untuk bangun.

Aku mengampit pergelangan tangannya dan langsung memaksanya untuk duduk. Dapat kulihat raut wajahnya yang merasa terganggu dengan aksi spontanku. Aku hanya terkikik melihat tingkahnya.

Kajja kita makan di luar.”

Arraseo.” Dia bangkit sambil mengucek-ucek matanya. Masih tampak wajah mengantuknya.

“Aku akan membasuh wajahku sebentar. Kau bersiap-siaplah dahulu.” Dia beranjak menuju kamar mandi. Sementara itu aku masuk kedalam kamarku. Berganti baju dan merapihkan make-up ku. Tak berapa lama kemudian aku keluar dan Yuri pun telah siap.

Kajja.”

Yuri menggandeng tanganku untuk segera bergegas keluar apartemen. Aku suka. Selalu suka saat ia menggenggam tanganku. Terasa nyaman, Lembut. Aku merasa Yuri begitu melindungiku saat ia menggenggam tanganku.

Kami berjalan menuju lift untuk turun menuju basement. Dan langsung meluncur ke tempat dimana kami biasa menghabiskan waktu makan siang bersama.

xxx

 

 

Author POV

“Jadi kau akan memulai proyekmu itu dalam dua minggu kedepan?” Jessica bertanya pada Yuri yang masih sibuk dengan tablet yang sedari tadi digenggamnya.

Ne. Dan selama beberapa bulan setelah proyek itu berjalan aku akan sangat sibuk Sica-ah. Jadi kemungkinan besar aku tak bisa sering-sering menemanimu.” Yuri menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tabletnya. Selalu seperti itu. Saat ia sudah mulai mendapatkan proyek. Dia hampir tidak pernah punya waktu untuk Jessica. Bahkan sekarang pun ia sudah mulai sibuk dengan tabletnya.

“Yul habiskan dulu makan siangmu. Sejak tadi kau hanya sibuk dengan tabletmu itu.” Jessica menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Bahkan setengah dari makanannya belum ia sentuh. Semenjak mereka sampai hingga Jessica menghabiskan seluruh makanannya, Yuri masih saja sibuk dengan tabletnya.

“Sebentar. Masih ada yang harus aku kerjakan baby. Lima menit.” Dengan spontan Jessica mengulurkan tangannya. Mengambil tablet digenggaman Yuri.

Ya Jung Sooyeon! Apa yang kau lakukan?!” Yuri tampak protes. Tampak terganggu dengan kelakuan Jessica yang dengan seenaknya mengambil tablet yang sedang digunakannya.

Wae?” Jessica menatapnya dengan ice glare-nya. Membuat Yuri terdiam. Tak berani melawan.

Aniyo.” Yuri mulai mengambil sumpit dan sendok yang tergeletak di samping piringnya. Mulai menyantap makan siangnya namun masih dengan menundukkan kepalanya.

Yuri melanjutkan makan siangnya. Membiarkan Jessica bermain dengan tabletnya. Sementara Jessica membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja.

Ping…

Ponsel Jessica berbunyi. Sebuah pesan masuk. Jessica yang masih asik bermain dengan tablet Yuri mengabaikannya. Yuri mengambil ponsel Jessica. Melihat sejenak siapa yang mengirim pesan. Dari Taeyeon.

Nugu?” Jessica bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari tablet Yuri.

“Taeyeon. Taeyeon nugu?

Uhuk…uhuk…

Tiba-tiba Jessica tersedak. Membuatnya terbatuk beberapa kali. Dengan segera Jessica menyambar ponsel yang sedang digenggam Yuri.

“Ahh..dia kawanku Yuri-ah. Dia kawanku saat dulu aku bersekolah di LA.”

“Kawanmu saat di LA? Mengapa kau tak pernah menceritakannya padaku?”

“Mmmm… karena memang tak ada yang perlu kuceritakan Yuri-ah”

xxx

“Hi Sica.” Gadis itu tersenyum menyapa Jessica yang sudah sejak tadi menunggu kedatangannya.

“Oh hi.”

Mianhae aku sedikit terlambat. Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan.” Gadis itu langsung duduk di hadapan Jessica. Namun sesaat kemudian dia menyadari ada yang berbeda dari Jessica. Tampak tanda kebiruan nyaris ungu terlihat di sekitar hidung dan bawah matanya. Serta luka dibibir Jessica.

“Kau…” Tangan Taeyeon terulur menyentuh wajah Jessica namun dengan cepat Jessica memalingkan wajahnya. Menghindari sentuhan tangan Taeyeon.

Wae?” Tanya Jessica dengan raut wajah biasa saja.

“Kali ini apa lagi yang Yuri perbuat?” Tatapan Taeyeon berubah cepat. Dia merasa kembali terusik dengan apa yang telah Yuri perbuat terhadap orang yang dicintainya. Mengepalkan tangannya erat-erat. Mencoba menahan amarahnya.

Gwenchana Tae. Yuri tidak melakukan apa-apa. Memang ini salahku, aku pantas mendapatkannya.” Jessica yang menyadari perubahan raut wajah Taeyeon langsung menggenggam tangan Taeyeon lembut. Berusaha menenangkannya. Dia bertemu dengan Taeyeon karena untuk keperluan pekerjaan bukan untuk membahas masalahnya dengan Yuri.

“Ceritakan padaku apa yang telah Yuri perbuat.” Taeyeon masih saja bersikeras meminta Jessica menceritakan masalahnya dengan Yuri. Ini sudah lebih dari ketiga kalinya Taeyeon melihat wajah Jessica lebam akibat perbuatan Yuri. Dan tidak menutup kemungkinan Yuri melakukannya berulang kali tanpa Taeyeon tau.

“Sudahlah Tae. Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku mengajakmu kesini karena ada beberapa pekerjaan yang ingin aku tanyakan kepadamu.”

“Tidak. Sebelum kau ceritakan padaku apa yang Yuri lakukan padamu.” Jessica menghela nafas berat. Dia tahu Taeyeon tak akan pernah mau mengabaikan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Yuri begitu saja.

Flashback

“Sica-ah bisa kau bantu aku? Aku memerlukan sedikit bantuanmu. Ada pekerjaan yang harus segera aku selelasikan malam ini.” Taeyeon memanggil Jessica dari dalam ruang kerjanya.

“Ne. Tunggu sebentar. Aku akan segera kesana.” Jessica merapihkan file-file berserakan yang ada di atas meja kerjanya. Jam menunjukan pukul 17.00. Sudah waktunya Jessica pulang. Tapi Taeyeon memanggilnya sehingga sepertinya dia harus pulang sedikit terlambat.

Dia mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan pada Yuri. Karena hari ini mereka berencana akan makan malam bersama di luar. Tapi karena Jessica harus lembur maka mereka harus membatalkan rencana tersebut.

Aku pulang terlambat Yuri-ah. Ada yang masih harus aku selesaikan di kantor. Mianhae lagi-lagi aku tak bisa menemanimu makan malam.

Gwenchana baby. Jam berapa kau keluar kantor? Aku tetap akan menjemputmu. Jessica tersenyum membaca balasan Yuri. Dia merasa beruntung karena dia memiliki Yuri yang begitu mencintainya.

Aku tidak tahu. Sepertinya aku baru akan keluar kantor jam Sembilan nanti. Biar aku pulang sendiri. Kau tak perlu repot-repot menjemputku. Bye baby. Sampai besok. Love u :).

Jessica memasukkan kembali ponselnya kedalam tas kerjanya. Begitu dia selesai membereskan file-file di atas meja kerjanya dia langsung masuk ke dalam ruangan Taeyeon.

“Apa yang bisa aku bantu Tae?”

“Ini ada gambar-gambar yang harus aku selesaikan malam ini juga. Aku juga belum membuat presentasi untuk besok. Bisakah kau membantuku menyelesaikan gambar-gambar ini untuk kupresentasikan besok?” Taeyeon menjelaskan pada Jessica gambar-gambar apa saja yang harus Jessica kerjakan.

“Baiklah. Kalau begitu akan segera aku kerjakan.”

Jessica keluar dari ruangan Taeyeon. Dia kembali menghidupkan komputernya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Malam ini akan menjadi malam yang melelahkan bagi Jessica.

Jessica kembali terfokus dengan pekerjaannya. Ada banyak gambar kerja yang harus dia selesaikan. Dan juga ada beberapa scene yang harus dia render untuk keperluan presentasi Taeyeon esok pagi. Tanpa Jessica sadari waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Sudah terlalu malam jika Jessica memaksakan untuk menyelesaikan semuanya di kantor.

Di dalam ruangan hanya tersisa Taeyeon dan Jessica saja. Karyawan yang lainnya sudah pulang sejak pukul 18.00. Taeyeon keluar dari ruang kerjanya menghampiri Jessica. Tampak Taeyeon sudah bersiap untuk pulang. Terlihat dari tas kerja dan barang lainnya yang Taeyeon bawa.

“Sudah malam. Sebaiknya kita lanjutkan di rumah saja Sica-ah.” Taeyeon menghampiri Jessica yang masih terlihat asik dengan pekerjaannya.

“Ohh.. ne. aku tidak menyadari jika sekarang sudah pukul 21.00. Baiklah aku akan selesaikan di rumah. Kupastikan besok pagi gambar-gambar ini sudah ada di meja kerjamu Taeyeon-ah.”

Good girl!” Taeyeon mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum kearah Jessica.

“Kau pulang dengan siapa? Apa Yuri menjemputmu?”

“Aku pulang sendiri Taeyeon-ah. Aku tadi sudah memberitahu Yuri bahwa aku lembur dan akan pulang sendiri.”

“Akan kuantar kau pulang. Kajja.” Taeyeon memutuskan untuk mengantar Jessica pulang.

“Tidak usah Taeyeon-ah. Aku akan pulang dengan menggunakan taksi.” Jessica menolak halus. Dia memang berniat untuk pulang sendiri dan tidak ingin merepotkan Taeyeon.

“Aku tidak menerima penolakan. Kajja. Akan kuantar kau sampai depan rumahmu. Akan kupastikan kaus selamat sampai ke dalam kamarmu.”

“Ish kau ini memang selalu saja memaksaku. Arraseo. Tunggu sebentar aku akan membereskan barang-barangku.”

Akhirnya Jessica menyerah dan menerima tawaran Taeyeon yang ingin mengantarnya pulang. Dengan segera Jessica membereskan barang-barangnya dan mereka berdua pergi meninggalkan kantor.

Tanpa Jessica sadari Yuri sudah sejak tadi menunggunya di bawah. Dia melihat semua yang Taeyeon dan Jessica lakukan. Bercanda dan bersendagurau. Hal itu membuat hati Yuri memanas. Dia cemburu melihat Jessica berdekatan dengan Taeyeon, apalagi setelah mengetahui kalau keduanya dahulu adalah sepasang kekasih.

Awalnya Yuri berniat ingin memberikan surprise untuk Jessica karena hari ini bertepatan dengan anniversary mereka. Ingin menjemput Jessica tanpa memberitahu Jessica terlebih dahulu. Lengkap dengan bouquet bunga dan coklat kesukaan Jessica.

Namun apa yang dilihatnya membuat Yuri berubah pikiran dalam sekejap. Dilemparnya bunga dan coklat yang tadi ia genggam ke jok belakang mobilnya. Tanpa sadar meremas stir mobilnya kuat-kuat. Dia melihat bagaimana Taeyeon memperlakukan Jessica dengan istimewa. Menggandeng tangannya. Membukakan pintu mobilnya untuk Jessica. Sebagaimana seperti yang selalu Yuri lakukan untuk Jessica.

“Brengsek!” Yuri mengguman lirih. Tangannya terkepal memukul kuat stir mobil. Tak berapa lama kemudian mobil Taeyeon melaju dan menghilang dari pandangan matanya.

Diam-diam Yuri mengikuti keduanya. Dia melajukan mobilnya kearah rumah Jessica. Dalam hati terus bersumpah ia takkan membiarkan Jessica tertidur tenang malam ini…

To be Continued

Advertisements

20 responses »

  1. salah paham om yul ya ?
    blm apa2 uda panas aja
    Taeny di sini blm ada hubungan ato blm kenal ya thor ?
    mdh2an taeyeon tdk ambisi memiliki sica lagi
    kshan om yul

  2. Jangan buat yul berperan antagonis dong hehehe. Yulsic pisah Gegara yul yang kdrt nih thor? Mana di pasangin sama taeng lagi sicanya kekekke.

  3. Welcome back thor 😄
    Baru coment lg nih setelah hilang kemana ? Kekeke
    Masih penasaran gimana alur ceritanya…
    Fighting 🙌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s