For the Time Being (Final Chapter)

Standard

Hallo, readers! Gue kembali mengingatkan bahwa Fanfic ini bukan fanfic Kryber atau Jungli seperti biasanya, fanfic ini merupakan fanfic dengan cast member Soshi dan pairingnya udah kelihatan ya dari chapter sebelumnya. Fanfic ini bukanlah karangan gue namun merupakan karangan salah seorang reader gue. This is the last chapter so please anticipate by put a comment or simply a greeting to this Author. Enjoy!

Tittle     : For the Time Being (Chapter Two)

Author : AND (Xx)

Casts     : Soshi Members

 

Aku melihat dirinya berjalan menjauh. Meninggalkanku tanpa mengucap sepatah katapun. Aku hanya dapat terdiam melihatnya pergi. Tanpa dapat kucegah, langkah kaki itu melangkah semakin menjauh, meninggalkanku bersama sepucuk surat yang beberapa saat lalu ia tinggalkan untukku.

“Aku mencintaimu Kwon Yuri :)”

 

xxx

Tatapan Jessica masih tertuju pada layar laptop kesayangannya. Sejak dua jam lalu dirinya tidak beranjak. Masih terus berkutat dengan deadline pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini juga.

“Jessie makanlah terlebih dulu. Ini sudah pukul 11. Sejak tadi kulihat kau tidak menyentuh sedikitpun makan malammu.” Gadis itu menghampiri Jessica yang masih terfokus dengan pekerjaannya. Hanya gumamam “Hmmm” saja yang Jessica berikan sebagai jawaban.

“Bukan hmmm jawaban yang aku inginkan babo!” Gadis itu kini berada di hadapan Jessica dan dengan santainya ia menutup laptop yang sedang  Jessica gunakan.

Ya Miyoung-ah! Apa yang kau lakukan?! Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga!” Sebenarnya pekerjaan Jessica sudah selesai. Hanya tinggal merapihkan saja.

“Berhenti dan makanlah terlebih dulu. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi.” Tanpa merasa bersalah Tiffany keluar dari kamar Jessica menuju kamarnya. Meninggalkan Jessica yang kesal karena kelakuannya. Baru beberapa langkah Tiffany kembali membalikkan badannya.

“Oh iya aku hampir lupa. Tadi Yuri meneleponku saat aku sedang di jalan. Mianhae aku tidak langsung memberi tahu.”

“Yuri? Arraseo. Gomawo Fany-ah.”

Sedetik kemudian dia meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di samping tubuhnya. Dilihat layar ponselnya yang sejak dua jam lalu tidak ia sentuh. 13 missed calls 10 messages. Jessica memejamkan matanya. Merutuki kecerobohannya yang lupa mematikan silent mode diponselnya. Jika sudah begini dapat dipastikan dirinya akan kembali bertengkar dengan Yuri.

Tanpa pikir panjang Jessica mendial nomor ponsel Yuri. Tak lama kemudian Yuri mengangkat panggilan Jessica namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Yuri.

“Yul.” Jessica memberanikan diri membuka pembicaraan.

“Aku di bawah. Keluar sekarang.” Intonasi dingin Yuri membuatnya menyadari bahwa Yuri kembali marah padanya.

“Mau apa? Tidak. Kau pasti akan kembali memukulku.” Jessica bergidik membayangkan setiap kali mereka bertengkar Yuri selalu saja tidak bisa mengontrol emosinya. Dan berujung dengan kekerasan yang harus Jessica terima. Dan kali ini Jessica harus kembali menghadapi Yuri.

“Kukatakan keluar sekarang!”

“Tidak Yul. Kau membuatku takut. Maafkan aku. Ada pekerjaan yang benar-benar harus aku selesaikan malam ini juga. Dan aku lupa mematikan silent mode ponselku. Maafkan aku.”

“Tak ada yang perlu kau takutkan sayang. Keluarlah. Aku hanya merindukanmu.”

“Berjanjilah kau tidak akan menyakitiku.” Sebenarnya Jessica masih ragu untuk menemui Yuri. Karena dia tahu jika Yuri mulai bersikap seperti ini maka hanya akan ada penyiksaan yang akan diterimanya.

“Aku berjanji.” Yuri langsung memutus sambungan teleponnya. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Senyum tersungging di bibirnya.

You’re so dead!

Beberapa saat kemudian Jessica keluar dari rumahnya. Sementara Yuri masih di dalam mobilnya. Terlihat enggan untuk keluar.

“Masuk.” Kata-kata dingin Yuri membuat Jessica sedikit takut. Namun bila permintaan Yuri tidak digubrisnya maka Yuri akan bertindak lebih parah. Perlahan Jessica membuka pintu mobil Yuri dan masuk.

“Maaf…”

Plak…

Belum selesai Jessica bicara, tangan Yuri sudah melayang. Tepat mengenai pipinya.

“Akhh…” Jessica menjerit kaget dengan perlakuan Yuri. Perlahan air matanya menetes.

“Jangan hanya menangis! Lihat aku!” Yuri menarik rambut Jessica. Memaksa Jessica untuk tetap menatap wajahnya. Melihat ke arahnya.

“Maafkan aku. Akhh…”

“Maafmu itu tak ada gunanya!!!” Tak puas hanya dengan menampar Jessica kini Yuri membenturkan kepala Jessica kedasboard mobilnya. Sampai-sampai hidung Jessica mengeluarkan darah. Jessica hanya membiarkan Yuri melakukan apapun yang ingin Yuri lakukan. Tak ada gunanya Jessica melawan. Karena bila Jessica melawan maka Yuri akan lebih sadis menyiksanya.

“Aku tidak suka jika kau terus saja berdekatan dengan Taeyeon!” Yuri membentak Jessica. Mengabaikan darah yang keluar dari hidung Jessica. Tangannya terulur untuk mencekik Jessica.

“Ugh… hentikan. Jebal hentikan…” Jessica memekik kesakitan. Dia berusaha melepaskan cengkraman Yuri di lehernya. Jessica kesulitan bernafas karena Yuri mencekiknya dengan cukup kuat.

“Berjanjilah padaku kau akan menjauhi Taeyeon!” Yuri kembali membentak Jessica tanpa melepaskan cengkramannya di leher Jessica.

Arra. Aku berjanji. Lepash… ugh…” Jessica terbatuk beberapa kali. Dan setelah Jessica berjanji baru Yuri melepaskan cengkramannya di leher Jessica.

Jessica menutup matanya. Mencoba mengatur nafasnya. Air matanya kembali mengalir begitu saja. Ini sudah kesekian kalinya Jessica mendapatkan perlakuan menyakitkan dari Yuri saat Yuri sedang emosi.

“Aku sangat mencintaimu. Apa kau tahu?” Yuri menatap Jessica yang kini bersandar dengan wajah lelah. Dibelainya rambut Jessica lembut. Secara refleks Jessica menghindari sentuhan Yuri. Takut apabila Yuri kembali menyakitinya. Yuri tak memperdulikan penolakan Jessica. Kini Yuri menarik Jessica ke dalam pelukannya.

“Karena itu aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya. Kau mengerti huh?” Yuri mengecup lembut kepala Jessica sementara Jessica hanya bisa menangis dalam pelukan Yuri. Namun sedetik kemudian Yuri melepas pelukannya dan terlihat sedang mengecek pakaiannya.

“Basuhlah wajahmu. Bersihkan lukamu. Aku tidak ingin darahmu mengotori bajuku.”

Xxx

Jessica POV

Aku beranjak untuk segera keluar dari mobil Yuri. Namun belum sempat aku membuka pintu, tangan Yuri terlebih dulu menahan tanganku yang ingin membuka pintu mobil Yuri.

“Ikutlah denganku malam ini. Akan kuantar kau ke kantor esok pagi.”

Ne.” Aku menjawab pendek dan segera keluar dari mobil Yuri. Aku mengusap ujung hidungku. Ternyata darah yang keluar cukup banyak. Aku hanya berharap agar perlakuan Yuri tadi tidak meninggalkan bekas sedikitpun besok.

Aku masuk ke dalam rumah dan kulihat Tiffany telah menungguku di ruang tengah. Ia bangkit dan menghampiriku, kulihat ia menghela nafas. Ya pasti dia sudah tahu apa yang telah Yuri lakukan padaku.

“Aku akan berbicara padanya.” Tiffany beranjak dari tempatnya. Berniat menemui Yuri namun dengan cepat aku menghalanginya.

“Jangan! Ini salahku, aku pantas menerimanya.” Aku tersenyum. Berusaha meyakinkan Tiffany bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak ingin Tiffany menjadi korban Yuri selanjutnya.

“Kekasihmu itu gila! Sakit! Ini sudah kesekian kalinya dia berbuat kasar padamu Jess!”

“Tidak Tiff. Yuri hanya sedang emosi. Dia hanya tidak bisa mengontrol apa yang ingin dia lakukan. Dan ini memang salahku.”

“Sampai kapan kau akan terus membelanya? Sampai kapan kau akan terus bertahan dengan sikapnya? Kekasihmu itu sakit jiwa! Akan lebih baik jika kau mengirimnya ke panti rehabilitasi sekarang juga.”

Shut up Tiff! Aku yakin dia pasti akan berubah. Aku hanya perlu bersabar saja.”

“Terserah kau saja. Aku hanya berusaha menyelamatkanmu. Kau yang terus saja menolak.” Kulihat Tiffany melangkah pergi. Selalu saja seperti ini. Aku dan Tiffany selalu bertengkar bila Yuri berbuat kasar padaku. Aku tak tahu akan sampai kapan terus begini.

Aku segera masuk kedalam kamarku. Membasuh hidungku dan bergegas berganti baju. Aku memasukkan semua pekerjaanku kedalam tas. Tak lupa pula kubawa laptopku. Beruntung karena pekerjaan yang Taeyeon beri sudah selesai. Karena dapat dipastikan Yuri tak akan membiarkanku berkutat dengan segala pekerjaanku jika kami tengah bersama.

Aku segera beranjak keluar. Aku tidak ingin Yuri kembali emosi bila menungguku terlalu lama.

“Kau mau kemana?” Suara Tiffany membuatku terpaksa menghentikan langkah.

“Yuri memintaku menemaninya malam ini. Jadi aku tidak tidur dirumah Fany-ah.”

“Aku akan benar-benar menghajar gadis itu bila sekali lagi dia kembali menyakitimu.”

“Dia tidak akan menyakitiku Tiff. Sudahlah. Aku pergi dulu. Bye.

Xxx

 

Author POV

Jessica berjalan keluar dari pelataran rumahnya menuju mobil Yuri yang sedari tadi terparkir di depan rumahnya. Sedangkan Yuri bersandar di samping mobilnya. Menunggu Jessica. Di tangannya tampak bouquet bunga dan coklat yang tadi belum sempat dia berikan untuk Jessica. Yuri tersenyum saat melihat Jessica mendekat kearahnya. Begitu berbeda dengan Yuri yang tadi memukulnya.

Happy 5th anniversary baby.” Yuri menyodorkan bouquet bunga dan coklat itu pada Jessica.

Gomawo Yuri-ah.” Jessica ternyenyum tipis. Berusaha menyembunyikan perasaannya yang masih kacau.

Love you baby.” Dikecupnya kening Jessica lalu turun ke bibirnya. Kemudian direngkuhnya tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Mata Jessica memanas. Hatinya bergemuruh. Dia berusaha menahan isakannya agar tak terdengar oleh Yuri. Dia merindukan sosok Yuri yang penuh kasih sayang. Sosok Yuri yang sangat mencintainya seperti Yuri yang sedang memeluknya saat ini.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu baby. Maafkan aku.” Yuri mengecup puncak kepala Jessica beklai-kali. Mengeratkan pelukannya.

xxx

 

“Yul hentikan! Jangan lakukan itu.” Jessica berusaha mensejajari langkah kaki Yuri yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya. Dengan sedikit berlari Jessica berhasil menggapai tangan Yuri. Ditariknya tangan Yuri. Memaksa Yuri menghadap Jessica. Namun Yuri hanya menatapnya dengan tatapan marah.

Jebal… Taeyeon tidak mengerti apa-apa Yul. Jangan berbuat sesuatu yang akan membuatmu menyesal pada akhirnya.” Jessica menatap mata Yuri dalam. Memohon dengan sungguh-sungguh agar Yuri mau mengurungkan niatnya untuk mencelakakan Taeyeon.

“Kenapa? Siapa kekasihmu sebenarnya? Aku atau Taeyeon? Mengapa yang kau bela selalu saja Taeyeon?”

“Tenangkan pikiranmu Yul. Jangan kau turuti egomu. Taeyeon tidak melakukan apa-apa kepadaku. Kau hanya sedang emosi. Jebal dengarkan aku. Sekali saja.”

“Lepaskan aku!” Yuri menghentakkan tangannya kuat-kuat. Membuat cekalan tangan Jessica terlepas. Tanpa memperdulikan Jessica, Yuri melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Jessica.

“Kwon Yuri berhenti!” Jessica berteriak. Berusaha menghentikan Yuri. Namun Yuri tidak memperdulikan Jessica.

Damn it!” Jessica mendesah putus asa. Dengan tergesa masuk kedalam rumah. Menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tengahnya. Satu tangannya yang lain merogoh saku celananya. Mencari kontak Taeyeon dan meneleponnya. Berharap Taeyeon segera mengangkat telepon darinya.

“Angkat teleponku Kim!” Jessica makin panik saat teleponnya tak kunjung diangkat oleh Taeyeon. Jessica melangkah tergesa memasukki mobilnya. Tanpa pikir panjang Jessica langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera menyusul Yuri.

Disaat bersamaan Yuri tengah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menuju apartemen Taeyeon. Hanya satu yang ada dipikirannya saat ini, membunuh Taeyeon. Tanpa memperdulikan hujan yang kini tengah mengguyur dengan derasnya Yuri justru menginjak pedalnya semakin dalam. Emosinya telah mengambil alih kesadarannya.

Beberapa menit kemudian Yuri sampai terlebih dulu. Yuri memasuki pelataran parkir apartemen Taeyeon. Yuri berhenti dan segera keluar dari mobilnya. Dia tak memperdulikan mobilnya yang kini terparkir sembarangan di basement apartemen Taeyeon.

xxx

“Kim Taeyeon keluar kau!” Yuri menggedor-gedor pintu apartemen Taeyeon kasar. Tak peduli kelakuannya dapat membuat penghuni lainya terganggu.

Ya!! Kim Taeyeon!! Buka pintunya!! Keluar kau penghianat!!” Yuri terus saja menggedor-gedor pintu apartemen Taeyeon dengan tidak sabar. Dia hanya ingin segera melampiaskan semua kebenciannya kepada Taeyeon.

“Brengsek keluar kau sekarang juga!” Sekali lagi Yuri menggedor pintu Taeyeon kasar.

Cklek… pintu apartemen Taeyeon terbuka. Taeyeon berdiri di depan pintu dengan ekspresi datar. Tanpa terlihat terganggu sedikitpun.

“Apakan ibumu tidak pernah mengajarkanmu bagaimana cara bertamu yang baik huh?” Taeyeon bertanya dengan intonasi datar. Membuat Yuri semakin meradang. Tanpa peringatan dihajarnya wajah Taeyeon. Taeyeon yang tidak siap atas tindakan Yuri langsung jatuh terjerembab ke belakang.

Yuri melangkah masuk ke dalam apartemen Taeyeon. Menarik baju Taeyeon, memaksa Taeyeon kembali berdiri dan bersiap menghajar Taeyeon untuk kedua kalinya. Namun kali ini Taeyeon lebih sigap. Taeyeon menghindar membuat keseimbangan Yuri sedikit goyah karena pukulannya meleset.

Tanpa membuang kesempatan kini giliran Taeyeon yang balik menghajar Yuri. Pukulan Taeyeon tepat mengenai wajah Yuri.

“Kau tak berhak cari ribut disini Kwon!” Tangan Taeyeon terangkat. Bersiap untuk kembali melayangkan pukulannya kewajah Yuri. Namun tindakkannnya berhasil digagalkan oleh Yuri. Yuri menangkap tangan Taeyeon dan justru dia yang balik menghajar Taeyeon. Taeyeon tak sempat menghindar. Kini Taeyeon menjadi sasaran pukulan bertubi-tubi yang Yuri lakukan. Taeyeon terjatuh.

Geumanhae!!!” Suara teriakan itu membuat Yuri menghentikan pukulannya. Keduanya menoleh.

“Yul hentikan kumohon.” Sosok itu berdiri di depan pintu apartemen Taeyeon dengan nafas memburu. Dia segera menyusul Yuri begitu tahu bahwa Yuri berniat mencelakakan Taeyeon. Dan benar saja apa yang Jessica perkirakan. Keduanya kembali bertengkar sampai terlibat kontak fisik yang melukai keduanya.

“Akan kubunuh penghianat ini! Kau tak usah ikut campur!” Perhatian Yuri kembali pada Taeyeon yang ada di bawahnya. Kembali melayangkan pukulan kewajah Taeyeon. Jessica yang melihat hal itu langsung berlari menghampiri Yuri. Ditariknya bahu Yuri. Memaksa Yuri untuk menghentikan perbuatannya.

“Berhenti Yul. Berhenti. Dengarkan aku, Tae tidak seperti yang kau pikirkan. Dia tidak melakukan apa-apa padaku.” Jantung Jessica berdebar hebat. Dia terlalu takut jika Yuri melakukan hal-hal nekat yang bisa membahayakan Taeyeon.

Jessica menangkupkan tangannya di wajah Yuri. Berusaha menenangkan kekasihnya. Ditatapnya kedua mata Yuri. Masih jelas telihat tatapan Yuri yang begitu bernafsu untuk membunuh Taeyeon.

“Hentikan Yul. Kau mencintaiku bukan? Hentikan. Kita pulang sekarang juga. Arra?” Tanggannya bergetar. Dadanya bergemuruh hebat. Dia ketakutan.

Yuri menyunggingkan senyumnya mendengar kata-kata Jessica. Tatapannya berubah seketika. Menatap Jessica dengan tatapan berbeda. Jessica menyadari Yuri bukan lagi menjadi Yuri yang biasa dia kenal. Yuri yang penuh kasih sayang melainkan menjadi Yuri yang kasar dan tidak kenal belas kasih.

“Tentu aku mencintaimu Jung Sooyeon. Maka dari itu aku akan menyingkirkan dia.”

“Jangan. Kumohon Yul. Jebal…” Intonasi Jessica terdengar bergetar. Jessica berusaha mengendalikan emosinya agar tidak menangis.

“Aku akan menghabisinya. Agar dia tak lagi menjadi pengganggu di antara kita sayang.” Perlahan Yuri melepaskan tangan Jessica dari wajahnya. Digenggamnya lembut tangan mungil Jessica. Dikecupnya kening Jessica sesaat. Tubuh Jessica bergetar. Tanpa sadar air matanya mengalir.

Yuri melepas kecupannya. Dilihatnya mata Jessica yang masih terpejam. Pipinya telah basah oleh air mata. Terisak pelan.

“Sshh… jangan menangis sayang. Setelah aku menyingkirkan si brengsek itu kita akan dapat hidup tenang.” Yuri berkata dengan begitu lembut namun dalam. Jessica tahu betul jika Yuri sudah berada dalam state seperti ini maka ia akan melakukan apa saja untuk memuaskan egonya. Dan Jessica tidak ingin Yuri melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya dan juga Taeyeon.

“Kita pulang sekarang Yul. Jebal…” Jessica menatap Yuri dengan tatapan memohon. Jessica mengeratkan genggamannya. Dalam hati terus berdoa supaya emosi Yuri cepat mereda. Dan cepat tersadar.

“Pulang? Sebentar sayang. Masih ada yang harus aku lakukan.” Yuri menyeringai. Bersamaan dengan itu dia merogoh saku celananya. Nafas Jessica tercekat melihat apa yang kini ada dalam genggaman Yuri.

Geumanhae Yul geumanhae. Kita pulang sekarang juga. Kumohon.” Jessica menggelengkan kepalanya berkali-kali. Berusaha menghentikan Yuri. Air mata Jessica semakin deras mengalir.

“Sshhh… tenang saja sayang. Kau cukup menjadi penonton pertunjukan mengasyikkan ini. Akan kuberikan satu jarinya untuk kau jadikan koleksi.” Yuri kembali menyeringai.

“Aku sangat mencintaimu. Kau tahu itu? Aku tak akan membiarkan seorangpun mengganggumu.” Diusapkannya belati itu di wajah Jessica. Menyusuri garis rahang Jessica. Turun sampai ke lehernya. Membuat mata Jessica terpejam. Jessica menahan nafas.

Yuri berubah menjadi Yuri yang tak lagi dia kenal. Dan Jessica hanya bisa berdoa supaya Yuri mau menurutinya untuk segera pergi meninggalkan apartemen Taeyeon.

Yuri bangkit untuk menghabisi Taeyeon. Namun dengan cepat Jessica menariknya kembali. Di kalungkan tangannya ke leher Yuri. Jessica menempelkan bibirnya ke bibir Yuri. Mengulumnya lembut. Jessica sudah tak tau harus berbuat apa lagi untuk menghentikan Yuri. Berharap dengan cara ini akan membuat Yuri tersadar dan kembali menjadi pribadi lembut yang Jessica kenal.

Tapi sepertinya semua usaha Jessica sia-sia. Yuri menghentakkan tubuh Jessica. Membuat tautan bibirnya terlepas. Jessica melihat Yuri berjalan kearah Taeyeon dan bersiap menghunuskan belatinya.

Yuri menarik tubuh Taeyeon untuk kembali berdiri dan sedetik kemudian diayunkan tangannya ke arah Taeyeon. Namun hal yang terjadi selanjutnya justru membuat Yuri membelalakkan mata tidak percaya.

“Ugh…” Jessica mengerang. Sementara Ujung belati itu terhunus ketubuh Jessica. Tertancap sempurna di perutnya. Kejadian itu berlangsung begitu cepat tanpa bisa Yuri hindari. Belati yang seharusnya tertanam di tubuh Taeyeon justru kini mengenai Jessica. Melukainya. Dengan perlahan Jessica menggenggam belati yang masih menancap di tubuhnya. Jessica menarik belati itu dengan tangannya. Belati itu terlepas dari genggaman Jessica dan terjatuh di samping tubuhnya.

“Ti..tidak mungkin. Si..Sica…” Yuri menatap tak percaya dengan apa yang baru saja diperbuatnya. Jessica meluruh di pelukan Yuri. Sementara Taeyeon terdiam melihat keduanya. Menatap tak percaya.

“Kwon Yuri babo-ya.” Jessica berkata disela helaan nafasnya yang terengah. Tersenyum tipis sambil menggenggam tangan Yuri.

“Si..sica-ah.” Yuri terpaku. Terdiam tak percaya bahwa ia telah menusuk kekasihnya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat melihat kekasihnya kini berada dalam pangkuannya. Terkulai tak berdaya.

“Sudah kukatakan jangan lakukan itu.” Jessica berusaha untuk tetap tersadar. Susah payah ia mengambil nafas. Tersengal.

“Sica-ah mianhae. A..a..aku tidak bermaksud…”

“Sshh… sudahlah. Lupakan. Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti itu lagi arra?” Jessica tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Yang kucintai itu kau Yul. Bukan Taeyeon. Apapun yang dia lakukan tidak akan membuatku berubah. Tak seharusnya kau berbuat sampai sejauh ini.” Jessica terbatuk beberapa kali. Darah dari luka tusuk itu semakin merembes. Tidak hanya membasahi pakaian Jessica tapi juga milik Yuri.

“A..aku…” Mata Yuri memanas. Yuri tak lagi dapat berkata-kata. Genggaman tangannya semakin erat.

“Berjanjilah padaku kau tak akan melakukan hal-hal bodoh seperti itu lagi. Aku mencintaimu Kwon Yuri. Jangan pernah pedulikan apa yang selama ini orang lain katakan.” Bersamaan dengan itu Jessica melihat Taeyeon mendekat dan menarik Yuri untuk berdiri.

“Brengsek!!!”

Bugh… tanpa pikir panjang Taeyeon memukul Yuri tepat di perutnya. Membuat pelukan Yuri terlepas dan membuat Jessica tergeletak dengan masih bersimbah darah.

“Kau menusuknya!!! Kau melukainya!!! Akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri!!!” Taeyeon melayangkan pukulannya berkali-kali kearah Yuri. Membuat Yuri jatuh tersungkur.

Geumanhae.” Suara lirih Jessica terdengar. Lemah. Mencoba untuk menghentikan keduanya. Namun Taeyeon yang sudah terbakar emosi menulikan telinganya.

“Aku akan membunuhmu!!!” Taeyeon terus memukuli Yuri tanpa ampun membuat Yuri kini tergeletak akibat pukulan yang terus Taeyeon lakukan. Hidungnya mengeluarkan darah dan ujung bibirnya yang robek juga berdarah.

Yuri sudah tidak bisa berdiri. Tubuhnya terasa remuk. Taeyeon tidak hanya memukuli wajahnya namun juga berulang kali menendang dan menginjak perutnya.

Melihat kekasihnya yang semakin tak berdaya membuat Jessica berusaha bangkit. Dia merasa harus menghentikan Taeyeon sekarang juga. Jessica berusaha untuk berdiri namun gagal. Rasa sakit di perutnya makin menjadi. Membuatnya tak sanggup untuk sekedar berdiri.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, Jessica merangkak. Berusaha menghampiri Taeyeon dengan satu tangan menahan luka diperutnya. Dia menghampiri Taeyeon yang hanya berjarak dua meter dari tempatnya. Dengan susah payah Jessica menghampiri Taeyeon.

“Taeyeon-ah berhenti. Kumohon berhenti.” Taeyeon masih tak memperdulikan Jessica.

Geumanhae...” Taeyeon merasakan sentuhan lembut di bahunya. Refleks dia menolehkan kepalanya.

“Jessica…” Taeyeon segera menghentikan pukulannya. Dialihkan seluruh perhatiannya kepada Jessica. Direngkuhnya dengan protektif tubuh Jessica kedalam pelukannya.

Jebal geumanhae Taeyeon-ah.” Jessica menggulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Taeyeon. Tak ada cara lain untuk menenangkan Taeyeon jika Taeyeon tengah emosi.

“Sica-ah, gwenchana?” Jessica memejamkan matanya. Berusaha menahan sakit di perutnya. Sedetik kemudian Jessica membuka matanya. Menatap sedih kearah Taeyeon.

“Kita ke rumah sakit sekarang. Tunggu sebentar aku akan memanggilkan ambulance.” Taeyeon merogoh cepat saku coatnya. Namun sebelum Taeyeon sempat mengambil ponselnya, tangan Jessica lebih dulu terulur. Mencegahnya. Menahan tangan Taeyeon.

Wae? Kau harus segera mendapatkan pertolongan Sica-ah!” Wajah Taeyeon tampak gusar. Masih berusaha menghubungi paramedis.

“Taeyeon-ah dengarkan aku.” Jessica berusaha mengalihkan wajah Taeyeon untuk kembali menghadap Jessica. Taeyeon mengalihkan perhatiannya pada Jessica.

“Kumohon jangan lagi bertengkar dengan Yuri hanya karena masalah sepele.” Jessica mengernyitkan dahinya menahan sakit. Menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Aku menyayangimu, sangat. Tapi yang kucintai adalah Yuri. Bukan kau Taeyeon-ah. Kau hanyalah bagian dari masa laluku. Tidak lebih.”

Wae?! Apa lebihnya dia dibanding aku?!” Tanpa sadar Taeyeon menaikkan intonasi suaranya.

“Aku tidak tahu. Yang kutahu aku mencintainya. Mengertilah Tae…” Tanpa keduanya sadari, Yuri berusaha berdiri. Mengambil belati yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Beruntung posisi Taeyeon yang membelakanginya membuat Taeyeon tak menyadari bahwa Yuri tengah mendekat kearah keduanya. Namun Jessica melihat apa yang Yuri lakukan. Dan dia tahu betul apa yang kini ada dikepala Yuri. Apa yang ingin dilakukan Yuri.

Hajima…” Dengan susah payah Jessica berusaha berbicara. Taeyeon yang tak mengerti maksud Jessica menelengkan kepalanya.

Mwo?

Hajima… Jangan laku…” Namun Jessica terlambat. Yuri terlebih dulu menarik tubuh Taeyeon. Dan dengan sisa tenaganya, Yuri menghunuskan belatinya berkali-kali ketubuh Taeyeon. Melihat hal itu tanpa sadar air mata Jessica kembali menetes. Habis sudah pertahanan Jessica. Dia tak dapat menghentikan keduanya.

“Bodoh! Kwon Yuri bodoh!” Jessica terisak lirih. Dia hanya bisa menangis melihat Yuri yang masih menusukkan belatinya ketubuh Taeyeon.

“Hentikan Yul. Jebal...” Kata-kata Jessica terdengar semakin lirih. Kesadaran Jessica perlahan memudar. Kelopak matanya tertutup. Dan bersamaan dengan itu Yuri mulai kehabisan tenaga. Tubuh Yuri terjatuh di samping tubuh Taeyeon yang bersimbah darah. Kini ketiganya tergeletak tak sadarkan diri di dalam apartemen Taeyeon.

xxx

Yuri POV

Aku telah membunuh Jessica. Ya. Akulah pembunuhnya. Aku yang menusuk Jessica dengan tanganku sendiri. Aku yang membuat Jessica kehilangan banyak darah dan berakhir dengan berhenti berdetaknya jantung Jessica. Akulah semua penyebabnya. Aku seorang pembunuh!

Tidak!

Aku bukan pembunuh! Bukan aku yang membunuh Jessica. Bahkan aku masih cukup waras untuk membedakan mana hitam mana putih. Aku tidak mungkin melakukannya. Bukan aku yang membunuh Jessica.

Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Mana mungkin aku membunuh dia?

“Akhh…lepass…kumohon.”

“Lepas Yul… Akhh… kau menyakitiku.”

Ahhh… kepalaku mendadak berdenyut hebat. Sakit sekali. Membuatku tanpa sadar menarik rambutku. Gesture yang begitu sering aku lakukan di alam bawah sadarku saat aku sedang kesakitan.

Suara-suara itu, teriakan itu…

Aku seperti mengenalnya. Ya, aku begitu mengenalnya. Jung Sooyeon. Jessica Jung.

“Aku mencintaimu Sica-ah.”

“Kau hanya milikku. Tak akan kubiarkan seorangpun mendekatimu, menyentuhmu.”

“Aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuhmu!!!”

Shit!!! Aku menarik rambutku lebih kuat dari sebelumnya. Berharap rasa sakit ini menghilang. Suara-suara itu sangat menyiksaku. Suara-suara itu bagaikan nyanyian kematian yang terus menghantuiku. Memaksaku untuk terus terjaga.

Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang terjadi denganku? Bukankah aku seharusnya berada di balik meja kerjaku? Menggarap proyek-proyek yang sejak kemarin aku abaikan? Namun mengapa sekarang aku berada di ruang ini? Bahkan mereka membiarkanku sendiri. Meninggalkanku tanpa seorangpun yang dapat aku ajak berbicara? Dimana aku?

Ya! Keluarkan aku dari ruangan ini!

“Aku tidak akan menyakitimu sayang.”

“Engh.. Sadarlah yul! Aku Jessica. Kekasihmu.”

“Kita lihat saja siapa yang pantas untuk bersamanya. Kau atau aku?”

“Arghhhhh….” Aku menjerit frustasi. Suara-suara itu berhasil membuatku semakin merasakan pusing yang sangat. Aku bangkit dari kursiku. Mendekat kearah tembok yang kini mengelilingiku.

Bugh…

Kuhantam keras tembok putih di hadapanku. Membiarkan permukaan tembok itu beradu dengan tanganku. Bersamaan dengan itu darah merembes dari permukaan tanganku yang robek akibat gesekan tanganku dengan permukaan tembok itu.

“Bodoh! Aku membunuh Sooyeon! Aku telah membunuhnya!” Aku menyandarkan dahiku pada tembok di hadapanku. Jatuh meluruh. Air mataku tak lagi menggenang, namun kini telah menetes.

Bodoh!

Sudah seharusnya aku keluar. Menarik diri dari semua kesakitan yang telah kuciptakan dengan sangat indahnya. Aku justru tengah menikmatinya. Menikmati seluruh rasa sakit ini.

Mungkin aku memang sudah gila karena tak sedikitpun air mataku yang menetes saat tubuh itu tertutup dan terkubur oleh dinginnya tanah. Mungkin kewarasanku telah mati. Pergi bersama dirinya.

Brengsek! Andai saja aku tak pernah mengenal manusia itu. Kim Taeyeon. Telah begitu rupa menghancurkan segalanya. Menghancurkan kebahagiaanku dan Jessica. Hidupku juga Jessica hingga malam itu tiba. Kau, Kim Taeyeon menghancurkan segalanya, memaksaku untuk bertindak anarkis. Membuatku menghilangkan dua nyawa sekaligus. Dan kini aku yang kini harus menderita.

Terkungkung dalam ruang kecil dan pengap. Tidur beralaskan kain tipis. Jeruji besi yang seolah menatapku dingin. Menertawakanku. Hanya serangga-serangga kecil yang menemaniku saat aku memejamkan mata.

Selamat. Kalian semua berhasil membuatku semakin muak. Semakin membenci diriku sendiri. Dan kini aku hanya berharap malaikat maut segera datang menjemputku. Segera mengambil nyawaku agar aku dapat segera bertemu dengan kekasihku.

Aku kembali bergelung di atas lantai yang dingin. Dalam kediamanku. Terus berdoa agar aku segera pergi menyusulnya. Agar aku segera terbebas dari semua kesakitan dan penderitaan ini.

xxx

Aku melihat dirinya berjalan menjauhiku. Meninggalkanku tanpa mengucap sepatah katapun. Kenapa? Apa yang telah aku perbuat? Mengapa ia pergi begitu saja?

Aku hanya dapat terdiam melihatnya pergi. Lidahku kelu. Bahkan untuk sekedar memanggil namanya. Menahannya untuk tidak meinggalkanku. Tanpa dapat kucegah, langkah kaki itu kian menjauh, meninggalkanku bersama sepucuk surat yang beberapa saat lalu ia tinggalkan untukku.

Kini sosok itu telah menghilang. Aku terpaku menatap surat itu. Kubuka lembaran kertas itu. Kubaca deretan huruf yang tersusun rapi membentuk sebuah kalimat. Sedetik kemudian mataku memanas. Dadaku sesak. Hatiku merintih perih. Aku tak sanggup menahan sakit ini. Aku tak sanggup melihatnya pergi.

Kumohon jangan tinggalkan aku. Maafkan aku Sica-ah. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji. Maafkan aku.

Aku jatuh terkulai. Air mataku tumpah. Aku tak dapat menahannya lagi. Sesak. Dadaku terasa begitu sesak. Rasa sakit itu menghimpitku semakin kuat. Aku menyesal. Namun penyesalanku tak akan dapat membuatnya kembali. Tak akan pernah bisa menghidupkannya kembali. Dia tak akan pernah memberikanku kesempatan kedua.

Surat itu terlepas dari genggaman tanganku. Terhempas tertiup angin. Terbang dan menghilang bersamaan dengan sosoknya yang tak akan pernah kembali.

“Aku mencintaimu Kwon Yuri :)”

Aku tersentak. Terbangun dari tidurku. Nafasku terengah. Kuusap kedua pipiku. Basah. Tanpa sadar aku menangis dalam tidurku. Jessica, kekasihku. Kembali hadir dalam tidurku.

Aku merindukannya Tuhan. Biarkan aku kembali bertemu dengannya. Biarkan aku kembali bersamanya. Aku mencintainya, aku tidak bermaksud membunuh dia. Maafkan aku. Aku menyesal. Sangat menyesal.

Kubiarkan air mataku kembali menetes. Terisak pelan menyesali semua perbuatanku.

xxx

Years Later…

Yuri POV

Kini aku memang telah keluar dari tempat mengerikan tersebut. Aku mendapatkan keringanan besar-besaran karena aku dinilai berkelakuan baik kemudian aku diminta untuk membantu proyek perluasan rumah tahanan yang sudah setengah berjalan dan menyelamatkan banyak nyawa dari suatu kecelakaan kerja. Namun aku tetap tak bisa lagi mengenali apa yang kini ada di dalam diriku. Aku dan dia. Sudahlah, aku tak lagi memilikimu, bahkan bayanganmu. Semuanya telah mati bersama kenangan yang selama ini selalu menemaniku. Dalam kesendirianku.

Aku menikmatinya. Kesendirianku, kesepianku, juga kerapuhan hatiku. Tak peduli dengan semua omongan orang yang terus saja mengasihiku. Memaksaku untuk tetap melanjutkan hidupku yang kini tanpanya. Memaksaku untuk melupakannya. Ohh ayolah bagaimana bisa aku melupakannya? Aku mengenalnya bukan hanya dalam hitungan hari. Aku mengenalnya hampir seluruh dari masa remajaku. Melewati semua dengannya.

Berbagi canda, tawa, tangis, semua kulalui bersamanya. Lalu bagaimana mungkin kini semua orang menyuruhku untuk melupakan dia? Untuk tak lagi mengungkit apa yang dulu pernah kami lalui bersama? Seakan hal yang harus aku lakukan itu hanyalah semudah membalikkan telapak tangan.

Maafkan aku untuk sesuatu yang tak pernah dapat kuakhiri. Untuk sesuatu yang takkan pernah dapat kuselesaikan. Yang telah terlanjur tercipta dengan indahnya. Yang telah bergulir terlalu jauh. Sesuatu yang aku sendiri tak tahu memiliki akhir seperti apa.

Dapatkah aku memberitahunya bahwa aku merindukannya? Dapatkah aku menyampaikan cinta tanpa harus bertatap muka? Bisakah aku menyayanginya tanpa harus menunjukannya? Hanya aku yang memahami. Hanya aku yang dapat mengerti bagaimana sebuah kata cinta bekerja dalam hidupku. Hanya aku yang dapat menjabarkannya tanpa banyak kata. Hanya aku.

Aku hanya ingin mencintainya dengan caraku yang sederhana. Aku tak pernah mengharap imbalan, tidak juga pernah berani berharap. Karena yang aku tahu cinta itu ada tanpa meminta balasan. Tanpa meminta imbalan atas perasaan yang telah kau beri secara cuma-cuma.

Menggelikan. Bagaimana bisa aku mengatakan hal yang demikian jika nyatanya aku masih tak sanggup untuk tak berharap? Masih terus menyisakan sedikit asa. Kurasa aku memang munafik. Terus saja mengatakan bahwa aku tak membutuhkan balasan atas kasih ini, namun disaat yang bersamaan juga hatiku selalu berteriak dan meminta balasan atas cintanya. Aku mengasihinya, aku mencintainya. Dan bagiku itu semua cukup untuk membuatku terus bahagia.

Harus bagaimana aku mengakhirinya? Mengenyahkannya? Bahkan dari semua ilmu pengetahuan yang telah kupelajari tak satupun yang dapat mengajariku cara untuk menghilangkan perasaan-perasaan itu. Karena memang cinta bukanlah ilmu pasti yang dapat kau cari jawabannya pada buku-buku yang bertebaran di seluruh dunia. Bukan juga ilmu eksakta yang dapat kau selesaikan dengan rumus-rumus yang ada.

Unnie…” Suara Yoona membuyarkan lamunanku. Dia tengah berdiri di depan pintu kamarku. Bahkan aku tak menyadari bahwa pintu kamarku ternyata tidak tertutup sempurna.

“Ahh.. Yoong, sejak kapan kau berdiri disana?”

“Baru saja unnie. Apa aku boleh masuk?”

Ne. masuklah.” Aku tersenyum kepadanya. Mempersilahkannya masuk. Aku beranjak dari meja riasku. Berpindah untuk duduk di atas tempat tidurku.

“Sini.” Aku menepuk kasurku. Memintanya untuk duduk di sebelahku. Tanpa banyak kata Yoona duduk disampingku.

“Sooyoung unnie meminta kita untuk datang ke pesta nanti malam.”

“Pesta? Pesta apa?”

“Pesta untuk merayakan tender yang minggu lalu kita menangkan, unnie.

“Ahh aku lupa. Ya Sooyoung juga memberitahukanku bahwa dia akan mengadakan pesta. Lalu dimanakah dia akan mengadakan pesta itu Yoong? Apa semua ikut?”

Ne. Seohyun juga akan datang bersamaku.” Ya semenjak kejadian malam itu memang keduanya mulai menjalin suatu hubungan. Dasar Yoona, sudah kukatakan sejak awal untuk mengungkapkannya.

Happy huh?” Aku bertanya padanya. Sedikit menggodanya mungkin akan membantuku untuk mengalihkan rasa rindu ini.

“Ya begitulah, unnie. Mmm… aku ingin meminta maaf padamu unnie. Jika saja saat itu aku datang lebih awal.” Muka Yoona tiba-tiba berubah muram. Dia menundukkan wajahnya. Enggan untuk tetap menatap padaku. Sudahah Yoong, semua bukan salahmu. Bukankah ini hanya bagian dari skenario yang sudah Tuhan tuliskan?

Aniyo. Sudahlah itu semua bukan salahmu, aku juga bersyukur bahwa kau datang terlambat saat itu. Dengan kau datang terlambat saat itu kau tidak perlu ikut terbunuh oleh Taeyeon dan juga aku masih dapat melihatmu sekarang. Setidaknya aku tidak kehilanganmu sama seperti aku kehilangan dia.”

“Tapi aku tahu bahwa kau sangat kehilangannya unnie. Tidakkah kau membenciku karena aku tak dapat menyelamatkan nyawa kekasihmu?”

Babo! Sudah tentu aku tidak akan menyalahkanmu Yoong. Aku memang kehilangan dia. Sudah tentu aku marah, benci, namun itu bukan denganmu. Tapi dengan diriku sendiri. Andai saja saat itu aku tidak egois dan terus mempertahankan hubungan kami. Sudah tentu sampai sekarang Jessica masih bersama kita.” Aku tersenyum tipis pada Yoona.

Aku berharap dia tidak terus-terusan menyalahkn dirinya. Karena bagaimanapun ini semua bukan salah Yoona. Tapi ini adalah murni kesalahanku dan juga Taeyeon.

Mianhae unnie.”

Plak. Kupukul kepalanya. Refleks dia kembali mengangkat kepalanya. Sebelah tangannya terangkat, mengusap kepalanya yang baru saja kupukul. Wajahnya menyiratkan kesakitan yang menurutku lucu.

Ya! Appo!Waeeeee?” Dia bertanya dengan sedikit berteriak. Menunjukkan wajah protesnya. Tak terima dengan perlakuanku barusan. Aku hanya terkikik kecil mendengarnya. Kini tanganku terulur untuk mengusap kepalanya.

“Sudah kubilang berhenti meminta maaf karena memang tidak ada yang perlu aku maafkan Yoong.”

“Tetap saja unnie aku merasa bersalah padamu.”

“Sudahlah dari pada kau terus-terusan berisik yang hanya membuat telingaku sakit lebih baik sekarang kita keluar. Wanna buy an ice cream?” Aku menaik turunkan alisku. Karena aku tahu dia tidak akan menolak jika aku mengajaknya untuk membeli ice cream kesukaanku dan juga kesukannya.

“Traktir?”

Kajja.” Tanpa pikir panjang aku langsung bangkit dan mengampit tangannya untuk segera beranjak. Kami berdua segera keluar kamar dan segera pergi keluar.

Jessica, sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu. Tak peduli sampai kapanpun. Aku akan tetap mencintaimu. Tak peduli ada atau tidaknya sosokmu kini. Sungguh aku tak peduli. Dulu, sekarang dan esok aku akan tetap mencintaimu Jessica Jung.

 

 

FIN

So how about the story? It is great isn’t it? Ini FF pertama dia dan bagi gue ini FF udah jauh di atas ekspektasi gue. Disini gue bantu sedikit untuk editing imbuhan, tanda baca, kasih judul sama ide bagaimana Yuri bisa keluar cepat dari penjara, udah itu aja. Gue udah nyuruh authornya bales-balesin komen tapi entahlah kita lihat nanti apakah dia akan bales-balesin komen para readers. Kalau kalian suka sama FF ini dan mau dia lanjut nulis, silahkan rayu-rayu dia hehe.. dia baca kok. Okay readers, tadinya gue mau nulis curhatan gue lagi disini cuma nanti deh, sama gue sebetulnya hampir menyelesaikan satu oneshot tapi malu sendiri gitu mau postnya heee. Untuk Tuesday Blues lagi berusaha gue lanjutinsih.

Oke guys, I’ll See yah!

 

Sincerely Yours

-S-

Advertisements

22 responses »

  1. Nasipnya taengsic kok jadi gini huaaaaa 😭😭 ayooo fany mana nih salahin yuri tuh kesel banget sialan yul. Kenapa yoong biasa” aja pdhl ygdilakuin yuri jelas salah 😦

  2. Saya suka sekali ceritanya,bilang sama di authornya supaya bikin ff lagi yang gendre serius kayak gini..karena biasanya cerita kayak gini nilainya tinggi…dalam dunia novel.
    Roman dan novel berbeda..he he..

  3. Huaaa taengsic’nya mati :’V yull lu psycho bgt dah,masa dikit-dikit mukul.Teganya kau thorr,buat yulsic yang sad ending :’ tapi bagus kok thorr ff’nya,jarang2 ada ff yulsic yang kaya bgni 🙂

  4. Kereeennnn, Gokilll abizzz
    Ne authorrr

    Takarannya uda pas, feel nya dapet abiz, Sumpahhh,
    Gk nyangka Yul seperti itu,

    #SameWithGodactor Gendre seriusnya dapet

    *Unjuk Jempol* .͡▹​5 jempol dehh buat authorr

  5. Aduh kenapa yuri menyeramkan banget ya thor? Ngeri juga gue bacanya wkwkwkkw. Taengsic udah mati, Yaelah yul elu kenapa jadi kek psikopat gitu dah? Miris serius baca ff ini ahahha. Ga nyala aja gitu ama yul, kirain gue dia udah mau tobat eh malah bunuh jessica sa tae astaga.

  6. sad ending,tpi d situ gregetnya gmna pnyesalan yuri dtang scara mndalam.
    Owh selamat jalan sica & taeyeon,smoga kau tenang d sna.
    Dan yul,, aku hrap kau lnjutkan hidupmu.arra..!
    Ayolakh bkin ff lagi.hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s